keluarga miskin

1182 Kata
Pov dalari "Ya sudah nanti kabarin kalau sudah berbicara sama orang tuamu" perintah pak chandra. "Terimakasih yang sebesear besarnya pak, semoga Allah membalas semua kebaikan bapak, baik didunia terutama di akhirat" doa terbaik kupanjatkan untuk pak chandra. "Kapan kamu mulang kerumah" tanya pak chandra. "Insya allah hari sabtu pak, setelah selasai pekerjaan disekolah" jawabku mengingat tanggung jawab adalah hal penting. "Semoga saja bapak kamu mengijinkan, mengingat sekolah adalah kewajiban" jelas pak chandra. "Amiinn semoga saja begitu" jawabku sambil mengakat tangan. Aku segera pamit pulang setelah merapihkan bekas goreng pisang kemudian mencucinya. ******** Hari sabtu setelah menyelesaikan pekerjaanku disekolah aku langsng menumui pak chandra untuk berpamitan hendak menumui keluarga dirumah. "Jadi pulang hari ini" tanya pak chandra menghapiriku yang sedang mencuci piring. "Insya allah pak, habis ini saya berangkat" ujarku tanpa menoleh kearahnya. "Orang tua kamu suka petay gak" tanya pak chandra. "Suka pak kenapa emang" aku balik bertanya. "Kalau suka bapak bagi dua kebetulan disini cuma bapak doang yang suka, jadi takut mubadir kamu bawa yah separu" Tawar pak chandra. "Wah terima kasih banyak, orang tua saya pasti senang" walaupun hidup dikampung kebetulan kalau pohon petay sangat langka jadi mungkin ini akan menggugah selera makan mereka. "Ya sudah yang ini bawa yah" perintah pak chandra sambil menunjukan petai yang sudah dipisahkan. "Iya pak terimaksih" jawabku sambil menoleh biar gak salah bawa. Pak chandra pergi berlalu meningalkanku yang sedang mencuci piring, setelah selasai kemudian aku merapihkan piring dirak supaya kering saat nanti mau mengunakannya lagi. Petay yang tadi ditunjuk pak chandra buat orang tuaku, aku memasukanya kedalam plastik, yang selalu tersedia ditempatnya, bu ani sangat rajin menyimpan plastik bekas, katanya biar bisa dipake lagi. "Nyuci piringnya sudah beres" tanya pak chandra yang baru keluar kamar lengkap dengan pakaian safarinya. "Iya sudah pak, saya pamit dulu" aku mendekati lalu mencium punggung tangannya. "Itu bawa asinnya lumayan buat oleh oleh orang tuamu dirumah" seperti biasa beliau selalu menitipkan oleh oleh buat orang tuaku dirumah. "Terima kasih banyak, keluargaku selalu merepotkan bapak" ujarku sambil menatap nanar kearahnya. "Enggak apa apa lagian cuma asini ini kok, jadi gak usah ngomong seperti itu" ujarnya sambil melebarkan ujung bibirnya. "Ya sudah saya berangkat sekarang" ujarku sambil membalikan badan hendak pergi meningalkannya. "Oh iya dalari ini buat kamu" pak chandra kembali memanggilku. "Apa ini pak" tanyaku sambil menatap kearah tangannya yang memegang uang pecahan lima ribu. "Ini buat kamu jajan disana" ujar pak chandra. Rasanya sangat malu karena selalu menerima kebaikannya, tapi mau bagaimana lagi aku sangat membutuhkannya. Setelah menerima uang pemberian pak chadra aku mengambil plastik hitam yang ada diatas meja ruang tamu. Ternya bukan hanya asin mungkin ada makan makan ringan yang ada diwarung, aku tak henti hentinya mengucap syukur atas semua nikmat yang diberikan. Walau hanya ikan asin tapi ini membuatku bahagia. Bahagia bisa membawakan oleh oleh buat orang tua. Aku berjalan menyusuri jalan pulang menuju rumahku. Sesampainya di rumah seperti biasa aku tidak bisa menuemukan mereka, karena keaibukanya mengurus sawah dan kebun, atau kambingnya. ya mereka meski serba kekurangan tapi mereka selalu bersemangat bekerja, karena menurut bapak yang wajib itu berusha hasilnya biarkan Allah yang menentukan. Aku menuju dapur memeriksa apa ada piring kotor, tapi ternyata tidak semuanya sudah rapi. Lalu melajutkan ke kandang kambing untuk mengecek siapa tau mereka belum mencari rumput. Tapi hasilnya sangat nihil karung dan aritnya sudah tidak ada ditempat menadakan mereka lagi mencarinya. Aku kembali lagi kerumah lalu duduk dibangku yang ada didepan. Bingung mau bantu apa atau menyesul kemana, karena bapak tidak selalu bekerja sawah atau kebunnya kadang beliau bekerja kuli ditempat lain. Sedangkan ibu kalau tidak ada kerjaan ditempat kami, setelah beres tugasnya dirumah, beliu mencari rumput buat makan kambing kalau bapak punya kerjaan lain, Mereka selalu giat berusaha meski tidak berdampak besar bagi kehidupan kami. "Baru pulang ya" tanya bi ratna yang rumahnya bersebelah didekat ku. Nenek dan kakek dari bapakku mereka mempunyai sebelas anak sehingga aku banyak saudara, bapak adalah anak ketiga meraka, walau dilahirkan dari perut yang sama tapi sikapnya ada yang berbeda, tak jarang mereka salisih paham mungkin karena kepala mereka berbeda jadi pola pikirnya juga tidak sama, "Iya bi" jawabku sambil menghampiri lalu mencium puggung tangannya. "Bapak kerja dikebun pak dadi terus ibumu tadi bibi melihatnya membawa karung sama arit entah mau ngambil rumput dimana" bibi menjelaskan kemana perginya orang tuaku solah dia tau aku sedang mencarinya. "Terimakasih bi informasinya" jawabku sambil senyum, memang kalau mencari rumput tidak pasti kemana perginya, sangat sulit kalau melacaknya. "Kamu sudah makan, kalau belum makan dulu sana" tawar bi ratna sambil menatapku. "Sudah bi tadi sebelum pulang kesini" aku menjelaskan. "Gak apa apa kan itu tadi, sekarang kan belum makan lagi" paksa bi ratna memaksa. Beliau sangat baik bahkan sewaktu kecil aku sering dititipkan sama bi ratna ketika orang tua lagi sibuk bekerja. Suami bi ratna sama seperti orang tuaku dia pekerja keraa kalau sedang dirumah dia suka jualan beras, tapi keseringannya dia merantau kekota. Jadi bi ratna sering menghabiskan waktunya dirumah mengurus kedua anaknya yang masih kecil. "Sudah bi nanti perutku bisa bisa meledak" candaku sambil senyum. "Bagus dong kalau meledak kekenyangan dari pada menciut kelaparan" bi ratna membalas candaanku. "Terima kasih bi, kalau belum aku pasti ikut makan" aku menoaknya halus. "Sudah lama ya dipondok" tanya menatapku. "Alhamdulillah sudah sepuluh bulan lebih" jawabku. "Iya sudah lumayan lama yah, maklum kalau hak ngejalanin susah untuk menghitung" balas bibi. "Iya bi siripa kemana" aku menanyakan anak keduanya yang dari tadi tidak kelihatan. "Tadi disamper temenya" jawab bi ratna menjelaskan keberdaan ripa, meski baru berumur lima tahun dia pecicilan banget gak betah dirumah. Mungkin kalau dikota orang tua tidak akan tengang ketika anak anaknya maen dirumah orang lain sendirian, tapi ini dikampung jadi hal hal terburuk tidak memungkinkan membuat orang tua akan sangat nyaman ketika anak anak maen walau jauh dari pengawasan orang tua. "Tahun ini sekolah donh bi" tanyaku lagi. "Kayanya tahun depan seolanya baru lima tahun, kasian kalau sekecil itu harus berjalan kesekolah" jawab bibi. "Iya sih coba didesa kita ada taman kanak kanak kaya dikota, jadi anak kecil itu sudah teribiasa masuk sekolah" aku memberi pendapat. "Iya jangankan TK sekolah dasar aja jauh jauh" bibi menambah pendapatnya. Trinnnnt Trinnt Triinn Klakson motor dibuyikan dari arah jalan. Terlihat mang udin datang menghampiri kita yang lagi ngobrol dibangku depan rumah bibi. "Ngapain na tumben kamu gak ngambil rumput" seperti biasa mang udin menyindir kehidupan keluargaku. "Nyari rumput buat apa kan aku gak punya domba" tanya bi ratna heran. "Ya kirain suami kerja jauh, istrinya juga nyari rumput tapi hidupnya tetap susah" ledeknya lagi. "Ya belum punya uang buat beli kambingnya" jawab bibi. "Eh ada babu sekolah disini, kapan pulang" tanya sambil menyunggingkan bibir atas. "Baru datang mang" jawabku singkat sambil mencium punggung tangannya. "Pasti orang tua kamu gak ada dirumah ya, tapi aku heran sama orang tua kamu walau kerja tiap hari tapi tetap miskin" mang udin mulai melancarkan serangan. "Ya belum waktunya aja kali din, kamu aja dulu gitu susah kalau bukan saudara saudaramu yang nolong kamu gak akan seperti ini, jadi jangan sombong" bi ratna mengingatkannya. "Iya tapi beda sama saya na, dia dari dulu selalu miskin, emang gak capek ya miskin terus" debat mang udin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN