kabar baik

1035 Kata
Pov dalari Semenjak kejadian itu, hari hariku disibukan dengan kegiatan pondok sama seperti santri pada umumnya dan paginya seperti biasa aku membersihkan sekolah, sebenarnya banyak yang kagum atas kemandirianku tapi tidak sedikit orang yang menjatuhkan mentalku, tapi aku tidak memperdulikannya karena aku tidak merugikan meraka, dan alhamdulillah uang lelah dari pak chandra mampu membantu kebutuhanku dipondok, jadi masalah biaya aku tak hawatir lagi. Meski orang tua kadang tidak memberi bekal tapi aku tetap pergi kepondok. Sore itu seusai pengajian asyar, aku berjalan menuju kerumah pak chandra soalnya kata beliau ada hal penting yang ingin dibicarakan. Sesampai dirumah aku mengucapkan salam, tak lama pak chandra membukakan pintu lalu menyuruhku masuk kerumahnya. "Sudah makan belum" seperti biasa itu yang selalu ditanyakan pak chandra ketika awal pembicaraan. Mungkin beliau tau tentang susahnya hidup dipondok, karena beliau juga dulu pas sekolah sambil mondok "Sudah pak" jawabku. "Kalau belum makan dulu, ada asin sama petay tadi pak ridwan yang ngasih" ujarnya mengoda selara makanku. "Mantap pak, emang sudah dipanen tuh petay yang dibelakang rumahnya" tanyaku. "Sudah makannya ngasih banyak, soalnya buah lebat banget, makanya makan dulu sana" jawab pak chandra. Sudah menjadi kebiasaan dikampung, kalau ada yang mempunyai makan lebih ata makanan yang aneh tetangga wajib mencicipi. "Masih kenyang pak, kalau perutnya ada dua pasti aku isi" candaku sambil senyum kepadanya. Sepuluh bulan aku bekerja disekolah membuatku lebih akrab dengan pak chandra tak jarang kalau kita ngobrol suka diiringi dengan candaan candaan ringan. Mengingat anak pak chandra masih kecil jadi dia sangat senang kalau ditemani ngobrol. "Kamu masih betah kerja disekolah" tanya pak chandra membuatku terkejut. "Betah pak malahan betah banget, kenapa mau dipecat yah" aku mengukapkan kehawatiranku. "Syukurlah kalau masih betah, enggak bapak cuma nanya aja" jawabannya membuatku lega. "Terimakasih pak kirain mau dipecat, tadinya sudah takut banget, soalnya sudah nyaman alhamdulillah berkat memberesihkan sekolah aku tidak pernahh merasa kesulitan modal untuk dipondok, sekali lagi terimakasih banyak" ucapku berkaca kaca. Tak tau kalau diberhentikan bekerja mungkin aku juga akan sama seperti anak anak lain yang ada dikampungku, pergi kejakarta untuk kerja di garmen. "Sama sama semoga seterusnya betah" ujar pak chandra sambil senyum. "Pisang gorengnya matang yah" teriak bu ani dari dapur. "Iya bawa kesini saja sekalian sama minumnya" perintah pak chandra. Keinginan majikan adalah perintah mungkin itulah pribahasa yang tepat, aku segera bangkit lalu menuju kedapur, mengambil pisang goreng dan air teh sesuai permintaan pak chandra. Kemudian kembali duduk setelah menyimpany dimeja. "Mumpung masih panas, ayo makan" tawar pak chandra sambil mengambil pisang goreng dipiring lalu memasukanya kemulut. Aku pun sama mengikuti pak chandra, rasanya sangat nikmat apa lagi didorong dengan teh panas. Tak lama ibu ani membawa satu piring lagi pisang yang baru diangkatnya, kemudian beliau duduk disamping pak chandra. "Ibu gak makan" tanya pak chandra sambil menolehnya. "Enggak pak rasanya pengap banget, sidedenya sudah makin besar" ujar buani sambil mengusap perut yang nampak membulat sempurna. "Makanya kata bapak juga jangan banyak bergerak, istrahat yang cukup biar lahiranya lancar" pak chandra mengingatkan. "Tapi kata bidan leha harus banyam gerak biar pembukaannya gampang" timpal bu ani. Aku hanya senyum mengangapi mereka, bu ani lagi hamil anak kedua makanya dengan hadirnya aku dia sangat terbantu, semenjak aku kerja disekolah bu ani tidak pernah mencuci piring. "Kapan masuk sekolahnya yah" tanya bu ani sambil mengambil pisang goreng. "Tahun ini kalau dia mau, tapi bapak juga belum nanya dianya mau atau enggak" jawab pak chandra membuatku binggung. "Kamu mau sekolah gak dal" tanya bu ani menatap wajahku. Pertanyaan yang membuatku selalu merasa sedih karena ketidak mampuanku untuku mewujudkannya. "Kenapa diam, mau gak" pak chandra memperkuat pertanyaan istrinya. "Emang kenapa pak. Saya mau sekali bersekolah karena itu cita cita sejak lama" jawabku sambil menundukan kepala. "Kalau mau nanti atau besok kamu temui mang kamas ukur badannya buat bikin seragam" perintah pak chandra. "Maksudnya bagaimana pak" aku yang masih heran dengan maksud ucapanya. "Ya kalau mau sekolah kamu harus pake seragam kan" bu ani ikut menjelaskan. "Ya saya ngerti, tapi maksudnya yang dibutuhkan buat sekolah bukan hanya seragam, masih banyak lagi kebutuhan lainnya yang tidak sedikit, mulai alat tulis, sepatu, tas, dan juga uang buat bayar spp" aku menjelaskan kekawatiranku. Pak chandra hanya senyum menatap kearahku, senyum yang tak dapat kuartikan. "Buat seragam sama spp bapak yang tanggung, buat alat tulis, serta kebutuhan lain nanti bapak bantu sedikit sedikit, sisanya kamu yang cari, bapak yakin kamu bisa" pak chandra menjelaskan dan memberi motivasi. Aku terdiam sesaat mempertimbangkan baik buruknya kalau aku sekolah, satu sisi ini kesempatan yang aku inginkan, satu sisi aku ragu dengan kemampuan tentang keuaganku, rasanya masih berat saja harus membeli perlengkapan sekolah sedakan uang dari bapak dan pak chandra hanya mampu untuk bertahan dipondok. "Bingung pak, pemikiranku gak nyampe sampai kesitu meski seragam dan spp sudah bapak tanggung tapi rasanya uangku gak akan sanggup, sedangkan bapak dirumah dari dulu bapak sudah mengat tangan kalau sekolah, membiayai dipondok saja bapak keteteran saya tidak mau membebani bapak dirumah" aku menjelaskan panjang lebar. "Ya sudah kamu coba ngobrol dulu sama bapak, minta ijin dulu, nanti kita bahas lagi" ujar pak chandra. "Terima kasih pak, atas sumua kebaikan bapak" Tak terasa air mata ini menetes rasanya sangat senang bahagia sekali, cita citaku satu langkah lagi akan terwujud. "Ya maaf bapak bukan tidak mau menanggung semuanya, tapi sebentar lagi fikri punya adek pasti kebutuhan pengeluaran bapak bertambah, tapi bapak sangat berharap kamu bisa sekolah meski dengan kekurangan tapi kalau niat sudah bulat, bapak yakin kamu bisa" motivasi pak chandra. "Iya awalnya rencana begitu, tapi kalau ada rejeki lebih nanti kita juga bantu kebutuhan laijlnya" timpal bu ani menambahkan. "Sekali lagi terimakasi pak, bu atas semua kebaikanya, saya harus berbicara dulu sama orang tua saya dirumah, mungin nanti hari sabtu saya pulang" pintaku sama mereka. "Iya memang seharusnya begitu, ijin dulu sama bapak dan ibumu, biar semua urusanya dilancarkan" ujar pak chandra. "Amiiiin" aku dan bu ani mengamini. Aku tak henti hentinya mengucap syukur sama allah, atas segala nikamat yang dikasih. "Nanti setelah pulang kamu kabarin bapak ya" perintah pak chandra. "Iya saya akan mengabari apapun keputusannya setelah ngobrol sama keluarga" ujar yang masih ragu tentang keputusan orangtuaku. Aku tetap harus meminta ijan sama bapak dirumah, karena aku masih jadi tanggung jawab mereka. Jadi semua kegiatan baik atau buruk yang aku lakukan mereka ikut bertanggung jawab.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN