Pov dalari.
Melihat bang fahmi hendak menampar fatimah, aku dengan sigap menangkap tanganya. Fatimah terus memancing bang fahmi dengan menantang untuk menamparnya. Aku heran kenapa jadi seperti ini mereka seperti kehilangan jati dirinya.
"Kamu tuh yang ngerasa sok cantik, padahal baru masuk belagunya minta ampun" balas bang fahmi dengan mata menyala.
"Sudah bang sabar jangan diteruskan, mending abang tarik napas lalu baca istigfar" saranku mengingatkan bang fahmi yang sudah berada dipuncak kemarahannya.
"Apaan cemen kamu, masa laki laki gak bisa mengedalikan emosi" cemooh fatimah terus mengompori.
"Diam kamu naila, jangan memancing terus" bentakku yang mulai kesal dengan kelakuan fatimah.
Dia membulatkan mata kearahku terlihat dadanya naik turun seolah hendak melomapat dari tubuhnya.
"Oh oh sekarang maennya keroyokan, oke siapa takut ayo sekarang dua duanya maju sekaligus biar mudah menghajarnuaya" ujar fatimah sambil bertolak pinggang. Matanya yang merah memacarkan aura seram.
"Astagfirullah" aku melihat fatimah seolah ada yang menunggangi jiwanya.
Bulu kundukku seketika berdiri membayangkan kejadian terburuk yang menimapa fatimah.
"Kenapa dia dal" ujar bang fahmi yang emosinya mulai mereda.
"Kurang tau bang sepertinya ini bukan asli fatimah apa janngan jangan" aku mengehtikan ucapanku.
"Jangan ngawur kamu masa kesurupan pagi pagi" sanggah bang fahmi.
"Kenapa kalian malah berdiri disitu ayo maju kalau kalian merasa laki laki" fatimah dengan lantang menantang kita.
"Fatimah istigfar kamu gak boleh seperti itu, aku minta maaf kalau aku tadi kelewat batas" bujuk bang fahmi pelan.
"Iya istigfar naila ini bukan kamu yang sesungguhnya" timpalku mengingatkan.
Dia hanya senyum menyeringai memperlihatkan barisan gigi putih yang rapih.
"Bagaimana nih bang kayanya benar dia kesurupan" tanyaku sama bang fahmi.
"Apa iya ada orang keserupan pagi pagi, biasanya kan sore atau malam" bang fahmi ragu.
"Udah jangan banyak berdebat bang lakuin sesuatu" tukasku mengingatkan.
Meski ragu bang fahmi mulai menadahkan kedua telapak tanganya keatas lalu mulutnya melapalkan doa doa pengusir setan. Terdengar jeritan fatimah seperti orang yang kesakitan. Tapi itu itu tidak lama fatimah mulai tertawa lagi seperti semula.
"Hanya ini kah kemampuanmu boc4h t3ngik" ujar fatimah meledek.
"Astagfirullah, jinnya sangat kuat tidak heran dia bisa masuk pagi pagi" ujar bang fahmi yang wajahnya mulai panik.
"Terus bagamana ini bang" aku yang sama paniknya seperti bang fahmi, takut fatimah berbuat macam macam mana keadan sekolah jauh dari rumah warga.
"Kamu ambil buku pelajaran agama diperpustakaan siapa tau ada tulisan ayat sucinya" perintah bang fahmi.
Aku segera bergrgas masuk keruang guru kebetulan perpustakaannya berada disana, tak susah untuk mencarinya karena disetiap rak ada tulisan nama buku pelajaranya. Aku mengambil buku pelajaran agama lalu kembali menemui mereka yang masih berdiri.
"Ada" tanya bang fahmi cepat.
"Ada bang" aku menyerahkan buku pelajaran agama.
Bang fahmi mengambil buku yang kuberikan lalu membukanya. Ketika ada tulisan arabnya dia menghadapkan kearah fatimah.
"Enyalah kau jin terkutuk tempatmu bukan disini" usir bang fahmi
Yang diusir cuma menaikan sebelah bibirnya menghina kami.
"Gak mempan bang" ujarku yang tidak melihat reaksi apapun dari diri fatimah.
"Apa kita panggil pak chandara saja, takut fatimah semakin parah, katanya kalau orang kesurupan dibiarkan bisa tambah parah bahkan bisa jadi ganguan jiwa karena akan makin banyak jin yang merasuki tubuhnya" saran bang fahmi.
"Jangan dulu bang nanti jadi masalah lagi. Kita coba siram pake air saja" saranku.
"Emang yakin bisa berhasil" tanya bang fahmi ragu.
"Coba saja dulu bang nanti juga kalau tidak berhasil bisa kelihatan, intung itung eksperimen saja jarang jarang kan kita punya bahan" usulku sambil mendekati ember berisi air pel.
"Tapi nanti kalau dia sadar terus dia tau bajunya basah nanti kita semakin repot lagi" bang fahmi mengingatkan.
"Kalau orang kesurupan kan dia gak sadar bang, nanti kita bilang saja dia nyemplung sendiri keember" jawabku enteng.
Menurut beberapa orang katanya kalau lagi kesurupan roh halusnya tidak ada didalam tubuhnya jadi fatimah gak akan sadar siapa yang menyiramnya.
"Ya sudah kita coba aja" ungkap bang fahmi pasrah.
Aku mengangkat ember berisi ari kotor itu lalu bersiap siap untuk menyiramkannya kepada fatimah.
"Udah udah aku tidak keserupan, yang benar saja aku mau disram air kotor" pinta fatimah mengagetkanku. Seketika menghentikanku yang hendak menyiramnya.
"Hah kamu pura pura ya" tanya bang fahmi kesal.
"Iya lah lagian mana ada jin yang berkeliaran jam segini, yang ada meraka masih ngantuk selepas bergadang semalam" tegas fatimah terukir senyum puas diwajahnya setelah berhasil membuat kita panik
"Astagfirullah kamu kebangatan naila hampir jantungku mau copot" gerutuku sambil menatap kesal kepadanya.
"Iya iya aku minta maaf udah yah mau nyimpen tas dulu kekelas" ujar fatimah tanpa beban. Seraya pergi meningalkan kita yang masih geleng geleng kepala.
"Kak fahmi hiyah hiyah" fatimah menoleh bang fahmi sambil memperagakan gerakan bang fahmi ketika mengusir jin yang tadi.
Tak lama dia keluar dari kelas lalu mengambil sapu hendak melaksankan tugasnya tanpa memperdulikan kita yang masi kebingungan.
"Oya kak fahmi aku sudah maafin kok asal jangan diulangi lagi, aku tau kak fahmi minta maaf karena takut aku adukan kan sama kak lisna, tenang saja kak aku bukan orang seperti itu tapi ada saratnya" ujar fatimah menghentikan perkataannya.
"Apa saratnya" tanya bang fahmi penasaran.
"Aku yang nyapu kak fahmi yang mengepel, soalnya takut keburu anak anak yang lain pada datang, nanti susah mengepelnya" pintanya sabil terus menyapu.
"Tapi fat" sanggah bang fahmi.
"Engak ada tapi tapi, mau ngepel atau mau aku aduin sama kak lisna" ancamnya cuek tapi penuh penekanan.
"Iya iya" jawab bang fahmi pasrah, kemudian dia meminta ember yang masih aku pegang sedari tadi, untuk mengganti airnya dengan air yang baru.
Setelah selasai dengan tugas masing masing kami berkumpul kembali didepan ruangan guru, untuk menghilangkan rasa letih selepas bekerja.
"Mau gorengan" tawar fatimah sambil membuka toples berisi makanan. Kemudian mendekatkan kearah kami
Aku dan bang fahmi saling menatap, rasanya masih sangat kesal mengingat kejadian barusan.
"Kenapa pada diam masih marah ya, ya sudah aku minta maaf" ujar fatimah mengiba.
"Oke tapi jangan diulangi lagi ya, jangan bikin panik orang" jawab bang fahmi yang masih menyimpan kekesalan.
"Iya lagian jadi orang sensi amat sih, baru diledek begitu saja langsung marah" ujar fatimah yang sedang mengunyah gorengannya.
"Ya sudah jangan diperpanjang lagi, nanti kambuh" jegalku menghetikan supaya suasana tidak kembali tegang.
"Ya kak, jangan diambil hati ya, aku sudah maafin kok, aku senang banyak yang menyukai tapi hati ini hanya untuk seseorang" jelas fatimah.
"Emang kamu sudah punya pacar" tanya bang fahmi peasaran.
"Belum tapi aku nunggu dia sadar saja, lagian kita masih kecil jadi belum pantas untuk membahas hal yang begituan, kita harus fokus belajar supaya kita punya ilmu untuk menjalani kehidupan" ceramah fatimah
Fatimah sangat dewasa mungkin benar kalau perempuan itu kedewasaanya tidak memandang umur.
"Syukurlah kalau begitu aku doakan kamu sukses" doa bang fahmi untuk fatimah.
"Satu lagi bang, maaf bukan mengurui tapi ini sangat penting, kalau ada orang yang sayang tulus sama kita maka kewajiban kita menjaganya, dan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankannya, jodoh atau tidak itu urusanNya. Yang terpenting berusaha untuk tetap bersama" nasihat fatimah untuk bang fahmi.
"Terimakasih atas nasihatnya" balas bang fahmi terlihat tatapanya penuh kekaguman.
Terlihat siswa siswi mulai berdatangan untuk belejar disekolah. Mendakan waktu sudah siang akupun pamit untuk merapihkan pekakas kerja lalu dilanjutkan sarapan dirumah pak chandra.