Pov dalari
Pagi itu setelah menyelesaikan pekerjaanku disekolah fatimah menghampiriku. Seperti biasa dia menawarkan minuman dan makanan ringan yang dibawanya dari rumah.
"Pak pos saya nitip surat balasan yang kemarin pak pos kirim" pantanya sambil memberiku dua surat.
"Wah sebanyak ini kah perasaanmu sama bang fahmi sampai sampai kamu membalasanya dengan dua surat" tanya sambil menatapnya.
"Baca dulu sebelu bertanya" serunya menatapku dengan kesal.
Aku menurutinya ternyata diluar kertas itu ada alamatnya, yang satu tertulis dengan nama fahmi, dan satunya lagu tertulis namaku, aku menatapnya heran buat apa dia mengirim surat terhadapku.
"Iya itu buak kamu, baca yah kalau sepat balas kalau gak sempat kebangetan amat" ungkapnya.
Setelah semua beres aku ijin pamit untuk kembali kepondok, tak lupa sebelum pulang aku mampir kerumah pak chandra untuk mengisi perut. Sesampai dipondok anak santri sudah pada siap siap dengan setelan kerja.
"Mau pada kemana kang" tanyaku sambil menghampiri mereka.
"Mau nyari kayu bakar buat abah" jawab kang didin.
"Ya sudah saya ganti baju dulu yah kang" pintaku sambil bergegas masuk pondok untuk ganti baju.
Tak lama aku keluar kang didin terlihat masih menunggu. Akhirnya kita berangkat menuju hutan disebelah barat pondok yang berangkat mencari kayu bakar semuanya ada empat belas santri.
Sesampai di hutan kita terpisah menjadi beberapa kelompok, supaya memudahkan pencarian kayu bakar, setiap kelompok terdiri dari dua orang. Dan pasanganku yaitu kang didin.
Kita berdua mencari ranting kayu yang kering baik yang sudah jatuh atau yang masih menempel dibatang pohon dengat cara memanjatnya, atau dengan cara dikait pake tongkat, kalau rantingnya sudah kering akan mudah untuk menariknya.
Aku dan kang didin bergantian memanjat pohon, suapaya tidak terlalu capek, setalah ranting pohon jatuh, ranting itu dipotong berukarn satu meter agar mudah nanti dibawanya.
Adanya hutan didesa kami ini jadi tulang punggung kehidupan dalam hal memasak, bahkan buka cuma kayu bakar sebagian hutan ada yang ditanami palawija biar tanahnya tetap produktif meski hutan ini sebagian besat hutan kayu, ini adalah bentuk simbiosis mutualisme, hutan butuh perawatan dan manusia butuh hutan.
Kita mengambil kayu bakar hanya untuk kebutuhan pribadi bukan untuk komersil, lagian kita hanya memanfaatkan ranting yang sudah mati.
Setelah dirasa cukup aku dan kang didin bergegas mencari tali bambu untuk mengikat kayu supaya mudah untuk dibawa.
Kang didin yang senior menebang satu pohon bambu yang masih muda agar mudah dibuat tali. Setelah pohon tumbang kang dididn memotong bambu berukuran empat meter, lalu membelahnya menjadi dua bagian, kemudian belahannya diperkecil anatara dua sampai tiga CM, setelah jadi belah kecil kecil kang didin mengambil beberapa belahan yang tidak ada matanya atau tunas ranting bambu, karena kalau ada matanya maka talinya akan putus, belahan bambu dibelah lagi berbentuk anyaman suapanya mudah mengikatkannya.
"Kalau belahan mulai tipis maka yang tebal diberdirikan" ujar kang didin memberi arahan.
"Biar apa kang" tanyaku penasaran.
"Biar tali gak rusak dan belahanya bisa sampai keujung, jadi tali yang dihasilakan nanti akan tetap panjang" jelasnya sambil terus manarik belahan bambu.
Setelah selasai membuat tali aku dan kang didin bermain sebentar, biasanya kalau dihutan banyak pohon marasi yang rasanya kalau udah matang sangat manis dan kelebihan buahnya itu kalau kita makan terus minum air, maka air yang kita minum akan ikut terasa manis.
Sebenarnya ada satu lagi pohon yang bentuknya sama seperti tanaman marisi cuma yang mebedakanya pohonya lebih besar, orang orang didesa menamakan pohon congkok meski tidak manis tapi tetap bisa dimakan. Buanyanya juga lebih gede gede dan banyak, beda sama marasi yang cenderung buahnya sangat sedikit. Dan langka karena banyak orang yang mengambilnya ketika menemukannya.
Setelah dirasa puas aku dan kang didin duduk di akar akar kayu yang menonjol agar pakaian kita terlindungi dari kotornya tanah.
"Mau renang gak" tanya kang didin sambil menatapa kearah ku.
"Renang dimana emang dihutan ada sungai" tanyaku heran
"Iya dihutan emang tidak ada sungai tapi adanya danau, mau gak kalau mau ayo kita turun kelembah" ajak kang didin sambil bangkit.
Aku yang penasaran mengikutinya menuruni lembah. Sesampainya dilembah terlihat genangan air yang sangat luas membentuk kolam, airnya sangat jernih sampai dasar danau terlihat dengan jelas.
"Indah sekali kang" gumamku sambil terus memperhatikan danau.
"Iya ini namanya rawa ucing, konon disini adalah pembuangan kucing kucing jadi dinamakan rawa ucing" kang didin menjelaskan sejarah danau yang indah ini.
Rawa dalam bahasa kampung kami adalah danau, ketika berhubungan dengan sawah rawa itu adalah sawah yang lumpurnya dalam.
Kang didin membuka baju menyisakan celana selutut, kemudian
Byuuuuuuurrr
Kang didin loncat kedanau terus dia mengerkan kaki dan tanganya untuk tetap tertahan dipermkaaan air.
"Ayo loncat" ajaknya.
"Takut tengelam kang itu dalam sekali" jawabku merinding.
"Engga nanti aku ajarin cara berenang" ajak kang didin sambil bereng ketepi.
Aku yang sebenernya tertarik ikut membuka baju agar nanti pulang pakainku tidak semua basah. Kemudian aku turun kedanau.
"Kakinya gerak gerakin terus tanganya juga, kalau mau maju badanya dorong kedepan lalu kaki jadi pendorongnya" ajar kang didin
Awalnya emang sangat susah tapi setelah beberapa kali aku mencoba akhirnua bisa juga, gaya ini kalau diamati, seperti 4njin9 yang sedang berenang. Makin lama maka seru juga akhirnya meberanikan diri ketengah danau.
"Jangan panik terus gerakin" perintah kang didin.
Aku menurutinya menikmati setiap gerakan yang ada, sesekali mencoba gaya gaya pernah aku lihat dibuku penjas waktu sekolah dasar.
Byuuuurrrrr.
Ada yang jatuh dari pohon yang condong ke danau aku dan kang didin kaget, kita serentak melihat kerah datanya suara. Ternyata itu kang arul, kang agung, adnAn dan alfian. Mereka baru datang langsung loncat sambil teriak kencang.
Akhirnya danau pun rame oleh santri santri yang baru selesai mencari kayu bakar.
"Parah kalian gak ngajak ngajak" celetuk kang adnan yang siap mau lompat.
"Kirain masih nyari kayu bakar" jawab kang didin yanh hendak ikut naik kepohon.
Kami pun melanjutkan acara renang kami sesekali diikuti lomba paling cepat, paling lama menahan napas diair.
Setelah puas bermain denag air kami pun naik ketepian suagai lalu merapihkan baju kami. Kami tak hentinya tertawa menikmati kebahagian bisa renang gratis dialam.
Kami kembali ketempat masing masing dimana kami mengumpulkan kayu bakar, sesampainya disana kang didin membuat patok dari ranting kayu, lalu menyusun kayu bakar ditenganya tak lupa alasnya diberi tali.
Ditengah tumpukan kayu dikasih pohon untuk ponopan supaya mudah saat dipingul.
"Kok gak diikat semua bang" tanyaku sambil menatap sebagian kayu bakar yang tidak diikat.
"Buat pasak ikata tali kalu pake tenaga doang gak akan kuat makanya dibutuhkan pasak untuk mengecangkanya, ayo bantu agar kayu bakarnya berdiri" ajak kang didin sambil memegang ujung alat pingul sebelah kanan. Dan aku memengag alat pangul sebelah kiri. Setelah dikasih komando kita berbarangna mengakta kayu bakar supaya berdiri.
Setelah berdiri kang didin masukan pasak denga kayu sisa tadi. Akhirnya kayu bakarpun siap diangkut, dengan topangan di kedua sisinya.
Tak lama rombongan pun berkumpul setelah dicek tidak ada yang terlewat maka kami pun berangkat dengan memikul kayu bakar di pundak pundak kami.
Masalah datang ketika baju kami basah maka jalan yang kita lalui jadi licin, tak jarang kami jatuh tapi kami tetap tertawa apa lagi jatuh kesawah pakaian penuh dengan lumpur menabah gelak tawa.
Tak ada rasa letih ataupun mengeluh yang ada kita sangat bahagia karena yang dilakukan dengan ikhlas dan bersama.