tukang pos

1195 Kata
Pov fatimah Sepeninggalnya dalari aku kembali kekelas, teman teman udah menunggu disana dengan senyum. "Kenapa kamu jahilin dalari sih aku gak rela yah kalau dia dijahatin" seloroh isni yang tiba tiba menghampiriku. "Parah banget kamu fat, masa begitu sih" tambah fitri menimapali. "Kalau kamu engga suka ya jauhin dia, jangan sampai menyusahkanya" ujar isni mengingatkan. "dianya jadi orang aneh banget kadang cuek kadang baik aku heran aja makanya aku jahilin, yang lebih anehnya lagi aku jahilin dianya gak marah, tapi malah pak chandra yang marah ngasih hukuman pula" jelasku kemeraka berdua. "Kamu lagi mencari perhatian yah, supaya kamu bisa deket sama dia" tanya isni menatap tajam menubus jantungku. "Eeeee emmmmm ennggak iya engak" jawabku gugup. Aku juga heran kenapa aku bisa sejahat itu sama dia, masa iya sih mencari perhatian. Kalau mencari perhatian buat apa aku pengen diperhatiin dia, kalau dia perhatiin dia juga aku gak ada untungnya. Bingung ada apa dengan diriku, yang tak bisa terkendali saat dia cuek denganku, entalah perasaan apa ini aku juga tak tau, susah untuk dijelaskan. "Ngomong aja gak apa apa kita bisa jaga rahasia" ucap fitri sambil mengedipkan sebelah matanya. "Ihhhh apaan sih kalian ya sudah pergi sana aku mau nulis hukumun dulu nanti pak chandar lebih marah lagi" usirku pada mereka. "Kalau gak jawab berarti iya " ledek isni sambil cengengesan. "Udah pergii" usirku lagi sambil mendorong tubuh mereka. Setelah tak ada yang mengganggu aku buka tas lalu mengabil alat tulis untuk mengerjakan hukuman awalku. ****** Ke esokan paginya pukul 05:45 aku sudah rapi memakai seragam untuk pergi kesekolah. "Tumben jam segini sudah rapih" tanya ibu yang heran melihat anaknya sudah siap berangkat kesekolah. "Ada tugas dari sekolah bu, harus berangkat pagi pagi" jawabku menjelaskan. "Ya sudah kamu sarapan dulu, tadi ibu sudah bikin dadarnya diwajan" perintah ibu. Sarapan dikampung lebih tepatnya makan pagi, soalnya yang dimakan tidak ada bedanya dengan apa yang dimakan waktu siang, dan kalau bukan nasi itu tidak bisa disebut sarapan meski porsiny jauh melebihi nasi. Aku menuruti pernitah ibu lalu duduk dikarpet, untuk menikamti sarapan pagi ini. "ibu tadi bikin pisang goreng bawa yah kesekolah biar nanti kamu gak kelaparan" tawar ibu sambil memasukan pisang kekotak makan. Aku hanya mengangguk tanda setuju, meski sering dibilang anak mami tapi aku sangat senang kalau dibekali, soalnya kalau lapar orang lain gak ngerasaain. "Aku berangkat ya ibu, assalamualaikum" ujarku setelah semuanya beres. "Waalaikumsalam, emng gak kepagian berangkat jam segini" tanya ibu sambil mengulurakan tangan untuk aku cium punggung tangannya dengan pipiku. "Engga kok nanti juga disana banyak temenanya" jawabku sambil membalikan badan pergi meninggalkan ibu. Aku berjalan menyelusuri jalan desa, membelah kabut pagi, diiringi kicawan burung yang sedang berjumur mengeringkan sayapnya. Sinar matahari menorobos masuk melilaui sela sela pohon yang rindang. Disebelah kiri jalan terlihat hamparan sawah yang masih hijau membentang bagai permadani. Sehabis melawati sawah terlihat sungai yang airnya selalu kuning keamasan dihiasi batuan batuan besar membuat pagi ini semakin indah, ditambah sebentar lagi aku akan ketemu sama orang yang selalu hadir dalam mimpi indahku. Aku mempercepat langkahku tak sabar ingin bertemu denganya. "Asalamualaikum" ucapku sambil senyum kepada seseorang yang sedang merapihkan ruang para guru. "Waalaikumsalam, baru datang yah. Istrihat dulu pasti kamu capek" ujarnya sangat lembut membuat telingaku ketagihan untuk mendengarnya. "Iya aku mau menaruh tas dulu biar gak ribet" jawabku yang langsung memasuki ruangan kelas yang sudah terbuka. Kemudian aku mengambil sapu lalu memberesihkan teras sekolah dilanjutkan mengepelnya. Dalari tidak bisa membantuku soalnya dihalaman banyak sampah yang berserakan. Setelah semua beres aku duduk dibangku yang ada diteras ruang guru, sambil menikmati air yang aku bawa dari rumah, rasanya sangat segar apalagi habis mengeluarkan keringat. Tak lama dalari menghapiriku sambil membawa sapu lidi ditangan kanannya. "Terimakasih udah meringankan pekerjaanku. Maaf yah aku gak bisa bantuin soalnya pekerjaanku lagi banyak" ujar dalari mengukapan penyelasnya. "Engak apa apa ini kan sekarang sudah menjadi tanggung jawabku" ucap sambil memandang pria kecil nan gagah itu. "Syukurlah kalau kamu tidak marah" ungkap dia sambil merapihkan alat alat pekerjaanya. "Oh iya kamu mau pisang goreng gak tapi sudah gak panas tapi lumayan buat pengganjal perut" tawarku sambil membukakan tempat makan yang diisi pisang goreng "Terimakasih" ujar sambil mengambil satu pisang goreng. Sesaat setelah menelan kunyahananya. "Aku ada titipan surat" ujarnya sambil mengluarkan keretas yang dilipet. "Surat dari siapa, padahal kamu bisa ngomong lansung gak usah maen surat suratan" ucapku sambil senyum. "Dari bang fahmi" jawabnya sambil memberikan suratnya. Aku kaget dan langsung menukuk muka, kenapa bukan dia saja sih yang bikin surat buatku, pasti aku akan senang menerimanya. Kenapa dia gak peka sama aku malah dia gk kelihatan kecewa aku ada yang mendekati. "Surat apaan sih gak jelas banget" dengusku kesal. Kemudian aku ambil suratnya. "Gak taulah aku hanya tukang pos, dan itu bukan kewenangan saya untuk mengetahui isinya tugas saya hanya mengantarkan" ujarnya sambil beranjak pergi meningalkanku yang masih terbakar emosi. "Eh kamu jangan maen pergi saja urusan kita belum selesai" teriakku memangilnya. Dia tak bergeming dengan teriakanku aku segara berlari menghampirinya tapi dia udah kabur duluan menuju rumah pak chandra. Akhirnya aku bisa berdiri mentap hilangnya dalari dibelokan jalan. "Kenapa dia harus nyebelin banget sih" gerutuku sambil masuk kekelas tak lupa aku merapihkan makananku dan membawanya. Tak lama anak sekolah satu persatu datang dan masuk kekelas. Dan pelajaran peratamapun dimulai, aku yang kurang fokus memikirkan surat sehingga pelajaran tak ada yag masuk sama sekali. Pukul 10:00 bel istrihatpun berbunyi, isni dan fitri mengajak kukantin tapi aku menolaknya karena masih kesel sama yang namanya fahmi, nanti kalau kekantin aku takut ketemu kak fahmi bisa bisa dia kegeeran lagi. "Kenapa kamu gak jajan" tanya ratna yang baru pulang dari kantin membawa bungkusan plastik berisi jajanan. "Gak apa lagi males ja na" jawabku singkat. "Kamu gak bawa uang yah, nih pake dulu uang aku kapan kapan kamu ganti" tawarnya sambil mengeluarkan uang dua ribu rupih. Uang segitu jaman aku MTs sangat besar mengingat harga gorengan saja cuma dua ratus perak. "Terimakasih na aku bawa uang kok cuma lagi males saja lagian aku masih punya pisang goreng bekal dari ibu" jawabku sambil mengeluarkan tempat makan dan botol air minum. "Oh ya sudah kita makan ini saja bareng bareng, kalau boleh tau kenapa malas kekantin" ujarnya merasa heran "Takut ketemu kak fahmi" jawabku lirih "Takut kenapa, emang kamu punya salah yah sama dia" tanya ratna menyelidiki. "Engga dia ngirim surat tapi gak tau surat apa aku malas membacanya" ujarku sambil mengmbil minum. "Kenapa takut sama kak fahmi, orang orang pada suka sama dia secara dia anaknya baik, pinter, santri, ketua osis lagi" ungkap ratna menyesalkan. "Iya sih tapi walau begitu aku gak suka yah mau bagaimana lagi namanya hati tidak bisa dipaksa lagian kan dia udah punya pacar namanya kak lisna, temen ngaji bareng dimasjid" aku menjelaskan permasalahannya. "Masa iya sih kok aku gak tau" ungkap ratna. "Ya gak tau lah lagian kita baru masuk MTs, kalu aku bisa tau karna kak lisna sahabat aku dirumah, dia sering bercerita bahkan dia rela menungu sampai bang fahmi selesai memngejar cita citanya" ucapku sambil menatap kearah ratna. "Yah kalau begitu bingung juga" ujar ratna sambil garuk garuk kerudung putihnya. "Yah maka dari itu aku tidak mau ketemu sama bang fahmi takut salah faham meski aku tidak menyukainya" ujarku sambil mengabil makanan yang diberikan ratna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN