16

1219 Kata
It's a beautiful life I'll stay by your side It's a beautiful life I'll stand right behind you Sebulan sudah Kevan dan Kian tinggal bersama. Rasanya dunia ini hanya milik berdua. Perhatian yang Kian berikan setiap hari, nyatanya mampu membuat Kevan merasa jatuh lebih dalam ke pelukan Kian. "Ki, aku buatin omle-...." kata-kata Kevan terhenti saat melihat Kian yang sedang memegangi kepalanya. Kian nampak kesakitan. "Ki..? kamu kenapa Ki?" Kevan panik. Kian semakin erat memegang kepalanya. Rasanya benar-benar seperti mau pecah. Ini sudah beberapa minggu, Kian selalu merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan obat penahan rasa sakit yang diberikan Viery, tidak mampu menahannya lagi. "Aarghhh..." Kian mengerang menahan sakit. "Van, a-ambilin obat aku di laci." Kevan yang masih panik segera berlari ke kamar dan membuka laci tanpa sabar. Dia sudah tidak peduli jika kamarnya akan berantakan. "Ki, bangun Ki." Kevan membawa segelas air minum dan obat-obatan milik Kian. Kian langsung meminumnya. Sementara sakitnya mereda. Kevan memapah Kian ke ruang tengah. "Kamu duduk di sini Ki." Kevan mendudukan Kian, lalu mengusap peluh yang menetas di dahi Kian. "Kamu kenapa?" Kevan khawatir. Raut wajahnya masih tidak tenang. Kian memejamkan matanya, rasanya benar-benar luar biasa sakit. Ia harus segera menemui Viery. "Hari ini kamu gak usah ke kantor dulu, Ki." Kevan memberi saran. "Hmmm, aku mau istirahat." Kian melangkah ke kamar. Meninggalkan Kevan yang masih duduk di ruang tengah. Akhir-akhir ini Kevan merasa ada yang Kian sembunyikan, terkadang saat malam Kian bisa tiba-tiba bangun dan mengerang kesakitan. Awalnya Kevan mengira itu hanya sakit kepala biasa namun, itu terlalu sering terjadi. **** "Udah berapa kali kamu kayak gini?" Viery duduk di kursinya setelah memeriksa Kian. Kian hari ini datang ke rumah sakit tempat Viery praktek. "Seminggu ini, hampir tiap malem gue rasaain sakit yang luar biasa di kepala Vie." "Jawab jujur Vie, gue masih punya waktu gak?" Viery bukan Tuhan. Viery tidak bisa memutuskan. Ia hanya seorang dokter. "Saran gue, lu harus di rawat di rumah sakit. Seenggaknya lu bisa dapet perawatan yang lebih baik." Kian tidak mau, untuk apa dirinya dirawat? Toh ujungnya  dia akan mati kan? "Itu bukan solusi, itu cuma bakal bikin dia khawatir dan semakin menderita." "Seenggaknya kamu bisa lebih baik, Ki. Lagi pula Sampai kapan kamu mau sembunyiin ini dari dia?" Kian belum siap, tidak, Kian bukan belom siap tapi Kian tidak siap. Ia masih takut untuk membayangkan bagaimana hancurnya hati Kevan jika ia pergi. Ia terlalu mencintai Kevan, bahkan melebihi dirinya sendiri. "Sampai gue siap." Viery sabar namun, ini ini sudah batas kesabarannya. Bagaimana jika terlambat? Bagaimana jika Kian.... arghh sudahlah, Viery tidak ingin membayangkan kemungkinan terburuk. Ia tahu, sebagai dokter tugasnya hanya mengobati pasein. Hidup dan mati semuanya ada di tangan Tuhan. Kian berlalu dari ruangan Viery. Di kepalanya penuh dengan pertanyaan. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Kian tidak ingin memberitahu Kevan. Kian tidak ingin membuat Kevan bersedih. "Maafin gue, kalo gue pergi duluan." Hanya kalimat itu yang Kian siapkan. Pukul 10 malam Kian baru sampai di apartemennya. Seharian ini Kian benar-benar menghindari Kevan. Ia benar-benar tidak menjawab telfon mau pun pesan yang masuk dari Kevan. Hatinya masih terlalu bimbang. Kian berjalan menuju ruang tengah, di lihatnya Kevan, yang sedang tertidur di kursi dengan ponsel di genggamannya. Kian merasa kecewa pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia membuat orang yang sangat berarti dalam hidupnya menjadi seperti ini. Kian melangkah maju, menatap lekat wajah Kian. "Maafin aku," Kian berujar lirih. Kevan mengerjapkan matanya, ia merasakn sedikit sentuhan di kepalanya. "Ki?" Kevan bangun, lalu mengecek ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam. "Kamu baru pulang?" Kian beranjak dari duduknya, "iya, pindah ke kamar. " Kian menjawab dingin. "Kamu mau makan? Aku bisa angetin makanan dulu." "Aku udah makan." Kian meninggalkan Kevan, dan bergegas ke kamar mandi. "Maaf, Van." Lagi-lagi, hanya kata maaf yang Kian ucapkan. "Kamu harus masuk rumah sakit Kian. Kamu harus menjalani berbagai macam pengobatan." Kian teringat kata-kata Viery . Ia hrus dirawat berarti ia harus pergi dari rumah ini. Menjauh dari Kevan. Mungkin meninggalkan Kevan dan membiarkannya kembali dengan Dion akan membuat Kian tenang jika harus segera pergi. Bagaimanapun Kian ingin Kevan bahagia, kian tidak ingin jika saat ia pergi nanti Kevan menangisinya. * * * * Seminggu berlalu keadaan benar-benar berubah, penyakit Kian semakin kerap kambuh. Selain itu Kian semakin gencar menghindar dari Kevan. Pertengkaran sering terjadi, Kian sengaja mencari gara-gara. Satu tujuannya agar Kevan menjauhinya. "Ki? Kenapa kamu pulang malem terus?" Kevan ingin tahu alasannya apa. Kian masih diam menatap layar tv di depannya. "Ki?" Kian beranjak dan membanting remote tv di meja. "Aku sibuk. Kalo kamu gak suka, kamu bisa pergi dari rumah ini." Kevan tersentak, apa maksudnya? Kenapa ia diusir? "Ki? Aku cuma nanya, aku khawatir sama kamu." "Kamu terlalu cerewet." Kian melangkah meninggalkan Kevan. Membanting pintu kamar. Apa salah Kevan? Kenapa jadi begini? Kevan mengetuk pintu kamar. Namun tak ada jawaban. Kevan duduk di ruang makan, menggenggam erat jemarinya. Masih menunggu Kian yang belum keluar dari kamar. Ini sudah pukul sebelas malam. Bel apartemen berbunyi, siapa yang bertamu malam-malam begini? Kevan bergegas membukakan pintu. Dilihatnya seorang lelaki berwajah oriental, dengan mata yang begitu sipit. Sepertinya Kevan pernah melihat orang ini. "Cari siapa?" "Kian, lu Kevan kan?" "I-iya, kamu?" "Viery, Christian Viery." Aaah, teman Kian saat Kian berkuliah di Australia. "Masuk." Kevan memberi jalan untuk masuk. Kevan mengantar Viery masuk ke dalam. "Dia di dalam. Aku panggilin sebentar." Viery hanya mengangguk, ini kali pertamanya ia bertemu Kevan. Dari dulu ia hanya mendengar nama Kevan, Kevan, dan Kevan dari mulut Kian. Kevan mengetuk pintu kamar, memberitahu jika ada Viery. Tak ada sahutan, Kevan kembali menemui Viery. "Tunggu, mungkin dia udah istirahat." Viery dan Kevan saling mengobrol. Tak lama, suara pintu kamar  terdengar terbuka. Kian keluar dengan pakaian yang sudah rapih. Koper kecil sudah ia seret, Kian siap pergi. "Ki?" Kevan beranjak dari duduknya, mendekat ke arah Kian. "Apa yang kamu lakuin?" Kevan panik. "Kamu mau kemana?" Kian memalingkan pandangannya. Sungguh ia tidak ingin melihat Kevan menangis. Hatinya akan kalah jika melihat derai air mata Kevan. "Kamu mau kemana, Ki? Jawab aku Ki!" Kian masih diam, tidak bergeming. "Ini!" Kevan memperlihatkan jemarinya yang dihiasi cincin pemberian Kian. "Lihat ini! Apa artinya ini semua? Kita udah janji Ki buat bareng terus. Kamu gak bisa lakuin ini." Kevan menangis. Viery merasa canggung sekali,kenapa sahabatnya ini melibatkan dirinya dalam situasi seperti ini. Kalau tahu begini ia tidak akan pernah mau untuk datang ke apartemen Kian. Kian melepas genggaman Kevan di lengannya. "Sorry. Gue udah gak sanggup buat jalanin ini semua. Gue gak bisa main-main lagi." Kian menarik kopernya. "Ayo Vi," Viery mengangguk dan mengikuti langkah Kian. Kevan tidak terima, ia berjalan menyusul Kian dan Vyeri. "Aku mohon jangan tinggalin aku, bilang Ki kalo aku punya salah." Kevan memeluk Kian dari belakang. "Aku mohon...." kevan sudah menangis. Rasanya hancur hati Kian, namun ini yang terbaik. Kian tidak bisa bertahan lagi,ia takut jika rasa kehilangan yang Kevan rasakan akan jauh lebih besar dari ini jika ia mati nanti. Kian melepas pelukkan Kevan. "Sorry, gue udah gak sanggup. Dari dulu gue cuman mainin lu." Rasanya lemas, lutut Kevan seperti tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Jadi apa yang mereka lakukan selama ini? Main-main? Kian melangkah berlalu bersama Viery. Kevan masih menatap punggung Kian yang semakin menjauh, melewati lorong apartemen. "Kenapa ini semua bisa terjadi? Kenapa semua orang yang dekat sama aku akhirnya pergi?" Kevan bergumam. Hatinya hancur. Apa sebenarnya salah Kevan. Tbc.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN