17

1098 Kata
Bahkan jika ujung hatiku sakit seperti ini, Bahkan jika ujung tanganku gemetar seperti ini. Aku masih tak bisa melupakanmu, Seseorang yang kurindukan seperti orang gila. Aku mencintaimu, mencintaimu. Dimana kau? -Missing You Like Crazy- Apa itu kehancuran? Sebuah perasaan saat kau merasa sendiri? Atau saat perasaanmu tak bisa merasakan bahagia lagi? Atau saat seseorang yang kau cintai pergi meninggalkanmu begitu saja? Mungkin itu yang saat ini sedang Kevan rasakan. Setelah perpisahannya dengan Kian hari itu, Kevan menjadi pendiam bahkan lebih dari sebelumnya. Kevan sama sekali kehilangan Kian. Tak ada kabar dari Kian. Kian bak hilang di telan gulungan ombak lautan. Kevan masih di sana, diam menatapi setiap sudut ruangan yang dulu pernah dihiasi dengan  romansa cintanya bersama Kian. Kevan menekuk lututnya, memeluk erat tubuhnya sendiri. Matanya beralih  menatap senyum Kian, dalam bingkai foto yang tersimpan. Kevan merindukan Kian, meski ia kecewa.  Kecewa karena Kian meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Kevan menggigit bibir bawahnya, meremas bajunya menahan sesak yang ia rasakan karena sakit hati. Semua terasa dingin, bahkan lebih dingin dari bulan Januari saat rintikan hujan mengguyur bumi tiada henti hingga basah. "Aku kangen kamu, Ki. Aku kangen kamu." Air mata itu turun, seperti tetesan hujan yang tak bisa ditahan. Meluncur dengan semaunya. Ini terlalu sulit bagi Kevan. Harus berapa lama Kevan menunggu? berapa malam lagi yang harus Kevan habiskan agar bisa melihat Kian? Bertemu Kian lagi? Waktu yang berubah? Atau Kian yang berubah? Atau mungkin Kevan sendiri yang berubah? Kevan benar-benar benci semua ini. Waktu yang tak kunjung berlalu. Kevan benci pada Kian, yang meninggalkannya sendiri. Tapi Kevan tidak bernah berhenti memikirkan Kian, bahkan sehari pun itu. Hatinya masih selalu merindukan Kian. Merindukan setiap sentuhan yang selalu Kian berikan. Merindukan tatapan hangat Kian. Merindukan setiap senyum yang terurai dari bibir Kian. Merindukan setiap ucapan kata Cinta yang mampu membuat Kevan merasa dihargai dan dimiliki, membuat Kevan mengerti akan artinya saling melengkapi. Saat kau ditinggikan oleh cinta, saat kau berarti karena cinta, saat kau menjadi dirimu sendiri karena cinta, saat kau bahagia karena cinta. Dan saat itu pula kau dijatuhkan oleh cinta. Itulah cinta, rasa yang membuatmu tertawa, menangis, dan hampa. Kian terbaring lemah di rumah sakit. Selang oksigen di hidungnya, jarum infus tertancap di punggung lengan kirinya. Matanya terpejam, wajahnya terlihat damai. Sudah tiga hari Kian tidak sadar, Kian koma. Setelah berpisah dengan Kevan, Kian tinggal bersama orang tuanya. Dan penyakitnya kian parah. Yang terakhir kali, mengharuskan Kian dirawat di Rumah sakit. "Kapan Kian sadar, Vie?" Helena-ibu Kian- menatap sedih anaknya. Bagaimana bisa anaknya seperti ini? Terbaring lemah dengan segala macam peralatan medis. Viery menatap sayu, ia bahkan pesimis. Ia tidak bisa berkata-kata, ia takut omongannya hanya akan menjadi bualan, bahkan ketidakpastian. Namun ia seorang dokter, yang harus memberi semangat pada pasien dan keluarga pasiennya. "Berdoa, semoga ada keajaiban. Beberapa hari ini kondisi Kian sedikit membaik. Semoga dalam waktu dekat dia bisa sadar." Helena menghapus air matanya. Mengelus pelan pipi Kian yang pucat. "Kenapa harus begini nak?" Helena menangis, kembali menangis. Viery menatap iba. Ia sendiri tidak pernah menyangka kalau sahabatnya akan secepat ini terbaring lemah dan tak sadarkan diri. "Tante?...." Helena menoleh. "Apa gak sebaiknya kita kasih tau Kevan?" "Tapi... " "Bagaimanapun Kevan adalah orang yang Kian cintai, saya yakin Kevan akan lebih hancur dan kecewa jika semuanya terlambat." Helena nampak berpikir. "Tapi Vie.." "Tante, Viery yakin Kevan bakal nerima keadaan Kian." Helena pasrah, ia pun tidak tega membiarkan Kevan tidak mengetahui keadaan Kian. Tapi Kian tidak ingin Kevan tahu. Kian ingin Kevan hidup bahagia tanpa harus tahu apa yang Kian alami. "Kian tidak mau Kevan tahu Vie... tante harus menjaga ini dari Kevan." Viery kesal, kenapa harus seperti ini? Bukankah ini hanya akan saling menyakiti? Lalu bagaimana Kevan, jika ia tahu kalau kekasihnya ada diantara hidup dan mati. * * * * * Viery melangkah tergesa, suara sepatunya beradu kencang dengan lantai di lorong apartemen. Kemarin Kian kritis, bisa saja hari ini Kian meninggal. Dan Kevan? Kevan sama sekali tidak tahu. Viery tidak tahan lagi, rasanya ia bertanggung jawab atas ini semua. Ia harus memberitahu Kevan, bagaimanapun Kevan berhak tahu. Viery menghembuskan nafasnya perlahan. Ia sudah berdiri di depan pintu apartemen Kian. Jemarinya menekan tombol, memberi tanda pada penghuni apartemen bahwa ada seseoang di luar apartemennya. Dua kali Viery menekan tombol bel, belum ada jawaban. Viery khawatir, apa mungkin terjadi sesuatu? Atau Kevan sudah pindah? Viery hendak berbalik, namun suara pintu terbuka. Tampak Kevan dengan keadaan yang luar biasa di luar dugaan Viery. Viery dan Kevan sudah duduk di ruang tengah. Kevan menatap jendela besar yang tertutup korden. Kevan benar-benar seperti mayat hidup. "Van?" Viery memanggil. Kevan masih diam dengan tatapan yang masih menatap ke arah jendela. "Gue tahu ini gak mudah, tapi ....." "Gue gak pernah nyangka semuanya jadi gini...." kevan terdiam, Viery terdiam. "Kenapa dia harus pergi, saat gue udah jatuh dalam banget buat dia. Disaat gue ngerasa kalau dia yang terbaik buat gue...." "Van..." "Gue tahu, hubungan antara dua orang lelaki gak akan pernah berhasil. Seenggaknya beri gue penjelasan, mungkin gue lebih bisa ngerelain."  Kevan mengahpus air matanya. "Bahkan sekarang gue kangen banget sama dia. Gue yang terlalu bodoh, gue gak bisa benci sama dia." Viery hanya menatap iba,  dirinya lelaki tapi tidak bodoh seperti Kevan. Apa sedahsyat itu kah cinta? Membutakan manusia? Mengalahkan segala logika? "Gue bahkan gak tahu dimana dia sekarang, gue gak tahu apa yang dia lakuin. Mungkin dia bakal ngetawain gue kalo dia lihat keadaan gue sekarang. Dulu dia orang pertama yang bakal ngehapus air mata gue. Dia orang pertama yang bakal maki gue, karena gue jadi cowok yang lemah. Sekarang? Dia bahkan gak peduli sama gue." Bukan, bukan tidak peduli. Andai, kevan tahu. Kian terbaring di rumah sakit. Viery hanya membatin sendiri. "Ikut gue!" Viery menarik lengan Kevan. Membawanya keluar dari apartemennya. Viery sudah tidak tahan. Ini bukan cinta, ini bukan cara menyelamatkan kebahagian orang yang kita cinta. Ini cara membunuh perlahan-lahan pasangan kita. Apa yang kian lakukan salah. * * * * Kevan menatap nanar dari balik pintu ruangan ICU. Seseorang yang ia rindukan terbaring lemah di sana. "Dia divonis meningitis. Tiga bulan yang lalu, saat  dia baru wisuda. Lu tahu gimana hancurnya Kian, Van?" "Dia depresi, bahkan berniat buat gak balik lagi ke sini. Tapi satu alasan yang buat dia bertahan, elo! Elo, Van. Dia berobat, berusaha. Seenggaknya sampai dia bisa ketemu sama lo." "Bagi Kian, elo hidupnya. Elo segalanya. Elo yang selalu ada di pikiran Kian." "Dan puncaknya kemarin, dia kambuh sampai gak sadarkan diri." Kevan menangis. Kenapa ia tidak pernah tahu kalau Kian sakit. Betapa egoisnya Kevan, yang selalu berharap untuk di bahagiakan tanpa tahu bagaimana keadaan Kian. "Maafin aku, Ki. Maafin aku." Tbc.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN