19

1788 Kata
Aku tak bisa melindungimu bahkan, Mencintaimu.... Inilah cerita hatiku yang menyakitkan, -Turtle- Sudah dua hari Kian sadar, bahkan Kian sudah memgobrol banyak. Rasanya dunia Kevan kembali. Semua kesedihannya sirna, terbalaskan oleh waktu dua hari yang mampu membalikkan keadaannya. "Gue mau lepasin Kevan." "Cukup Kiandre!" Viery menyangkal, tentu saja. Apa yang akan Kian lakukan sekarang? Setelah dia sadar, dia menjadi semakin aneh. "Lo cinta, dan masih cinta. Bohong kalo lo bilang lo udah gak cinta sama dia dan lo mau lepasin dia. " Viery terbawa emosi. "Gue udah lupa, gue bahkan udah lupa rasanya jatuh cinta." "Jangan bicara lagi... ok? Percuma lo ngomong gitu, Itu semua gak akan bisa ngerubah kenyataan. Kalo lo masih cinta dan sayang sama Kevan." Viery bangun dari duduknya. "Gimana bisa gue terlibat dalam hubungan lo. Status gue cuma teman lo, gue gak berhak buat campurin hubungan kalian berdua." "Hubungan cinta itu tercipta dari dua hati. Dan lo tahu bahkan lo paham, mungkin sebentar lagi hati gue ah-" Kian tersenyum kecut, "bukan hati tapi raga gue pun gak bakalan ada dalam cerita cinta ini. Gue cuma bakal jadi kenangan." "Cukup Kiandre! jangan jadikan semua ini alasan. Lo gak tahu gimana dia saat lihat lo terbaring di ranjang. Setiap hari dia nangis, setiap hari dia tanya kapan lo bangun. Gue gak tahu, gimana hancurnya hati dia." Viery memijit pelan pelipisnya. Rasanya susah sekali untuk menang jika berdebat dengan Kian. "See? Bahkan disaat gue gak sadar pun gue bisa nyakitin dia. Gue mau lepasin dia, gue gak mau jadi beban buat dia." Kian menatap Viery. "Dan lo! gue tahu lo suka sama dia!" Viery terperanjat, ia melotot kearah Kian. Apa yang Kian sedang coba lakukan? Apa maksudnya? "Lo pikir gue gak pernah tahu? Selama di Australia, lo diem-diem perhatiin dia." Viery menatap layar laptop Kian yang masih menyala, di sana terpampang wajah manis Kevan. Senyum Kevan yang begitu menawan, dengan lesung pipi di pipi kanannya. "Beruntungya elo Ian," viery bergumam. Entah sudah berapa kali, Viery diam-diam menatap foto Kevan. Viery diam, lidahnya kelu. Ia mengingat semuanya, saat diam-diam menatap wajah Kevan. Ia tidak bisa menyangkal apa pun. "Lo itu kenyataan Vie, kenyataan yang bakal bisa hidup dan jagain dia." Kian masih menatap tajam ke arah Viery. "Sedangkan gue, gue cuma bakal jadi abu, abu yang bakal terbang kebawa angin dan mungkin bakal jadi kenangan." "Tapi gue gak pernah punya niat buat gantiin posisi elo." Viery membela diri. "Dan gue, gue gak pernah mikir buat nyimpen kenangan tentang elo. Gue gak punya keberanian buat ngehadepin itu." Viery mengepalkan tangannya. "Gue serahin dia ke elo sekarang, tapi lihat, lo gak berani buat milikin dia. Kenapa lo berani cinta sama dia di belakang gue? Dan sekarang lo bilang lo gak berani buat gantiin posisi gue. Lo mau mainin dia?" Kian semakin gencar, ia ingin melepas semuanya. Setidaknya Kevan punya seseorang, yang tidak akan mungkin menyakitinya. Dan membuat Kevan bahagia. "Lo gak berhak ngehakimin gue. Lo gak pernah tahu gimana rasa suka gue ke dia. Lo enggak tahu apa-apa!" Kian tersenyum, dia berhasil memancing Viery. "Heh? Sekarang lo bilang gitu, barusan lo bilang lo gak berani. Lo mau lepasin dia gitu aja? Lo mau dia nangis hanya karna gue?!" Kian menghembuskan nafas kasar. "Sekarang lu cuma perlu waktu, dan sialnya gue gak punya waktu." "Ian..." Viery melunak. "Anggap ini sebagai permohonan terakhir orang yang akan mati." Viery menoleh, apa maksudnya? Viery bingung. "Apa yang bakal lo lakuin kalo lo di posisi gue?" Viery balik bertanya. Kian tersenyum mengejek. "I wish, I could be You. I wish ...Vie." Viery hanya diam, benar tentu saja Kian akan ingin di posisinya. Bisa hidup mencintai Kevan dan melindungi Kevan. Viery berbalik meninggalkan Kian, ia tidak bersuara lagi. Ia tidak ingin berdebat dengan Kian. Percuma, dirinya akan kalah. Tanpa mereka berdua sadari seseorang sedang berdiri di depan pintu. Ia mendengar semuanya, dari awal hingga akhir . Kevan, Kevan mendengar semua ucapan Kian dan Viery. Kevan segera berbalik, ia meninggalkan tempatnya berdiri saat melihat Viery hendak keluar. Namun sayang kaki Kevan kalah cepat dengan tatapan Viery. Viery menatap lekat mata Kevan, menemukan rasa sakit yang mungkin jauh lebih dalam dari sebelumnya. Viery kelu, ia hanya diam tanpa tahu harus berkata apa. Kevan perlahan berbalik, berjalan meninggalkan tempatnya. Sakit rasanya, saat kau mencintai seseorang lalu orang itu tidak menginginkanmu sama sekali. Kenapa semua harus berakhir seperti ini? Sesulit inikah mencintai seseorang? Kevan terus berjalan, entah sudah seperti apa dia. Matanya sembab, Kevan selalu saja menangis karena cinta. Kenapa harus selalu sakit? Itu yang menjadi pertanyaan Kevan. Kevan berhenti di taman rumah sakit. Ia duduk di bangku. Tangannya di kedua sisi, menunduk, menatapi kakinya. Matanya berair, sampai pandangannya mengabur. Menangis. Hanya itu yang dilakukan Kevan. Perkataan Kian barusan masih terngiang di kepalanya. Ter-eja satu persatu, begitu jelas. Apa selama ini menurut Kian semuanya hanya permainan? Lalu kenapa Kian sebegitu kuatnya mempertahankan Kevan? Kenapa Kian harus melakukan itu jika akhirnya, dirinya juga menyakiti Kevan? Kevan kecewa. Drrrrrtt....drrrrrttt Ponsel Kevan bergetar, Kevan masih setia menunduk, memainkan kakinya. Hatinya benar-benar sedang runyam. Drrrrrrttt...drrrrttt... Kevan mengambil ponsel di dalam sakunya, Viery, nama Viery tertera di layar ponsel Kevan. Kevan tidak ingin mengangkatnya, tapi tangannya terlalu cepat untuk menggeser tombol hijau dilayar ponselnya. Kevan meletakkan ponsel di telinganya. "Ha-halo?" Suara Kevan masih terdengar sangau. "Lu dimana?" "Kenapa?" Kevan balik bertanya. "Kian, Kian kambuh. Sekarang dia masuk ICU lagi!" Kevan tercekat, ia segera berlari masuk ke dalam rumah sakit. Ia sudah tidak perduli menabrak siapa pun. Suara sepatu Kevan berdecit di lantai lorong rumah sakit. Tidak, Kevan tidak akan kehilangan Kian lagi. Bagaimanapun ia akan tetap memperthankan Kian, meski Kian ingin Kevan pergi dari hidupnya. Sekarang yang harus Kevan lakukan adalah selalu di samping Kian. Bersama Kian. "Gih--hh mhanah?" Kevan mengatur nafas, Tante helena dan Viery sudah di depan ruang ICU. Viery hanya menatap Kevan, sedang Helena sudah menangis tersedu. Kevan melangkah mendekati Helena. Memeluk helena. "Kian, Van.... Kian." Helena menangis tersedu di pelukkan Kevan. "Tante...." Kevan rasanya sudah tidak bisa berkata-kata. Dokter keluar dari ruang ICU, Viery segera menghampiri sang dokter. Mereka berbicara sebentar. Ekspresi Viery nampak tak puas. Viery berjalan lesu kearah Kevan dan Helena. "Keadaan Kian udah stabil." Hanya itu yang diucapkan Viery. Helena dan Kevan saling berpandangan. Mereka lega. Kian sudah melewati masa kritisnya. "Tante bisa masuk, tapi Kian belom sadar." Viery melanjutkan. Helena hanya mengangguk, rasanya lututnya sudah lemas. Bagaimana jika terus seperti ini? Mungkin dia harus menyiapkan hatinya. * * * * Kevan, Helena dan Viery sudah berdiri di samping ranjang Kian. Dion dan orang tua Kevan juga ada di situ. Kian baru saja dipindahkan ke kamar rawatnya. Kian masih memejamkan matanya. Dia belum sadar setelah dari ruang ICU. Kelopak mata Kian bergerak, perlahan ia membuka matanya. Menangkap cahaya yang masuk, menatap ke sekeliling. Kevan, Viery, Dion, orangtua Kevan, dan ibunya. Pandangan Kian kembali menatap Kevan yang menunduk, Kevan sedang menangis. Air matanya tidak berhenti mengalir. Dion melangkah menghampiri Kian. Rasanya Kian ingin tertawa, bagaimana mengenaskannya dirinya saat ini. "Lo sahabat gue," Dion sedikit menonjok lengan Kian. "Dan lo musuh gue." Dion tersenyum menatap Kian. Kian hanya tertawa miris. Dion berbalik meninggalkan ruangan. Dia berhenti sejenak, menatap Kevan lalu menepuk pundaknya. Kevan bergeming. Kevan masih menunduk. Kini giliran orang tua Kevan yang menghampiri Kian. Mereka sudah menganggap Kian sebagai anak mereka sendiri. Terlebih setelah Kian meminta Kevan untuk tinggal bersamanya. Ibu Kevan mendekati Kian, mengusap pundak Kian. Kian hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Kian nampak terlihat pucat. Lingkaran hitam dibawah matanya terlihat jelas. Bibirnya yang dulu merah merona, kini terlihat pucat pasi. Pipinya terlihat lebih tirus. Ibunda Kevan memeluk Kian, beliau menangis. "Tante, maafin Kian." Kian berkata disela pelukannya. Ibunda Kevan masih tetap menangis. "Maafin Kian, Kian gak bisa jaga Kevan. Kian udah nyakitin Kevan." Ibunda Kevan mengusap wajah Kian. Lalu mengecup kepala Kian. Air matanya masih mengalir di pipi. "Kamu pasti kuat, kamu pasti bisa bertahan." Kian mengangguk. Ibunda Kevan meninggalkan kamar rawat Kian. Kini hanya tinggal Helena, Viery dan Kian. "Mah?" Kian memanggil ibunya. Helena menghampiri Kian, duduk di tepi ranjang Kian. "Kenapa mamah nangis?" Kian mengusap air mata Helena. Helana masih tersedu, dadanya naik turun. Ia belum menjawab pertanyaan Kian. "Kenapa mamah nangis? Mamah itu ibu Kian, kalo mamah nangis siapa yang bakal kuatin Kian?" Kian meneteskan air matanya. Helena makin tersedu. Ia memeluk Kian erat. Menangis sepuasnya. Rasa bersalah, rasa takut kehilangan, semuanya ada daam hatinya. Kenapa ini semua harus terjadi pada Kian? Kenapa ia harus menyaksikan kematian anaknya sendiri? "Cukup, mamah gak usah nangis." Kian mengusap kedua belah pipi milik ibunya. "Kian kuat, makasih mamah udah besarin Kian, makasih mamah udah kasih Kian kehidupan. Makasih, karena mamah udah mau terima Kian apa adanya. Mamah adalah ibu terhebat buat Kian." Kian tersenyum lalu mencium pipi ibunya. Helene mengusap air mata Kian, ia tahu bagaimana hancurnya Kian dulu saat di vonis mengidap penyakit ini. Kevan semakin tersedu, rasanya ia ingin lari dari tempat itu. Kian beralih menatap Kevan, memberi isyarat pada Kevan untuk mendekat. Kevan berjalan perlahan memghampiri Kian. Ia duduk di tepian ranjang. "Sini..." Kian memanggilnya untuk mendekat. Kevan tersenyum. Kian menggenggam tangan Kevan. Kevan menatap sedih ke arah Kian, tangan Kevan gemetar, terulur mengusap pipi Kian. "Kamu mau aku pergi dari kamu?" Kevan tersedu. "Bahkan Kamu mau ninggalin seseorang buat aku, setelah kamu pergi." Kian meneteskan air matanya. "Kamu gak mau aku terluka, kamu gak mau lihat aku sedih. Sebegitu cintanya kah kamu Ki sama aku? Kenapa kamu begitu mencintai aku Ki? Kenapa?" Kevan menangis dipelukan Kian. "Aku udah gak cinta sama kamu, Van. aku udah gak bisa cinta sama kamu. Aku udah gak bisa mencintai siapa-siapa. Karena aku cuma bakal jadi kenangan. Kenangan Van." Kian mendekap Kevan erat, mereka berdua menangis. Bagaimana bisa takdir mempermainkan mereka hingga seperti ini. Seperti inikah akhir sebuah cinta terlarang? Sesakit inikah akhirnya? Kian menjauhkan Kevan, menatap wajah Kevan. Kian menyentuh lesung pipi Kevan. Kevan masih menangis tersedu, menghapus air matanya di pipi. "Aku baru nyadar, sekarang pipi kamu tirus." Kian menekan lesung pipi Kevan. Kevan menatap wajah pucat Kian, Kevan rasanya tidak tega. Ia semakin menangis. Kemana Kiannya yang dulu? Kian yang selalu serius, Kian yang selalu memanjakannya dengan segala hal tentang cinta. Kevan menangis, Kevan tidak tahan. Kevan berlari meninggalkan Ruangan Kian. Kaki Kevan lemas. Kevan jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Ia menutup mulutnya, menahan tangisnya. "Ian..." "Hemm..." Kian sedikit tersenyum. "Gue harap lo bisa bahagiain dia. Anggap ini permintaan terakhir gue sebagai seorang sahabat." Kian menjabat jemari Viery. "Gue mohon, lo harus janji sama gue, lindungin dia, jangan pernah sakitin dia. Dia laki-laki yang selalu kalah oleh cinta." "Ian..." "Gue mohon, gue mohon." Kian memejamkan matanya. "Gue udah gak kuat," Kian bergumam. "Gue janji Ian." Viery meraskan sesak yang luar biasa di dadanya. Kenapa semua ini harus terjadi. Kevan menatap Kian dari balik kaca pintu, matanya terus mengeluarkan air mata. Menangisi Kian. Menangisi orang yang dia kasihi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN