13

890 Kata
"Aku mencoba sebisa mungkin, meyakinkan hatiku bahwa apa yang aku curigai itu salah. Tapi sayangnya rasa curigaku ini memaksaku untuk selalu berpikir bahwa kamu bukanlah untukku. Kebahagianmu bukan bersamaku tapi bersamanya yang selalu membawamu dalam masalah. Dia yang selalu datang dengan segala masalahnya, dan membuatmu kembali terluka. Mungkin cinta itu bahagia saat kau terluka, dan terluka saat kau bahagia."              Apa yang paling diharapkan dari sebuah hubungan jarak jauh? Pertemuan, ya! Saling melepas rindu setelah lama tepisah oleh ruang dan waktu. Menikmati setiap hal yang tidak bisa dilakukan layaknya pasangan yang lain.          Pun, dengan Kian. Setahun yang lalu, terakhir kali Kian bertemu dengan kekasihnya, Kevan. Ia bisa mengambil cuti dari kuliahnya di luar negri meski hanya satu bulan, tidak cukup memang tadi itu bisa mengobati rasa rindunya pada Kevan. Tiga tahun ini Kevan menemani Kian, meski mereka harus terpisah. Cinta Kian nyatanya semakin hari semakin bertambah, apa pun yang ia lakukan meski jauh dari Kevan akan selalu Kian laporkan, begitu pun sebaliknya dengan Kevan.        Kepercayaan adalah kunci dalam sebuah hubungan, tapi Kian sepertinya belum terlalu percaya. Kian selalu meminta tolong pada Alexa, saudaranya untuk selalu mengawasi Kevan. Bukan Kian berlebihan, Kian hanya tidak ingin sesuatu terjadi dan Kevan tidak bercerita.    "Jadi, Alexa mengirimmu informasi apalagi?" Viery bersuara, jika Kian sudah diam di ruang belajarnya maka sesuatu sudah terjadi. Christian Viery adalah tetangga apartemen Kian, dua tahun lebih tua dari Kian. Namun wajahnya terlihat lebih imut. Dia seorang dokter. Mereka saling berteman karena mereka sama-sama dari Indonesia.       "Kenapa lo selalu penasaran sama urusan gue, Vie?" Kian tidak suka jika privasinya sudah diganggu, bukan karena sombong tapi jujur Kian tidak mau mendengar prasangka orang lain, jika melihat apa yang sekarang Kian lihat di layar laptopnya. Foto Kevan yang tersenyum ceria bersama teman-temannya dan beberapa foto pribadi Kevan lainnya yang hanya pantas Kian saksikan sendiri. Kian tidak suka jika kekasihnya diadili oleh orang lain, cantik atay tampan itu relatif, tapi terkadang bukan hanya itu yang mereka nilai, cukup dengan wajah saja mulut mereka sudah sanggup untuk berbicara ke ranah pribadi, bahkan kenal saja tidak.         Viery sudah faham sifat Kian, makanya Viery tidak pernah memaksa. Kalau Kian mau bercerita, saat itu Viery akan segera mendengarkan. Viery tahu kalau Kian punya kekasih lelaki, dulu Viery pernah melihat Kian tidur sembari menggenggam sebuah bingkai foto, dengan foto seorang anak SMA yang terlihat imut dan ceria sedang dirangkul Kian. Anak laki-laki itu tampak bahagia bahkan dari tatapannya saja bisa Viery artikan kalau Kevan dan Kian saling mencintai, saling melengkapi satu sama lain. Apalagi kalau Kian sudha bercerita tentang kekasihnya itu, maka Viery akan tersenyum, membayangkan tingkah Kevan dengan imajinasinya sendiri karena Viery sama sekali belum pernah bertemu dengan Kevan.    "Minggu depan gue udah balik ke Jakarta." Viery memang sudah mendapat tempat bekerja di salah satu rumahsakit di Jakarta, setelah setahun ia magang , ia ingin kembali ke negara asalnya jakarta.        Kian juga sudah menyelesaikan study-nya, hanya saja dia belum ingin kembali ke Jakarta. Kian masih memikirkan kejadian setahun ini, bagaimana tawa Kevan di foto yang Alexa kirimkan pada Kian. Kian takut, meski kini Kevan di genggamannya, tapi perasaan orang siapa yang tahu. "Gue belom mau balik, Vie." Kevan mencoba jujur, ia masih ingin menikmati cinta jarak jauhnya.     "Pengecut, lo mau dia diambil lagi sama orang yang dulu pernah nyakitin dia?" Viery memanasi, "seenggaknya elo punya posisi yang lebih dari mantannya itu."     "Gue yakin di hatinya masih ada dia, gak sepenuhnya buat gue." Kian ragu, entah sudah keberapa kalinya Kian merasakan hal ini. Kadang Kian ingin menyerah, tapi cintanya masih terlalu besar.       "Gimana lo bisa yakinin dia, kalo lo aja masih ragu sama perasaan, lo sendiri!" Viery kesal, rasanya ia ingin sekali memaki Kian.  "Bukannya lo udah bahagia sama dia? Itu cuma pikiran negatif lo aja soal dia,  Ki. Kasihan kalau lo curiga terus padahal mungkin aja kan sama sekali dia gak ada niatan buat balik lagi sama mantannya yang dulu itu. Kesannya jadi lo yang mojok-mojokin dia dan malah ngingetin dia soal mantannya. Fokuslah sama posisi lo sekarang ini."      Semuanya seperti dulu, saat Kevan mengejar Dion dan Kian di samping Kevan. Sekarang posisinya terbalik, Viery yang ada di samping Kian dan Kian yang mati-matian mempertahankan Kevan. Sampai Kian harus mengawasi Kevan tanpa sepengetahuan Kevan. Mungkin Kevan akan marah saat tahu kalau Kian mengawasinya, bukankah Kevan akan merasa tidak dipercayai? Tapi begitulah Kian, selalu mengantisipasi apa yang akan terjadi di kemudian hari. Kian pemikir, logika yang Kian pakai dalam bermain cinta, jika sakit hati bisa dicegah lalu mengapa ia harus repot merasakan sakit hati?         "Pulang, gue yakin nyokap lo juga khawatir." Viery sayang, sayang pada Kian.         "Gak usah bawa-bawa nyokap. Gue masih nyaman dengan kedaan kayak gini."            Viery kalah, lebih tepatnya mengalah. Viery tidak mau berdebat. Kian itu punya prinsip. Semua yang Kian lakukan sudah diperhitungkan. Jadi Viery tidak perlu khawatir. "Terserah deh, gue balik aja kalo gitu. Jangan lupa minum obat lo! Gue gak mau lihat lo kumat tengah malem." Hanya itu yang bisa Viery lakukan untuk Kian, itu pun karena Viery merasa bertanggungjawab pada kesehatan Kian.                             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN