Happy Reading....
*Begin Again*by Taylor Swift
Apakah semua akan terulang lagi sekarang? Kevan berharap takdir tidak akan mempermainkannya lagi. Cukup dulu, ya dulu. Mungkin pertemuannya dengan Dion sekarang adalah sebuah ketidaksengajaan yang tidak akan berlanjut.
Mereka berdua duduk di sebuah kafe. Kevan memesan mocca latte kesukaannya dan Dion dengan Americano ice coffee.
"Apa kabar Van?"tanya Dion membuka percakapan. Tidak banyak yang berubah dari Kevan selama 8 bulan ini. Semuanya sama hanya Kevan terlihat lebih dewasa.
"Aku baik. Kamu sendiri?" Setenang mungkin Kevan menjawab pertanyaan Dion.
"Kamu bisa lihat kan aku baik-baik aja." Dion tersenyum kearah Kevan. Dan Kevan membalas senyum Dion. Seketika semua penyesalan Dion muncul dalam hatinya, kenapa ia tidak pernah sadar sejak dulu jika mantan kekasihnya ini punya senyum yang manis yang mungkin bisa menenangkan hatinya saat gundah. "Gimana kuliah kamu?" Lanjut Dion.
"Lancar, kamu sendiri?" Tanya Kevan balik.
Dion baru sadar sekarang, Kevan sedari tadi menjaga jarak darinya. Kevan sangat berhati-hati, ia tahu alasan Kevan melakukan itu. "Lancar, oh iya gimana kabar Kian?"
Kevan tersneyum lagi, "Dia sekarang di luar negri."
Dion membulatkan mulutnya dan mengangguk, kemudian meneguk es kopinya menenangkan pikirannya sebentar.
Mereka larut dalam obrolan, sesekali mereka tertawa mengingat masa sekolah mereka. Tapi sekalipun Kevan tidak mengungkit tentang kisah cintanya, saat Dion mencoba memancing segera mungkin Kevan mengalihkannya.
Sesekali Dion tertawa terbahak seperti anak kecil, Kevan kira itu aneh dan lucu karena Dion dulu tidak pernah melakukannya.
Kevan kembali mengingat semua hal setelah perpisahannya dengan Dion, selama delapan bulan itu ia habiskan dengan berpikir, berpikir tentang semua hal yang sudah di lakukan oleh Dion hanya sakit, putus asa dan perpisahan tapi saat ini, sore ini Kevan melihatnya lagi, melihat sebuah perasaan yang mulai lagi.
Dion mulai bercerita, ia bilang jika dia tidak bisa menemukan pengganti Kevan, tidak ada yang sepertinya. Dion tidak tahu yang di lakukannya itu membuat Kevan sedikit malu. Tapi Kevan tahu kenapa.
"Udah sore, aku mesti pulang." Ujar Kevan sembari beranjak dari duduknya.
"Aku anterin kamu pulang!"
Kevan ingin menolak namun Dion memaksa. Kevan akhirnya menyetujui ajakan Dion.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju palkiran sesekali bercanda.
Sepanjang perjalanan mereka berdua bercerita hal-hal yang tidak penting.
Begitu sampai di depan rumah Kevan tidak langsung turun, Dion menahannya sebentar.
"Van....?" Panggil Dion perlahan.
Kevan bergumam tanpa menoleh ke arah Dion.
"Aku seneng kita ketemu lagi. Jujur aku nyeselin semua kejadian yang terjadi di antara kita. Enggak tau kenapa aku selalu ke inget sama kejadian malam itu, dan itu ngebuat aku selalu ngerasa salah. Andai aku bisa balik lagi ke waktu itu, aku bakal perbaikin semua!-" Dion menghela nafas sejenak. "Aku tahu kamu kasih semua hati kamu ke aku, tapi apa yang aku lakuin? Aku malah balas kamu dengan perpisahan."
"Di.." panggil Kevan.
Dion menoleh dan menggenggam jemari Kevan. "Aku datang ke kamu dengan semua rasa penyesalan ini, sekarang aku ada di depan kamu, aku mau bilang sorry, maafin aku atas kejadian waktu, semua kebebasan yang aku dapet itu gak ada artinya kalo hati aku masih ngerasa kangen sama kamu. Mungkin ini keinginanku yang bodoh. Aku pingin, Kalo masih bisa aku pingin kita balikkan. Tolong kamu kasih aku kesempatan. Aku janji aku bakal cintain kamu seutuhnya."
Kevan menarik tangannya, melepas genggaman Dion.
"Itu semua cuma penyesalan kamu Di. Mungkin aku masih nyimpen semua kenangan kita dulu, tapi itu dulu dan gak akan pernah bisa kembali lagi. Maaf!" Kevan keluar dari mobil Dion dan bergegas masuk ke rumahnya.
Tidak, Kevan tidak akan mengulang semuanya ,masa lalu adalah masa lalu. Sekuat apapun Kevan menyangkal itu semua tidak akan pernah hilang dari hidupnya. Yang sekarang bisa Kevan lakukan adalah berdamai dan membiarkannya ada di dalam memorinya. Meletakkannya di sudut hatinya tanpa memberi sinar lagi. Dengan begitu kenangan itu akan menghilang, terkikis oleh waktu.
Kevan langsung masuk kekamarnya. Merebahkan tubuhnya, sejenak ia mengatur nafas menenangkan degupan jantung yang seperti akan meledak. Sekarang Kevan milik Kian, ia tidak akan mengecewakan Kian, karena dirinya tahu bagaimana rasanya di kecewakan.
Ia tidak ingin menyesal, mungkin manusia diberi ijin untuk bisa mencintai tapi manusia tidak selalu diberi kuasa untuk memiliki. Dan Kevan tidak akan menghilangkan kuasanya atas Kian. Ia melepas Dion dan memeluk Kian. Melupakan masalalu dan menanti masa depannya. Kian