Happy Reading.....
*I'm fine with everything else as long as you beside me* by F(X)
Kevan baru sampai di rumahnya, ia masih duduk termenung di pinggiran ranjangnya. Ia menatap sebuah kalung dengan bandul sebuah cincin, di sana tertulis namanya. Entah sejak Kapan Kian menyimpan kalung itu, dan tadi setelah segala ungkapan kejujurannya Kian memberikan kalung itu pada Kevan.
"Kenapa lo harus jadi kayak gue?" Gumam Kevan.
Kevan menghela nafas gusar, sungguh ia tidak pernah menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Apakah ini awal dari hancurnya persahabatan di antara dirinya dan Kian?
Persahabatan yang harus dinodqi oleh cinta. Kevan tidak bis amembayangkan bagaimana dulu perasaan Kian ketika Kevan bercerita soal kebahagiaan dan kesedihan yang Kevan alami saat bersama Dion. Pantas saja jika selama ini Kian tidak suka melihatnya menangis karena Dion. Pantas saja Kian tidak mau Kevan terluka oleh orang-orang jahat di sekitarnya.
Besok Kian akan pergi, namun persaan Kian masih Kevan gantung, ia tahu Kian butuh jawaban tapi jawaban apa yang harus Kevan berikan? Ia takut jika semuanya akan hancur sia-sia. Bukan hanya cinta yang akan hilang dari tangan Kevan, tapi juga sahabat terbaiknya. Dia akan kehilangan semuanya.
Malam itu pikiran dan hati Kevan benar-benar tidak sinkron. Hatinya berkata jika ia harus menahan Kian, memberinya kesempatan. Namun pikirannya berkata lain ia tidak ingin menjadikan sahabatnya menjadi gay seperti dirinya.
* * * *
Pagi itu Kevan benar-benar bingung haruskah ia pergi menemui Kian sebelum dia berangkat? Atau dia tidak menemui Kian dan melupakan semuanya?
Kian sudah bersiap, semua keperluannya sudah masuk ke dalam mobil. Ia masih melirik jam di pergelangan tangannya berharap Kevan akan datang, tapi tak ada tanda Kevan akan datang.
Dengan berat hati ia masuk ke dalam mobil, kalau tidak segera berangkat bisa saja dia tertinggal pesawat. Perjalanan dari rumahnya menuju bandara cukup jauh.
"KIANDRE ALDEVARO..!!!!!"
Kian menoleh, ia berdiri mematung. Kevan datang, Kevan datang untuk menemuinya.
"Kevan...?"
Kevan berlari kecil, untung dirinya belum terlambat. "Lo mau pergi gitu aja?" Kevan membungkuk sembari mendongak menatap wajah Kian, masih sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
Kian hanya diam memandang Kevan, ia yakin Kevan pasti datang.
Kevan berdiri tegak, matanya sudah berkaca-kaca. Ia bingung apa yang harus ia katakan pada Kian. Kevan memandang Kian lekat-lekat, kian pun sama.
Kevan berhambur ke pelukkan Kian "maafin gue Ki, maafin gue yang selama ini tutup mata. Buta karena orang lain!" Kevan menangis di pelukkan Kian.
Kian masih kaget, lengannya perlahan naik mengelus punggung kecil milik Kevan.
Kevan masih menangis, dan Kian masih mengelus-ngelus Kevan.
Kevan melepas pelukannya, dia memandang Kian. "Gue cengeng yah?"
Kian hanya tersenyum kemudian mengacak rambut Kevan. "Banget!"
Kevan memukul bahu Kian pelan. Kenapa Kian selalu "terlalu" jujur saat berkomentar tentang dirinya. "Sialan lo!-" Kevan menghela nafas sebentar. "Belajar yang rajin disana, gak usah lirik-lirik cewek! Apalagi cowok di sana!"
Kian tersenyum bahagia, ia tidak salah dengar kan?
"Kenapa ketawa?" Tanya Kevan.
"Enggak, jadi?"
"Jadi apa?"
"Kita?"
Wajah Kevan memanas,pipinya benar-benar merah sekarang. Kenapa jadi canggung begini batin Kevan.
"Apa?! Gue bakal tunggu lo sampe pulang!" Ujar Kevan.
Kian langsung memeluk Kevan "makasih, Van. Makasih!"
Kevan tersenyum malu di pelukkan Kian, kian meregangkan pelukkannya. Ia mengecup dahi Kevan yang tertutup poni. Kian lalu memeluk Kevan lagi.

"Lo harus berangkat kan?" Tanya Kevan di sela pelukannya.
Kian mengangguk, mencium pucuk kepala Kevan sebentar.
"Gu bakal tunggu lo sampe lo balik lagi buat gue, sekarang ijinin gue buat berjuang." Kevan tersnyum tulus pada Kian.
Pagi itu Kian melepas lengannya dari Kevan, mengalihkan pandangannya sejenak. Hari-harinya akan ia lalui tanpa Kevan. Mungkin untuk bahagia, ia harus berjuang sekuat-kuatnya. Meski jarak terbentang bukankah hati mereka sudah saling memiliki satu sama lain?
Kian menatapi jalanan yang ia lewati, saat ini hatinya bahagia ia tak perlu khawatir lagi. Kevan menunggunya dan kini bukan sebagai sahabat tapi kekasihnya.
* * * *
'Apakah kau ingat saat pertama kali kita bertatapan?
Saat ini, aku sedang mengingat kegelisahan yang ku rasakan saat pertama kali kita berjumpa
Meskipun bukan sebuah pertemuan yang ditakdirkan seperti di film-film
Sedikit demi sedikit kau datang mendekat, membuatku bermimpi
Mereka bilang di dunia ini tidak akan pernah ada yang sama
Ku mohon padamu...
Berjanjilah satu hal padaku, jangan pernah lepaskan tanganku
Kau bisa melakukannya bukan?
Hanya dirimu seorang..
Meskipun aku berikan segalanya untukmu,
Aku rasa aku tidak akan pernah menyesal
Jika hanya untukmu, apapun itu akan aku lakukan..
Meski musim berganti dan dunia berubah
Aku akan kembali padamu,
Karean kau takdirku..'
Kevan tersenyum membacanya, ini e-mail yang kesekian kalinya dari Kian. 6 bulan sudah Kian meninggalkan Kevan.
Ini sudah memasuki bulan Desember, mungkin di sana Kian kedinginan karena salju pasti sudah turun. Ini natal pertama Kevan tanpa Kian. Biasanya setiap tahun ia akan menghabiskan waktu natal berdua. Saling bertukar kado. Kini dirinya hanya bisa menghubungi Kian lewat video Call.
"Bukankah disana sedang musim dingin?" Tanya Kevan sambil menatap layar ponsel pintarnya, disana tampak wajah tampan Kian sedang tersenyum.
"Hmmmmm... dan lihat aku kedinginan!" Ujar Kian.
"Lalu? Nyalakan saja penghangatnya!" Ujar Kevan.
"Apa kau tidak ingin memelukku?"
Kevan terkekeh mendengar ucapan Kian, sekarang mereka memang sudah tidak saling canggung lagi. Semuanya sudah mencair seperti es batu yang terkena sinar matahari.
"Bagaimana sekolahmu, Ki?"
Kian mengehela nafasnya, sebenarnya ia sudah kangen sekali ingin pulang.
"Liburan musim depan aku dapat cuti 3 bulan mungkin aku bisa pulang!"
"Benarkah?" Kevan bahagia, akhirnya ia bisa bertemu dengan Kian.
"Hmmmm.-" kian mengangguk "apa rencanamu hari ini?"
"Paling pergi ke mol, karena hari ini tanggal merah!"
Kian tersenyum, melihat tingkah Kevan.
"Kenapa?" Tanya Kevan heran.
"Tidak, ya sudah aku harus pergi. Paman mengajakku menghadiri acara natal di rumah saudaranya! Kau jangan nakal Van!"
"Hmmmm baiklah, hati-hati ... bye!"
Sambungan video call terputus. Kevan beranjak dari kursinya dan segera bersiap.
Hari ini Kevan putuskan untuk berjalan-jalan saja di mol. Ia tidak punya kegiatan. Ia ingin pergi ke toko buku atau menonton film siapa tahu ada film bagus.
Sampai di mol, Kevan langsung masuk ke toko buku ia mencari beberapa novel asmara. Ia baca satu persatu sinopsis novel itu.
"Kevan?!"
Kevan segera menoleh, ia seperti kenal dengan suara ini.
"Di-Dion...?"
Tbc...