Happy Reading,,
*It's ok, Thats Love*by Davichi
Mungkin hanya perpisahan yang bisa menyadarkan betapa berartinya seseorang dalam hidup kita.
Dua tahun berlalu, Kevan jalani tanpa seorang Dion. Ia pun memilih untuk tidak berurusan lagi dengan Lunar ataupun Denis. Kevan kembali menjadi murid yang mneghabiskan waktunya untuk belajar dan mengejar cita-cita. Berencena dan bermimpi. Saling mendukung satu sama lain dengan sahabatnya Kian, yang tak pernah bosan menemaninya selama dua tahun ini. Kianlah yang membantu Kevan untuk perlahan-lahan membuang rasa cintanya pada Dion.
"Ki?"
"kenapa?"
"Harus ya lo pergi?" Entah mengapa Kevan merengek, nyatanya dia belum rela untuk ditinggalkan oleh Kian. Bagaimana tidak sejak dulu Kian selalu di dekatnya. Kian adalah tempat keluh kesah Kevan.
Bagaimana hidup Kevan tanpa Kian, Kevan sudha terlanjur bergantung pada Kian.
Apakah cinta butuh alasan? Apakah cinta juga butuh penjelasan? Bukankah cinta datang pada siapa saja? mungkin itu yang Kian rasakan sejak dulu. Jika ia katakan pada Kevan sekarang bagaimana perasaanya selama ini, mungkin Kevan akan merasa di khianati. Bagaimana tidak, bukankah selama ini Kevan menganggap kian sebagai sahabat terbaiknya? Dan ternyata Kian diam-diam memendam rasa, bukankah itu sebuah sandiwara?
Sejak dulu memang Kian mengagumi Kevan. Baginya Kevan adalah mataharinya, andai dia berani mengungkapkan isi hatinya sejak dulu. Tapi ia terus menerus merasa takut hanya karena mencintai Kevan.Ia takut Kevan menjauh saat Kian mencoba mendekat. Karena itu Kian tidak pernah mencoba mengungkapkannya.
Karena Kevan, Kian selalu bisa tertawa, saat Kevan menangis maka hati Kian juga sakit, saat Kevan tersenyum maka Kian akan ikut bahagia. Meski kadang ia ingin memeluk Kevan saat Kevan menangis karena orang lain, tapi ia tak pernah bisa. Alih-alih dirinya lebih memilih mengucapkan kata-kata kasar, membodohkan seorang Kevan yang selalu menangis karena Cinta.
Memendam cinta baginya lebih mudah, daripada harus kehilangan Kevan. Meski saat Kevan memberitahu Kian bahwa dirinya adalah gay dan saat itu Kian merasa ada kesempatan, belum tentu Kevan mau menerimanya bukan? Hei Kevan juga bisa memilih.
Bertahun-tahun ia mencoba menutupi perasaanya pada Kevan, berharap jika suatu hari rasa di hatinya itu akan menghilang. Tapi Kian salah, justru semakin hari rasa itu semakin tumbuh. Kian hanya bersyukur selama ini ia bisa memendamnya dengan baik.
Tapi saat ini, sebentar lagi ia akan meninggalkan Kevan. Jauh dari Kevan, ia tidak akan bisa lagi tahu bagaimana kisah asmara Kevan. Bisa saja Kevan menemukan cinta sejatinya saat Kian sudah jauh nanti. Tentu Kian tidak ingin itu terjadi, ia tidak ingin mencintai sendiri lagi. Ia tidak ingin cintanya ini hanya cinta searah tanpa tujuan. Mungkin ini saatnya untuk Kian menggenggam Kevan di tangannya, memeluk Kevan dipelukannya. Apapun keutusan Kevan nanti, yang terpenting Kian tidak akan menyesalinya.
"Dasar!" Kian mengacak lembut rambut Kevan.
"Gue pasti kesepian." Kevan mengerucutkan bibirnya.
Batapa bodohnya Dion yang melepas Kevan. Dion bahkan belum tahu bagaimana Kevan. Andai dia tahu Kevan dengan segala kepribadiannya mungkin ia tak akan pernah perduli lagi dengan orang lain. Biar saja di dunia ini hanya ada dirinya dan Kevan. Seperti Kian. Ia memang tidak pernah mengenal teman-temannya. Baginya Kevan saja sudah cukup. Tapi bagi Kevan? Bukan Kian yang segalanya bagi Kevan. Bagi Kevan Dion adalah dunianya, Dion segalanya. Sampai matanya pun buta, hanya Dion yang di lihatnya.
Marah? Tentu Kian marah saat Kevan menangis karena Dion. Hanya saja Kevan perlu mengontrol diri. Ia tidak ingin emosinya menguasai hatinya, membutakan semua tingkahnya. Cukup ia mendengarkan semua curahan hati Kevan ia akan merasa lega. Jika lidahnya tidak kelu, mungkin saat itu Kian akan mengatakan 'lihatlah aku, aku yang di depanmu apa kah tidak cukup hanya aku?' Namun ia tak mampu. Ia lebih kalah pada rasa takutnya. Dan kata kasar yang keluar dari mulutnya. Mengatai betapa bodohnya Kevan yang buta akan cintanya pada Dion.
"Ikut gue!" Kian menarik lengan Kevan. Kian sudah putuskan, malam ini ia akan mengungkapkan segalanya. Segala rasa yang lima tahun ini ia pendam sendiri.
Kevan kebingungan ini sudah malam, memang Kian mau mengajaknya kemana?
Kevan menurut saja, selama dengan Kian ia tidak pernah takut. Karena ia yakin Kian tidak akan pernah mencelakainya.
Kian melajukan mobilnya perlahan, ia berhenti di depan gedung sekolahnya.
"Ngapain malam-malam kita kesini Ki?"
"Turun, ikut gue!"
Mereka berdua masuk ke dalam sekolah, berbekal kunci serep yang di pinjami oleh paman Kian seorang guru olahraga di sekolahnya.
Kevan dan Kian berjalan menyusuri lorong, "inget gak lo dihukum di sini, gara-gara lo gak bawa buku pelajaran?"
Kevan menoleh mendengar pertanyaan Kian, ia benar ia dihukum lalu tiba-tiba Kian keluar dan di hukum. Padahal jelas benar Kian anak rajin tidak mungkin ia tidak membawa buku.
Kevan mengangguk, mengiyakan pertanyaan Kian.
Tiba-tiba Kian menarik tangan Kevan, Kian mengajak Kevan ke tengah lapangan basket outdoor di sekolahnya. Mereka berdua duduk menatap bulan yang malam itu bersinar bulat.
Kian memejamkan matanya, mengatur degup jantungnya yang kian tak menentu.
"Akhir yang misterius dikala itu, gue bahkan harus berpikir berulang-ulang, apa bener gue cinta sama lo?!" Kian tiba-tiba berucap.
"Ki?" Kevan hanya melongo kaget. Apa yang terjadi dengan Kian?
"Disuatu tempat, sewaktu kita bersama. Gue bahkan masih bisa lihat masa-masa itu. Seakan gue bisa nyentuh itu semua. Kayaknya baru kejadian kemarin. Waktu lo nangis dan ketawa cuma karena hal yang gak lo suka dan hal yang paling lo suka."
Kevan masih mendengarkan Kian berbicara.
"Tiap detik gue mikirin elo. suara lo, ketawa elo, cerewetnya elo semuanya selalu terdengar di telinga gue kayak melodi sendu yang ngalun merdu." Kian masih menatap ke langit,ia tidak punya keberanian untuk menatap Wajah Kevan.
"Ki? Apa maksud lo?"
Kian tersenyum lalu menatap wajah Kevan.
"Lo tahu? Lo itu kayak sinar matahari . Lo selalu nerangin hari-hari gue-" Kian mengehela nafas sebentar "gue tahu ini aneh, gue tahu lo gak bakal percaya. Tapi emang ini yang gue rasain dari dulu sampe sekarang. Dan gue gak bisa pendam ini lebih lama!"
Kian beralih, ia kini duduk berhadapan dengan Kevan. Ia menatap tepat di mata Kevan. Tangannya terulur menyingkirkan sedikit poni yang menutupi dahi Kevan.
Kevan hanya diam, ia bingung, canggung tak menyangka dengan apa yang Kian lakukan. Orang yang selama ini di anggapnya sahabat ternyata memendam rasa suka pada dirinya. Apakah ini salah Kevan? Setahu Kevan Kian adalah cowok straight. Meski Kevan tak pernah melihat Kian dekat dengan perempuan , tapi Kian juga tak pernah memperlihatkan tingkah laku yang membuatnya terlihat menyukai lelaki.
"Jangan bercanda, Ki. Ini gak lucu!"
Kian tersenyum "gue sayang sama lo, lebih dari sahabat. Gue gak rela lo nangis, gue gak suka waktu lo ngerasa sakit karena orang lain."
Kevan menatap Kian, mencari gurat bercanda di wajah Kian, namun ia tak menemukannya. Wajah Kian tetap tenang dan penuh keseriusan.
"Gue gak butuh jawaban dari lo, gue tahu diri. Dari dulu pun gue tahu. Buat apa gue lari ngejar lo, kalo lo sendiri aja lagi ngejar orang lain. Gue cuma mau ngungkapin apa yang selama ini gue pendam. Jauh sebelum lo ngaku kalo lo seorang gay, lo udah punya tempat sendiri di hati gue."
Kevan membuang muka, sungguh ia tidak mau mendengar lagi. Ia tak mau Kian menjadi seperti dirinya. Kian berhak bahagia dengan orang lain bukan dirinya.
"Maafin gue, Ki!" Hanya itu jawaban Kevan.
Kian dan Kevan kini saling memandang. Menyelami perasaan masing-masing lewat tatapan mereka.
Kian dengan perasaanya, Kevan dengan segala penyesalannya.
Kian tersenyum "besok gue bakal pergi, jauh. Gue gak bakal lihat lo buat waktu yang lama. Gue cuma pingin lo tahu perasaan gue yang sebenarnya. Gue gak mau nyesel. Walaupun gue gak bisa milikin elo, asal gue masih bisa jadi orang yang selalu ada buat lo!" ......
Tbc.......