Happy Reading....
*This Love*by Davichi
Apa hal yang paling rumit di dunia ini? Tentu itu adalah sebuah hal yang di sebut cinta. Kebahagian dan kesengsaraan bersumber dari satu rasa itu. Rasa yang mungkin bisa menimbulkan sebuah kebencian yang mendalam, perasaan takut kehilangan yang berlebihan, dan bahkan dendam abadi. Semua karena cinta.
Jika waktu kembali, akankah semua kenangan terhapus? Semua kata-kata Kevan yang dulu tidak sempat ia ucapkan pada Dion, akankah bisa ia katakan?
Semenjak malam di rumahsakit itu, semuanya benar-benar berubah. Meski cinta masih ada di dalam hati Kevan nyatanya dia memilih untuk memendamnya, meyakinkan diri bahwa jika memang dirinya akan kembali pada Dion, maka akan ada waktu yang tepat kapan pun itu.
Kevan tidak pernah mencoba untuk melupakan, ia pun tak menghindar dari Dion. Namun sekarang yang ia bisa lakukan adalah menatap Dion dari kejauhan, sambil menahan napas seperti dunia yang berhenti berputar. Lebih baik begini, Kevan harus bisa memilih antara mempertahankan atau melepaskan. Tapi kembali lagi, Kevan harus tau siapa yang dia perjuangkan dan untuk apa ia memperjuangkan. Apakah memang perlu untuk hidupnya atau hanya menyuapi ego saja. Kevan tidak akan berpegang lagi pada kenangan, biar saja, nyatanya seberapa banyak pun kenangan yang tercipta kalau perjuangan itu tidak membuahkan hasil maka hanya akan membuang waktu sia-sia.
Mugkin bagi Dion, saat ini Kevan bagaikan angin yang berhembus. Ia bisa merasakannya tapi tidak bisa menggenggamnya lagi. Semua pikiran dan hati Dion masih tertuju pada Kevan.
Terasa sakit memang saat Kevan mencintai Dion, namun sesakit apa pun itu pikirannya tidak pernah kosong tentang Dion. Semua masih tersimpan rapih di dalam memorinya. Dan itu sangat menyedihkan. Masih saling mencinta tapi tidak bisa bersama, lebih menyiksa hati bukan? Keadaan ini seperti sedang mengejek Kevan, mencibir semua keputusan Kevan, berharap Kevan menyesali semua keputusannya. Tapi logika Kevan lebih tajam, ia tidak ingin memakai hati lagi. Mungkin benar cinta harus pakai hati, tapi untuk menjalaninya ia butuhkan otak yang waras dan logika yang seimbang. Saat hati sakit apa kah cinta bisa mengobati? Tidak bukan? justru cinta itu memperparah lukanya.
Kevan hanya berharap satu, apapun yang terjadi dan status apapun yang saat ini ada di antara Kevan dan Dion tidak akan membuat merekas saling membenci dan melupakan satu sama lain.
"Masih galau?" Kian tahu kejadian di rumahsakit itu, menurutnya sikap Kevan sudah benar. Biarkan saja semua mengalir seperti adanya tanpa harus saling menyakiti.
Kevan hanya menggelengkan kepalanya, jika ia galau maka ia kalah dengan hatinya. Ia tidak akan pernah bisa lari dari rasa sakit yang selama ini membuatnya lelah. Jika ia masih galau maka ia akan kembali pada titik dimana ia mengharapkan Dion melebihi apa pun. "Gue masih cinta sama Dion, tapi gue gak mau buat nyakitin hati gue lagi."
Kian memegang pundak sahabatnya itu, mungkin sekarang Kevan sudah tahu apa yang harus ia kedepankan saat berhadapan dengan hal yang bernama cinta. Logikanya atau hatinya. Cinta itu bisa membuat orang bahagia dan terluka. Disakiti dan kadang menyakiti. Tergantung bagaimana kita menjalaninya.
"Walaupun gue nyoba buat pergi, gue rasa gue gak akan pernah bisa pergi. Gue ama Dion udah terikat ama kenangan Kita. Meskipun kita gak sama-sama lagi." Kevan menghembuskan nafas kasar.
"Dan jangan coba buat lupain kenangan itu, Van!" Kian menimpali sahabatnya itu.
Kevan tersenyum, matanya kini masih tertuju pada sosok Dion yang ada di lapangan futsal. Sejenak menikmati senyum yang terpancar di wajah Dion, mengamati tatapan matanya. Seakan Kevan tahu apa yang sekarang ada di dalam pikiran Dion. Mungkin saat melihat Dion semua kenangannya akan bangkit. Kevan tidak akan pernah melawannya, biarkan hal itu meninggalkan sebuah rasa tersendiri untuk Kevan. Asal ia masih bisa melihat Dion. Tidak apa jika Dion terlambat menyadarinya, jika itu takdir suatu saat nanti Kevan yakin dia akan kembali pada Dion begitu pun sebaliknya.
Sulit untuk melupakan Dion, maka dari itu Kevan tak pernah ingin mencobanya. Semakin ia mencoba melupakan Dion, yang ia dapat hanya rasa rindu yang membuatnya ingin bertemu dengan Dion. Inilah kenyataan yang terkadang membuat Kevan menangis diam-diam. Kevan hanya berharap suatu hari nanti dirinya akan kembali pada posisi dimana hanya ada dirinya di hati Dion dan saat itu ia akan mencintai Dion dengan sebanyak mungkin cinta yang ia miliki.
* * * *
"Jadi, habis kelulusan elo mau lanjut ke luar negri?" Kevan memandangi sahabatnya itu. Memang orang tua Kian selalu menuntut anaknya untuk sempurna.
"Hmmmm...iya!" Kian tahu sahabatnya itu pasti akan merasa kesepian, sebenarnya ia pun khawatir. Mungkin saat ia pergi Kevan akan kembali menjadi orang bodoh yang mudah mencintai dan disakiti.
"Berapa lama?" Kevan tidak mau jauh dari Kian, ia tahu ia hanya sahabatnya, namun bagi Kevan Kian itu melebihi sahabat. Siapa yang bisa Kevan andalkan saat Kevan butuh seseorang? Yang pertama datang adalah Kian. Bukan orang lain.
"Aku hanya menyelesaikan S1 disana mungkin. Tidak lama. Apa kau mau menungguku?"
Pertanyaan macam apa itu? Bukankah memang seharusnya Kevan menunggu Kian? Dia kan sahabatnya.
"Pasti.... asal saat kau kembali kau tidak berubah dan masih mengingatku."
Kian tersenyum dan mengacak rambut Kevan sebentar, ada perasaan aneh yang Kevan rasakan. Kian tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Apa yang terjadi pada Kian?
Tbc......