bc

My Choice (Bahasa Indonesia)

book_age16+
1.7K
IKUTI
25.8K
BACA
dark
contract marriage
love after marriage
fated
dare to love and hate
boss
drama
tragedy
comedy
sweet
like
intro-logo
Uraian

❝Hidup ini pilihan dan aku memilihmu.❞

Perjodohan? Hal yang sering kali terjadi pada setiap anak perempuan. Gundah, kesal, bahkan frustrasi tak terelakkan ketika berada dalam situasi yang bernama perjodohan.

Itulah yang dirasakan perempuan ini, Melody, menikah dengan orang yang tak ia cintai, terpaksa harus meninggalkan kekasihnya. Sungguh rasanya sangat pilu bukan?

Tetapi istilah jodoh tak kemana memang benar adanya. Tak pernah Melody sangka, sosok pria yang kesan pertamanya sangat buruk padanya ternyata adalah seseorang yang menjadi suaminya.

Percampuran emosi, kekonyolan serta kebahagiaan yang tak terduga semua tertuang dalam cerita ini.

Penasaran ingin mengikuti perjalanan dua sejoli ini? Pastikan kamu tidak baper berlebihan pada sikap Iqbaal dan Melody. Happy reading~

Pastikan baca sekuelnya : My Lovely Cactus

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat menjadi suram ketika aku harus menerima sebuah kenyataan pahit dimana aku harus menikah dengan seorang pria yang kuanggap sangat menyebalkan. Dia memang tampan, semua gadis mungkin mengharapkan memiliki suami seperti dia. Tapi aku? Aku tidak tertarik sama sekali padanya. Dia itu pria yang sangat menyebalkan, kesan pertama kami buruk, sangat buruk! Terlebih lagi aku harus meninggalkan kekasihku yang sangatku cintai. Oh Tuhan kenapa nasibku harus seperti ini? * Hari ini, hari yang biasa saja, cuaca pun tidak cerah dan tidak pula mendung, untuk udara kurasa cukup sejuk. Aku yang baru saja memasuki sebuah toko sebuah tersenyum semringah, senyumku semakin lebar saat aku disambut ramah oleh pramuniaga disini. "Selamat datang nona..." Demikian lah sapaan ramah pramuniaga perempuan itu, penampilannya sangat rapi dengan seragam khas karyawan toko sepatu ini. "Saya ingin melihat-lihat sepatu wanita," ujarku ramah. Perempuan itu tersenyum dan menunjukkan jalan padaku. "Silahkan... Apa mau saya antar?" tanyanya sopan yang langsung kutolak halus. "Gak perlu, mbak. Saya bisa sendiri," ujarku ramah, perempuan itu mengangguk sopan. Akhirnya aku memasuki toko sepatu itu lebih jauh, aku menyusuri rak-rak disana dan mataku menelusuri sepatu yang bejejer. Semuanya bagus dan membuat diriku bingung. Kemudian, ada sebuah sepatu jenis wedges berwarna cokelat s**u dengan tumit setinggi tiga sentimeter kurasa yang menarik pandangan mataku. Sepatu yang terlihat begitu elegan dengan merek ternama. Aku tersenyum tipis dan berjalan cepat menuju sepatu itu. Sepatu itu ada di dalam sebuah lemari kaca, kurasa sepatu ini memang edisi khusus. Mataku yang penuh binar dan senyum lebar di wajahku seketika buyar saat aku melihat seseorang berdiri tepat di depanku dan menghalangi pandangan mataku dari sepatu incaranku barusan. Terlebih saat orang itu memanggil pramuniaga toko dan menujuk sepatu incaranku yang ada di dalam lemari kaca, aku semakin tercengang. "Mbak, tolong bungkus yang ini," ujarnya yang dapat terdengar jelas di telingaku. Aku pun segera menghampiri mereka dan menahan lengan pramuniaga toko yang ingin membuka lemari kaca itu. "Mbak, saya akan membeli ini!" Aku langsung berujar tanpa mempedulikan wajah pramuniaga toko itu yang terkejut dengan aksiku. "Eh? Anda gak dengar? Saya lebih dulu meminta untuk membeli ini," celetuk seseorang di belakangku. Aku berbalik dan menatapnya tajam, aku membalas perkataannya, "Gue liat duluan ya! Ngalah dong sama cewek!" Pria di depanku terkekeh geli. Ia kemudian menyentil keningku dan membuatku mengaduh kesakitan. "Dasar cewek d***o! Siapa cepat dia dapat dong!" What? d***o?! Dasar cowok sialan! Percuma ganteng tapi gak ada akhlak. "Mbak, jangan dengerin dia. Mbak tau sendiri bahwa saya duluan," ujar pria itu kekeuh. Aku melotot tajam kepada pria nyebelin itu, "Lo emang keterlaluan," ujarku. Pria itu menatapku. "So? Lo sendiri? Kurang ajar, gak sopan, barbar, gak sadar kalau lo dari tadi diperhatikan sama banyak orang?" Ucapan pria itu langsung membuatku tersadar dan melihat sekelilingku. Benar saja, semua mata tertuju pada kami, lebih tepatnya kepadaku. Astaga, tanpa sadar aku mempermalukan diri sendiri. Ini semua karena cowok nyebelin ini! Aku mendengus kesal dan langsung melangkah untuk meninggalkan toko ini, sebelumnya dapat kudengar tawa geli dan meremehkan dari cowok itu. Ah kesal! Aku berharap gak pernah ketemu dia lagi! Malu banget gila! * Aku melangkahkan kakiku memasuki halaman rumahku, ada banyak mobil disini, hari ini adalah hari ulang tahun Mamah. Oleh sebab itu tadi aku ke toko sepatu untuk membelikan kado buat mamah, tapi nyatanya kadoku dirampas oleh cowok sialan yang entah dari mana! Sambil kembali menunduk dan melihat pada layar ponselku, kemudian aku tersenyum ketika membaca pesan singkat dari kekasihku, namanya Alvin. Aku menceritakan kepadanya perihal apa yang terjadi padaku hari ini, sungguh mengesalkan memang, untunglah aku memiliki kekasih yang perhatian seperti Alvin. Namun, tiba-tiba saja aku terjatuh, akupun meringis, seseorang menabrakku. Aku mengusap lenganku yang sedikit tergores, sialnya hari ini aku memakai baju dengan lengan pendek.  Aku berdiri kemudian mendongakkan wajahku, awalnya aku terpana melihat sosok didepanku. Seorang pria tampan! Ah, lupakan! Dia sudah menabraku dan membuat lenganku terluka. "Lo punya mata atau gak sih?" Tunggu, ini bukan aku yang berbicara. Ini adalah kata-kata yang keluar dari mulut cowok sialan yang menabrakku.  What the? Aku yang luka, kok dia yang sewot? "Eh? Lo?!"  Aku tercengang saat mengenali wajahnya. Astaga! Cowok nyebelin tadi! "Oh ternyata selain gak sopan, lo juga kalau jalan gak pake mata ya?" "Lo tuh yang punya mata atau gak? Lo gak liat lengan gue luka?" ketusku sambil menunjukkan lenganku yang sedikit tergores padanya. "Cih, dikit doang." Oh Tuhan! Dia benar-benar sudah mengibarkan bendera perang. "Eh, curut gila! Lo tuh bener-bener gak punya otak apa?!" makiku kesal.  "Gue? Bukannya lo?" Dia membuang wajahnya asal kesembarang arah, ah dasar curut gila! "Gue kasih tau ya! Ini rumah gue, lo ngap-" "Melody, kamu udah pulang? Ayo masuk dulu, sekalian aja nak Iqbaal." Tiba-tiba teriakan mamah terdengar memotong ucapanku. Pasti gara-gara aku teriak-teriak tadi nih, mamah jadi denger. "Eh, gue masih ada urusan ya sama lo..!" kataku mendelik sambil berjalan meninggalkannya.  Oh iya, mamah bilang tadi, Iqbaal? Siapa tuh? Udahlah bodo gak kenal. Kok, seperti ada yang mengikutiku ya? Jangan bilang curut gila itu ngikutin aku? Aku pun berbalik, dan... wah..! Benar saja dia berjalan dibelakangku.  "Kenapa berhenti?" tanyanya dengan ekspresi yang sangat menyebalkan. "Lo ngapain ngikut gue? Hah?" sahutku geram.  "Tante tadi bilang supaya gue masuk, 'kan?" jawabnya.  "Lo? kapan?"  Hei, tunggu! Jangan-jangan yang namanya Iqbaal itu.... "Nama gue Iqbaal gadis manja! Dan tadi emak lo manggil gue."  Dia Iqbaal? What the? Mamah kenal sama dia? "Udah ah, cepetan sana jalan!" perintahnya sambil mendorongku.  Aku hanya berdecak kesal lalu melangkah kembali. Saat aku memasuki rumah, disini seperti surganya ibu-ibu saja. Aku hanya melemparkan senyum yang semanis mungkin pada mereka.  "Wah, ternyata ini Melody? Aduh cantik banget ya." Seorang wanita paruh baya mendekatiku, kuakui dia cantik, dan sepertinya seumuran mamah.  "Baal, dia cantik, iya 'kan?" Tante itu menatap pria menyebalkan disampingku.  Wtf, sejak kapan dia ada disampingku?! Ogah sumpah deket-deket dia, takutan ketularan penyakit nyebelin dia. "Hm, iya Bun, cantik." Dia mendelik padaku. Tuhkan nyebelin, ekpresinya aja malesin banget gitu! Kalau gak ikhlas bilang cantik gak usah lah, dih jijik aku. "Hm, tante, ini hadiah dari aku, selamat ulang tahun, tante. Maaf Iqbaal telat datangnya, tadi ada urusan di kantor," ujar cowok itu memberikan sebuah bungkusan kepada Mamah. Aku terdiam. Wait... Bungkusan itu? Sepatu yang tadi?! Mamah terlihat sangat senang dan cipika-cipiki dengan cowok itu. "Makasih banyak ya, Iqbaal. Tante seneng banget!" Aku menatap cowok itu penuh emosi. Dasar! Pasti ada maunya! Sementara ia hanya menatapku dengan senyuman penuh kemenangan. "Melody, kamu bawain mamah apa?" Pertanyaan mamah membuat aku tersadar. Akupun memberikan sebuah bungkusan kepada mamah dan memeluk perempuan itu. "Selamat ulang tahun, Mamah..." ujarku. "Terima kasih, sayang," balas Mamah. Kami menguraikan pelukan, aku tak kuasa menahan rasa haru, Mamah mengusap air mataku dan tersenyum tipis. "Kenalan dulu ayo sama Iqbaal, dia ini anak tante Rike," ujar Mamah menarik diriku ke depan pria nyebelin itu. "Sudah pernah ketemu, Tan," jawaban Iqbaal membuatku tercengang. "Tadi ketemu di toko sepatu. Dia mau beli sepatu itu tadinya tapi keduluan aku," ujar Iqbaal sambil melirikku sekilas. Aku hanya buang muka, malas menatapnya. "Eh? Begitu? Pantas wajah anak tante ini kesal banget kayaknya," sahut Mamah sambil merangkulku. Aku hanya tersenyum tipis. "Kalau aku tahu dia itu Melody, aku bakal ngalah," ujar Iqbaal sambil tersenyum padaku. Aku kini menjadi terdiam, cowok itu serius? Atau cuma akting? "Nah, Iqbaal kayaknya udah setuju nih?" Mamah mendekat sambil tersenyum kearah tante Rike. Buset, itu tante cantik, anggun, dan kelihatannya baik banget.  Beda banget sama cowok satu itu, orangnya ganteng sih tapi brutal terus nyebelin, beneran anak kandung emang? "Tinggal Melody dong, gimana? Mau 'kan sayang sama Iqbaal?" Mamah menatapku dengan tatapan mautnya ketika memohon sesuatu padaku, yang tidak bisa kutolak sama sekali.  Tapi.. mau gimana sih? Mau apaan? Sama si Iqbaal? Cowok nyebelin itu?  "Apa mah?" tanyaku bingung. "Jadi, kalian kalau kami jodohkan setuju, 'kan?" tanya mamah, tidak ini lebih terdengar seperti perintah yang tak boleh dibantah. Mataku membulat sempurna. What?! Perjodohan?! Aku sama kucrut itu? Melody, apa kamu sedang bermimpi? Aku harus gimana nih?  Kalau kuterima, berarti cowok nyebelin disampingku ini bakal jadi suamiku 'kan? Dih ogah..!  Kalau kutolak.. Ah! mamah pasti malu, 'kan disini ada banyak temen mamah. "Iqbaal udah setuju lho," ujar tante Rike tersenyum geli. Aku menatap cowok itu, dia terlihat mengangkat bahu dan membuang muka. Maksudnya apa coba? Aku menelan ludahku. "I-iya aku juga setuju," kataku terpaksa.  Fine, jawaban itu adalah awal dari penderitaanku. Mau bunuh diri, dosa. Mau kabur, gak ada duit lebih. Mau nolak, gak berani. Sekarang, aku kudu piye? Menerima nasib menikah sama cowok itu? Hua..! Malangnya nasibku.  Ini benar-benar pilihan yang sulit! Oh Tuhan, tabahkanlah aku, huaaa..! *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

MY ASSISTANT, MY ENEMY (INDONESIA)

read
2.5M
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Marriage Not Dating

read
560.1K
bc

f****d Marriage (Indonesia)

read
7.1M
bc

Because Alana ( 21+)

read
364.3K
bc

PERFECT PARTNER [ INDONESIA]

read
1.3M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook