Pernikahan yang seharusnya bahagia, berubah menjadi kesedihan, marah, dan sangat kecewa karena dikhianati oleh dua orang yang ia sayangi. Kiara, dengan perasaan yang mencoba untuk tetap tegar, melihat proses pernikahan Daren dengan Shera.
Kiara tidak sendiri, kedua orang tuanya menemani Kiara, yang sejak awal bahkan sudah membujuk Kiara untuk meninggalkan pesta pernikahan tersebut. Kiara menolak dan ingin melihat mereka menikah, bahkan juga memberi selamat, sehingga setelah semua itu, Kiara berharap tidak ada lagi hubungan apapun dengan mereka.
“Sabarlah, Sayang. Mama yakin, setelah ini kamu akan bahagia, keputusanmu sudah tepat, Kia.” Mama Kiara, seolah memberikan ketegasan pada anaknya dan doa agar kesedihan yang Kiara alami, akan berubah menjadi sebuah kebahagiaan di masa depan.
“Kedepannya, mereka tidak ada hubungan apapun lagi dengan kita, jangan bersedih pada pria bahkan teman seperti itu, Kia!” seru Papa Kiara.
Kiara tidak banyak bicara, ia hanya diam membisu yang menatap kedua mempelai dengan sorot mata yang dingin. Proses pernikahan mereka yang sudah selesai, senyuman tipis terlihat dari raut wajah Kiara, ketika ia melihat mereka tidak bahagia.
Mereka tidak akan pernah bahagia, karena sudah merenggut kebahagiaanku bahkan dengan cara yang menyakitkan! Batin Kiara seolah kini ia menyimpan dendam.
Kiara mendengar banyak orang berbicara, tamu undangan yang hadir dimana mereka tahu jika seharusnya Kiara dan Daren lah yang menikah. Tapi di atas pelaminan justru Daren bersama dengan Shera, banyak hal yang mereka pikirkan, dan ingin mereka tahu, setelah melihat ekspresi wajah Daren dan Shera yang sama sekali tidak bahagia bahkan juga Kiara.
Namun, Kiara atau bahkan kedua orang tuanya enggan untuk menjelaskan kecuali jika salah satu dari pengantin itu mau mengatakan yang sebenarnya. Tapi Kiara yakin, jika mereka tidak mau menjelaskan pada para tamu yang hadir, dan lebih memilih untuk bungkam.
Kiara tidak mau mengatakan yang sebenarnya meski ada yang bertanya padanya atau bahkan kedua orang tuanya. Karena Kiara masih menghormati kedua orang tua Shera atau bahkan juga orang tua Daren.
“Selamat, Shera, kau berhasil membuatku tidak lagi percaya dengan seorang teman, atau bahkan sebuah ketulusan dan cinta dari seorang pria. Aku kini belajar darimu dan juga kau, Daren. Agar aku tidak terlalu menaruh harapan besar pada manusia,” ucap Kiara saat ia berhadapan kembali dengan pengantin yang tertunduk merasa bersalah.
“Kia, maaf. Aku harap kita masih bisa berteman,” ucap Shera pada Kiara dengan air mata yang mengalir.
“Teman, kau bercanda? Sudahlah, aku rasa aku sudah mengatakan apa yang aku inginkan, jika aku tidak mau lagi mengenal kalian! Ah, kalian benar-benar cocok, sama-sama pengkhianat!” sungut Kiara.
“Tidak, Kia. Aku mohon tunggu lah aku, akan segera kembali padamu, maafkan aku, aku menyesal,” seru Daren menatap Kia dengan perasaan bersalahnya.
Shera semakin tertunduk bahkan hatinya kian tersayat setelah mendengar perkataan Daren. Meskipun ini semua adalah sebuah kesalahan dan ia yang menjanjikan pada Daren agar bisa menceraikannya setelah melahirkan, namun jauh dari lubuk hatinya, ia berharap Daren mau menerimanya, menerima anak yang dikandungnya. Menikah dan menjadi keluarga yang bahagia.
Shera berharap, rasa cinta Daren pada Kiara akan hilang seiring berjalannya waktu, dan tergantikan dengan dirinya. Dicintai oleh Daren dengan tulus.
“Kau pikir aku mau dengan pria yang yang sudah menghianatiku? Aku akan menjadi wanita bodoh jika itu terjadi! Berbahagia saja kau dengan Shera, itu hadiahku, doa terbaik dariku, agar pernikahan kalian bahagia.”
Kiara pun lekas meninggalkan pengantin tersebut, diikuti oleh kedua orang tuanya. Tanpa melihat lagi ke arah belakang, menahan tangis karena rasa sakit hatinya, karena ia tidak mau terlihat lemah oleh kedua orang yang sudah sangat jahat padanya.
Sedangkan Daren, ia memandang punggung Kiara yang melangkah pergi, ia sangat tahu rasa sakit hati Kiara seperti apa. Daren sungguh sangat menyesal, telah membuat wanita yang dicintainya terluka, bahkan dengan sangat keji, mengkhianatinya dengan sahabat dari kekasihnya.
Andai saja, ia bisa kembali ke masa lalu, memperbaiki semuanya, hingga hari ini benar-benar menjadi hari bahagianya dengan Kiara bukan dengan Shera.
Shera, ia pun terlihat terdiam tidak bisa berkata-kata lagi, harapannya di masa depan, berharap semua akan baik-baik saja, bahagia seperti bersama Daren anak mereka.
Maafkan aku, Kia maaf … Batin dari Daren dan Shera.
***
Pesta pernikahan yang tidak ada kebahagiaan dari kedua keluarga.
Setelah pernikahan Shera yang mendapat amukan dari kedua orang tuanya, karena menjadi sahabat yang dengan tega menusuk sahabatnya sendiri, bahkan merusak hari yang seharusnya sakral.
“Mama tidak habis pikir denganmu, Shera! Mama kecewa padamu, jika kau benar hamil anak Daren, lalu mengapa kau malah jujur di hari pernikahan. Oh mama tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan Kiara saat ini. Dia pasti benar-benar hancur!” sungut Mama Shera.
“Dia tidak hancur, buktinya dia masih bisa melihat kita menikah! Mama seharusnya mendukungku, apa Mama mau, aku hamil tanpa suami?” sergah Kiara yang mulai berani membela dirinya.
Mama Shera menatap anaknya kesal, ia tidak percaya jika Shara anaknya tidak merasa bersalah, bahkan lebih mementingkan dirinya. Walaupun apa yang dikatakan Shera benar, namun tetap Shera sangat salah.
“TAPI TIDAK SEHARUSNYA KAU JUJUR DI HARI PERNIKAHAN MEREKA, SHERA!” hardik Ayah Shera membuat anaknya terdiam.
Ayah Shera memandang anaknya dengan perasaan yang sulit diartikan, rapi tergambar jelas jika Ayah Shera sangat kecewa ada anaknya yang tidak bisa menjaga dirinya.
“Lihat, perasaan bersalahmu hanya kau perlihatkan di hadapan Kiara. Ayah benar-benar kecewa padamu, Shera. Ayah bahkan malu pada diri ayah sendiri, karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik!” lanjut Ayah Shera yang lalu membawa istrinya pergi tanpa berkata sepatah katapun lagi pada anaknya, membiarkan Shera sendiri melalui semuanya bersama kehidupan yang ia pilih.
Shera pun terduduk lemas di lantai kamar hotel, perkataan ayahnya seolah menusuk hatinya sangat dalam.
“Malu …” Shera tertawa getir dengan air mata yang menetes di wajahnya, hingga Daren pun datang dan menghampirinya, Shera menatap Daren yang juga menatapnya dengan seringainya.
Daren mengangkat Shera dengan kasar dan menjatuhkannya ke atas ranjang yang dipenuhi dengan bunga mawar merah. Shera terlihat takut ketika melihat ekspresi wajah Daren yang sangat marah padanya.
“Apa ini yang kau rencanakan, jalang?” tanya Daren dengan penuh emosi.
“Daren, tenanglah, jangan seperti ini, aku .. Aku sedang hamil anakmu …”
“Hahaha, kau pikir aku peduli? Tidak Shera … Aku malah berharap anak ini tidak ada! Kau hancurkan kebahagiaanku, Shera. Kau hancurkan kebahagiaanku dengan Kiara!” sungut Daren pada Shera yang merenggut takut di ujung ranjang.
Daren seolah ingin menyiksa dirinya.
“Daren, kau, kau juga ingin diriku bukan, seharusnya kita bisa bahagia ..”
“KAU HANYALAH SEORANG JALANG! TIDAK ADA KEBAHAGIAANKU DENGANMU, SIALAN, PLAAAK …!”