Saat baru tiba di koridor rumah sakit, langkah Alaka cukup tergesa, tapi sekitar tiga meter menjelang ruang rawat Rafael, daya di sepasang kakinya justru melemah, keraguan merantai kuat-kuat dan mengajak Alaka untuk berhenti saja. Ia piawai terusik, langkahnya semakin memelan hingga terhenti tepat di depan pintu, tak perlu masuk pun ia sudah bisa melihat Rafael lewat kaca persegi yang menempel di pintu. Gadis itu menelan ludah, tanpa sadar tangan-tangannya mencengkram ujung mantel saat menemukan Siera bersemangat menyuapi sarapan untuk Rafael, sementara gadis itu semakin tak ingin masuk ke sana, ia bertahan di depan pintu tanpa berniat mengetuk, rasa semangat yang sempat menjadi bekal perjalanannya telah gugur. Alaka memilih mundur, berbalik dan duduk pada kursi tunggu di dekat pintu, ia

