Jika dibiarkan terlalu lama, Alaka hampir kehilangan udara untuk rongga d**a, buru-buru ia menekan d**a Rafael agar melepas peluk darinya sembari tersenyum canggung. "Um, jadi lo nggak marah?" Ia langsung bertanya agar menutupi kegugupan meski kentara kikuk, punggungnya kembali tegak. "Mau marah, tapi susah juga sih buat marah sama lo. Coba aja tadi gue pas buka kamera biar lo bisa lihat eskpresi lucunya." Rafael tersenyum lebar. "Lagian mana mungkin marah sih, lo udah baik bantu laporin masalah ini ke polisi, makasih banyak ya." Ibu jari serta telunjuknya menyubit lengan mantel Alaka dan menggoyangnya hingga tangan cewek itu bergerak maju mundur, seperti seorang anak yang merengek minta jajan. "Sama-sama, Raf. Lagian kok bisa sih ada orang yang tiba-tiba pukul lo kayak gitu sampai berda

