Apakah aku akan berdosa dengan bahagia di atas penderitaan orang lain?. Jujur, aku memang bahagia setelah melihat cincin pertunangan ku kembali ke jemariku. Tentu saja mas Barga sendiri lah yang memasangkannya untukku. Padahal di waktu yang bersamaan, ada Aisyah dan mas Adit yang sedang bersedih, mungkin. Kini, setelah sholat magrib, biasanya aku akan membaca beberapa lembar ayat suci Alquran, tapi entah kenapa aku tidak bisa malam ini. Aku terus memperhatikan jemariku yang terlihat indah dengan lingkaran cincin ini. Senyumku tak mau surut, terlalu sayang untuk cemberut dengan hal ini. Tok... Tok... "Nak, mau makan dulu?" Tanya ibu. Aku sontak menengok ke pintu dan menggelengkan kepala padanya. "Ajeng sudah makan tadi Bu sama mas Barga di perjalanan pulang. Ajeng juga sudah taruh la

