Kopi dan Coklat Panas (Ajeng's POV)

1231 Kata

Aku dan mas Barga masih terdiam seribu bahasa. Antara kami berdua masih tidak ada yang ingin mengawali pembicaraan ini. Aku duduk di sisi samping ranjang, begitupun mas Barga. Namun naasnya, kami bersebrangan. Berjauhan. Sebenarnya, pikiranku masih bercabang. Pikiranku penuh dengan dua sisi yang berbeda. Satu sisi, aku masih memikirkan ucapan tegas mas Dimas yang mengancam mas Barga. Satu sisi lagi, aku memikirkan kelanjutan pembicaraan malam ini. Bukan karena apa, mas Barga tiba-tiba mengajakku untuk mendiskusikan sesuatu. Tentu saja itu adalah hal yang sangat aneh, menurutku. Saking bingungnya, aku sampai kehausan. Bahkan untuk menelan ludah sendiri rasanya begitu seret. Daripada tersiksa seperti ini, lebih baik aku mengambil minuman saja. Aku berdiri dari ranjang dan berjalan mendek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN