“Nay, apa lo udah gila?” tanya Dira yang lagi-lagi tidak kenal tempat ketika bertanya dengan nada suara yang berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian. Nayla sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa malu.
“Sumpah ya Dira, lama-lama gue mending ngobrol sama lo via telepon daripada harus nanggung malu terus,” omel Nayla yang sudah tidak tahan menjadi pusat perhatian ketika membicarakan hal yang penting dengan Dira.
Wajar saja Dira terkejut hingga memberikan reaksi yang demikian apalagi setelah mendengar Nayla yang baru saja mengajak Adnan untuk bercerai. Bagi Dira, sahabatnya ini sangatlah bodoh karena mau begitu saja melepaskan Adnan yang menurutnya adalah pria yang baik, sopan, dan juga ramah. Kalau saja Dira berada di posisi Nayla sudah dapat dipastikan ia akan sangat senang dan bangga memiliki suami seperti Adnan.
“Bukan waktunya berdebat tentang suara gue, Nay. Tapi ini soal lo yang dengan gampang ngajak Adnan cerai, Apa lo nggak akan nyesel nanti kalau ngelepasin Adnan gitu aja?”
Nayla merasa heran dengan sikap Dira yang tiba-tiba saja mempermasalahkan tentang keputusannya tersebut. Biasanya rata-rata Dira akan pro dengan keputusannya tapi kali ini Dira malah menyayangkan sikapnya. Apakah Dira tidak ingin Nayla bahagia dengan hidupnya yang selama ini sudah terlalu rumit?
“Lo bodoh, Nay!” lanjut Dira.
“Lo ngatain gue bodoh hanya karena ngajak Adnan cerai? Tunggu masalahnya di mana?” tanya Nayla yang masih belum memahami maksud Dira yang tidak sefrekuensi dengan dirinya.
“Adnan itu cowok yang baik, sopan, dan juga ramah tapi cowok kayak gitu mau lo hempaskan begitu aja, Nay?”
Dari sini Nayla paham mengapa Dira begitu tega mengatain sebagai wanita bodoh tapi penilaian Dira mengenai Adnan juga tidak bisa langsung dibenarkan karena mereka baru mengenalnya dalam waktu kurang dari seminggu.
“Ayolah Dir, jangan menilai Adnan dari tampilan luarnya aja. Kita belum tahu sikap Adnan yang sesungguhnya,” kata Nayla yang berusaha membela dirinya di hadapan Dira. Sungguh tidak adil rasanya jika Dira menilai dalam satu kali pertemuan.
“Gue yakin banget kalau sikap Adnan yang sekarang itu bakalan sama aja sampai nanti dan siapa tahu dengan sikapnya yang begitu bahkan lebih bisa bikin lo klepek-klepek, Nay,” kata Dira yang tidak menutup kemungkinan baiknya.
“Astaga tunggu lo lagi sehat kan, Dir?” Nayla meletakkan punggung tanganya di kening Dira. “Panas kok, enggak dingin.”
“Nay enggak usah bercanda deh, ini serius!” omel Dira yang membuat Nayla yang tadinya tertawa menjadi diam.
“Ya ampun habisnya lo tuh kelihatan aneh, maksudnya kan...”
“Aneh bagaimana sih, Nay? Udahlah kalau lo nggak mau sama Adnan biar sama gue aja,” kata Dira yang tanpa sadar keceplosan menginginkan sosok Adnan menjadi pendamping hidupnya.
“Apa gue enggak salah denger ya?” tanya Nayla yang kemudian menyadari tentang ucapannya barusan lalu tersenyum malu dengan wajahnya yang memerah.
“Jadi alasan lo daritadi bela Adnan tuh karena ada udang di balik bakwan ya?” selidik Nayla.
“Bukan bakwan Nay tapi batu,” kata Dira memperbaiki peribahasa yang dengan seenaknya diubah oleh Nayla.
“Bodo amat gue nggak peduli yang jelas gue laper pengen makan lo, Dir!”
“Astaga, lo sekarang berubah jadi kanibal?” tanya Dira yang berusaha mengalihkan topik bicara mereka dengan sedikit candaan receh yang sayangnya tidak membuat Nayla luluh dengan perasaan kesalnya.
“Udahlah Dira jujur aja kalau suka sama Adnan?” tanya Nayla yang butuh kepastian.
“Lebih tepatnya bukan suka ya tapi lebih ke arah tertarik,” jawab Dira yang terdengar sama saja dengan kata suka. “Tapi lo tenang aja Nay karena gue bukan temen makan temen kok.”
“Kalau lo ada niat mau ambil Adnan silakan aja tapi pas gue udah resmi cerai dari dia karena sampai saat ini dia belum kasih jawaban tentang usulan yang gue kasih,” jawab Nayla yang sudah sepenuhnya normal kembali.
“Lagian kenapa lo enggak jalani dulu sih Nay? Paling enggak beberapa bulan sambil saling mengenal satu sama lain kayak kata Adnan.” Dira berharap Nayla mau mempertimbangkan keputusannya.
“Yang lo bilang tadi sama aja kayak usulan gue, Dir.”
“Maksud gue, lo enggak usah kasih batas waktu jadi terasa santai dan enggak di buru-buru,” kata Dira memperjelas maksudnya yang memang sama seperti Nayla tapi tetap ada perbedaannya.
“Sama aja, Dir.”
“Ya terserah lo aja deh, Nay,” kata Dira yang terlihat menyerah menghadapi Nayla berdebat.
“Kenapa ya sejak nyokap gue enggak ada rasanya masalah enggak berhenti buat dateng ke gue, gue jadi pengen nyusul nyokap deh,” lirih Nayla yang membuat hati Dira terenyuh.
“Astaga Nay jangan bicara seperti itu.”
“Tapi gue capek Dir kayaknya baru kemaren gue berencana mau bukan restoran ke dua gue tapi malah ada fitnah begitu dan dalam satu malam musibah lain dateng ke gue sampai gue sekarang udah jadi istri orang,” jelas Nayla yang merasa lelah.
“Sabar semua pasti bakaan indah pada waktunya,” kata Dira yang berusaha menenangkan sambil mengelus punggung Nayla supaya merasa . “Tapi apa bokap lo udah tahu soal pernikahan lo sama Adnan?”
“Belom soalnya gue belom ketemu lagi dan pesannya aja nggak gue bales apalagi teleponnya juga enggak gue angkat,” jawab Nayla yang memang sampai saat ini belum memberitahukan hal tersebut kepada sang papa. Nayla tidak ingin bertambah pusing dengan mendengar omelan dari papanya yang mungkin langsung salah sangka dengan kabar pernikahannya tanpa mau mendengarkan alasannya.
“Dasar anak durhaka nanti kalau dikutuk jadi batu mau?” ledek Dira.
“Mau aja asal batu permata ya biar kelihatan cantik,” balas Nayla yang merasa terhibur dengan candaan receh ala sahabatnya tersebut.
“Ah ya gue mau tunjukin wajah wanita yang waktu itu nganter lo pulang, Nay.”
Dira meraih ponselnya langsung menujukkan sebuah video yang kembali ditontonya bersama Nayla. Memang tidak terlihat cukup jelas tapi berhasil membuat Nayla teringat sosok wanita itu. Selain itu, Dira juga sempat menujukkan foto yang diambil secara keseluruhan tamu undangan adiknya tapi tidak menemukan sosok wanita yang sama dengan yang ada di video.
“Gue emang inget wajah cewek itu tapi gue bener-bener enggak ingat siapa dia,” jawab Nayla yang tidak membuahkan hasil yang baik.
“Tapi feeling gue bilang kalau cewek ini juga yang nyuruh orang untuk fitnah restoran lo,” kata Dira berasumsi setelah memperhatikan kembali hal buruk yang terjadi kepada Nayla di waktu yang sama dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
“Masa sih?” tanya Nayla yang masih tidak percaya.
“Itu dugaan gue aja ya soalnya kejadiannya tuh dalam satu hari kan dan berturur-turut,” jelas Dira yang membuat pikiran Nayla kembali berputar pada semua kejadian hari itu. Kalau memang benar wanita itu adalah dalang di balik ini semua lantas alasan apa yang membuatnya Nayla jadi seperti ini? Lalu, kenapa tidak langsung saja bicara empat mata jika memang dari memiliki masalah dengan Nayla?