Separuh Jiwa

1170 Kata
“Harus berapa kali aku bilang ke Papa untuk nggak datang menemui aku apalagi sampai berani nekat sampai datang ke restoran aku?” tanya Nayla yang merasa kesal dengan kedatangan papanya yang secara tiba-tiba ke restorannya hanya untuk menemui dirinya. Hubungan Nayla dengan papanya memang tidak harmonis sejak ia mengetahui kalau papanya memiliki hubungan spesial dengan wanita lain selain mendiang mamanya. Nayla memutuskan untuk pergi dari rumah ketika mendengar kabar penikahan kedua papanya. Selain itu, Nayla juga meminta kepada papanya untuk tidak memberitahukan mengenai sosok dirinya kepada keluarga baru papanya tersebut. Bukannya Nayla tidak ingin papanya bahagia bersama orang lain tapi sampai saat ini saja ia belum sepenuhnya menerima kepergian mamanya. Baginya kehilangan sosok mamanya sama saja kehilangan separuh jiwanya. Mungkin ini terdengar egois tapi itulah yang sampai saat ini sedang Nayla rasakan. “Papa ke sini hanya ingin menawarkan bantuan sama kamu karena Papa dengar restoran kamu difitnah oleh orang lain dan jadi sepi,” kata Ferdi menjelaskan maksud kedatangannya kepada putrinya. Jujur saja Ferdi merasa sangat sedih ketika mengetahui kabar buruk yang menimpa putrinya. Beliau hanya berusaha menawarkan bantuan agar Nayla bisa menjalankan bisnisnya kembali walau Ferdi yakin pasti akan kembali ditolak. “Aku tidak butuh dikasihi oleh siapapun termasuk sama Papa jadi aku mohon jangan lakukan hal apapun untuk aku,” pinta Nayla yang tidak ingin membagi bebannya kepada siapapun termasuk kepada papanya sendiri. Nayla hanya tidak ingin memiliki hutang budi dengan siapapun termasuk kepada papanya karena ia tahu suatu hari pasti beliau meminta hal lain padanya seperti kembali ke rumah dan juga menerima keluarga barunya tersebut. “Tapi Nay—“ “Apa Papa sekarang mulai meragukan kemampuanku untuk menyelesaikan masalahku sendiri?” potong Nayla. Inilah alasan mengapa Nayla enggan bertemu dengan papanya karena pertemuan mereka akan selalu diwarnai dengan sebuah perdebatan. “Bukan seperti itu tapi Papa hanya ingin membantu usaha kamu saja,” ucap lirih Ferdi. “Kalau Papa mau membantuku lebih baik Papa tidak usah lagi menemuiku atau datang lagi ke tempat ini dan sebaiknya Papa urus saja keluarga baru Papa,” kata Nayla sambil menyilangkan tangannya lalu menatap ke sudut lain. “Sampai kapan kamu ingin terus bersikap seperti ini Nayla? Kalau Mamamu masih hidup pasti....” Nayla menutup kedua telinga dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin mendengar hal apapun lagi yang berkaitan dengan mamanya. “Aku tidak ingin mendengar hal apapun!” teriak Nayla dengan tangisnya yang pecah. “Nayla....” Ferdi bangkit dari tempat duduknya lalu berusaha mendekati Nayla tapi wanita itu malah menjauhkan dirinya. Hal itu tentu membuat beliau merasakan sakit yang luar biasa hingga kedua matanya berkaca-kaca. “Aku mohon sebaiknya Papa pergi dari sini,” kata Nayla dengan nada memohon. “Bailah Papa akan pergi tapi jagalah dirimu sendiri dengan baik,” kata Ferdi sebelum meninggalkan Nayla. Tak lupa beliau menghapus air matanya yang sempat membasahi pipinya ketika wajahnya berpaling dari putrinya. Setelah papanya pergi Nayla menumpahkan rasa sedihnya dengan menangis, ia tidak peduli lagi jika suara tangisnya akan terdengar sampai ke lantai dasar di mana para karyawannya berada. Sejak tadi memang Nayla melarang siapapun untuk naik ke lantai dua sampai obrolannya dengan sang papa selesai. “Mama maafkan aku karena aku dan Papa selalu bertengkar seperti ini,” gumam Nayla sambil menghapus sisa air matanya. Nayla sendiri sebenarnya tidak ingin selalu bertengkar dengan sang papa tapi ketika mereka bertemu ada perasaan marah yang selalu saja memuncak. Pukul sepuluh malam Nayla baru keluar dari ruang office yang memang dia sediakan untuk mengerjakan tugasnya yang menyangkut tentang restoran atau berdiskusi dengan para karyawannya dan yang lainnya. Sebenarnya Nayla sudah menyuruh para karyawannya untuk tutup lebih cepat sekitar satu jam lalu tapi ketika melewati area dapur terdengar suara berisik hingga ia memutuskan untuk memeriksanya lebih dulu. “Dika, lo belom pulang?” tanya Nayla kepada Dika yang terlihat sedang sibuk membuat sesuatu. Wanita itu melangkahkan kakinya lebih dekat ke arah Dika yang tersenyum ke arahnya. “Belum soalnya tadi gue kepikiran mau buat resep andalan kita buat makan malam kita,” jawabnya santai sambil meletakan kuah soto betawi ke dalam mangkuk terakhir. Dika tahu sejak tadi siang Nayla sama sekali belum makan apalagi setelah ia mengetahui kalau wanita itu berubah mendadak murung. Pria itu sengaja memasak soto betawi kesukaan Nayla di saat para karyawan yang lain sudah pulang. “Makan malam buat kita?” Nayla mengerutkan dahinya. “Iya buat lo sama gue,” jawab Dika. “Tapi Dik—“ “Gue enggak mau lo nolak makanan yang udah gue buat ini jadi mau enggak mau lo harus makan bareng gue, Nay,” potong Dika yang tidak ingin mendengar penolakan dari Nayla. Nayla tersenyum dengan matanya yang mulai berkaca-kaca karena di sisi lain masih banyak orang yang peduli dengan dirinya. Selama ini Nayla merasa sangat kesepian dan sendirian apalagi setelah memutuskan meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan dengan kedua orang tuanya. “Nay, kenapa lo nangis? Apa lo enggak suka makanannya?” tanya Dika ketika melihat air mata Nayla yang sudah membasahi wajahnya. Nayla pun tersadar dari lamunan lalu segera menghapus air matanya. “Enggak kok, ini kan makanan kesukaan gue,” kata Nayla sambil tersenyum. “Udah yuk kita makan bareng kebetulan gue juga udah lapar.” Nayla lebih dulu duduk di sebelah Dika ketika melihat kursi yang baru saja diletakan pria itu. Dika tersenyum ketika melihat Nayla mulai menikmati makan malam buatannya. Pria itu merasa senang karena akhirnya Nayla mau mengisi perutnya yang mungkin sudah lapar sejak tadi. “Dik, ayo duduk juga dong jangan cuma nontonin gue makan,” ajak Nayla sambil meraih tangan Dika untuk duduk dan ikut makan bersama. “Nay, lo yakin kalau kita mau tutup restoran selama dua hari?” tanya Dika membuka obrolan di antara mereka sambil menikmati makanannya. Sore tadi Nayla memang mengumpulkan semua karyawannya dan memberitahukan kalau restoran akan tutup selama dua hari. Tapi di hari pertama semua karyawan akan Nayla ajak untuk membersihkan restoran sekaligus mengubah beberapa posisi letak benda-benda yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Sementara di hari kedua Nayla akan mendiskusikan kembali menu apa yang akan mereka persiapkan untuk keperluan lomba serta mendiskusikan hal lain untuk kemajuan restorannya bersama para karyawannya. “Yakin dong, kalau enggak yakin mana mau aku tutup resto.” “Tapi lo enggak berpikir buat nyerah kan, Nay?” “Enggak kok cuma menurut gue harus ada yang kita diskusiin lagi untuk membuat beberapa perubahan untuk resto kita,” jawab Nayla menjelaskan maksud dan tujuannya kembali kepada Dika. Sedangkan Dika merasa senang karena Nayla bisa kembali bersemangat serta berambisi seperti biasanya. “Tapi Dik, gue kayaknya bakal batalin rencana kita untuk membuka beberapa cabang ya setidaknya sampai nama baik restoran kita kembali seperti dulu dan gue minta maaf ya karena lagi-lagi gue nggak nepati janji buat ngangkat lo jadi manajer di sana,” tambah Nayla yang merasa menyesal karena melihat kondisi restorannya saat ini benar-benar jauh dari bayangannya dahulu. Dika meraih tangan Nayla dan menggenggamnya membuat wanita itu terkejut hingga menatapnya. “Gue enggak masalah kok Nay asalkan lo bisa tetep kuat dan enggak pernah menyerah itu lebih dari cukup buat gue.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN