“Ada di mana Nayla sekarang? Kenapa sampai selarut ini dia belum sampai di rumah?” gumam Adnan ketika melihat jam dinding yang menujukkan pukul sebelas malam.
Awalnya Adnan ingin makan malam bersama dengan Nayla karena memang ia sempat membawa beberaapa makanan dari rumah orang tuanya, tapi ketika ia mengetahui Nayla pulang malam ia memutuskan makan malam sendiri. Setelah itu, Adnan juga dengan sengaja menunggu Nayla siapa tahu wanita itu membutuhkan bantuannya seperti minta dijemput dari tempat kerjanya.
“Makasih ya Dik karena lo udah mau nganterin gue pulang,” kata Nayla yang terdengar samar oleh Adnan. Pria itu pun langsung bangkit dari sofa setelah mematikan televisi, lalu mengintip melalui celah jendela.
“Siapa pria itu? Apakah dia teman Nayla atau kekasihnya?”
Melihat Nayla akrab apalgi sampai diantarkan pulang sampai ke rumah membuat Adnan penasaran dengan sosok Dika. Sikap Nayla terlihat jauh berbeda jika berhadapan dengan Adnan dan juga Dika.
“Sama-sama Nay, habis ini lo langsung istirahat aja karena kelihatannya hari ini capek banget,” kata Dika sambil tersenyum kepada Nayla. Dengan jelas Adnan bisa melihat kalau Dika memberikan perhatian yang lebih dari sekedar teman.
“Apa pria yang bernama Dika ini adalah alasan Nayla ingin secepatnya bercerai denganku? Lebih tepatnya mungkin Nayla tidak ingin menyakiti hati pria ini?”
Entah siapa yang akan menjawab setiap rasa penasaran yang saat ini sedang dirasakan Adnan. Haruskah ia bertanya langsung kepada Nayla biar mendapatkan sebuah kesejalasan? Atau haruskah ia menyimpan semua pertanyaannya di dalam hati saja?
“Iya lo juga langsung istirahat kalau udah sampe rumah dan sekali lagi terima kasih karena udah mau repot bikin makanan kesukaan gue, kalau nggak ada lo mungkin malam ini gue nggak akan makan dan langsung tidur,” balas Nayla yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Dika.
“Lain kali kalau lo lagi enggak mau makan bilang aja sama gue biar gue masakin semua makanan kesukaan lo....” Dika menepuk bahu Nayla. “Kalau gue perhatiin makin ke sini lo kelihatan kurusan Nay jadi mau senggak mau apapun lo harus makan, jangan sampai sakit atau sampai kalah buat menghadapi semua masalah lo nanti.”
Lagi-lagi ketika dua insan tersebut saling menatap satu sama lain membuat Adnan berpikir kalau Nayla juga memiliki perasaan yang sama dengan Dika. Adnan memutuskan untuk berhenti memperhatikan interaksi di antara keduanya.
Adnan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum sebelum pergi ke kamarnya. Pria itu merasa tidak perlu menanyakan sosok Dika kepada Nayla karena Adnan sudah membuat kesimpulan sendiri kalau mereka berdua terlihat saling menyayangi satu sama lain.
“Iya Dik, terima kasih ya buat semua perlakuan baik lo ke gue.”
Untuk kesekian kalinya Nayla merasakan gelenyar aneh di dalam dirinya ketika mendapatkan perhatian serta tatapan dari Dika yang tidak biasa dari biasanya. Tapi hal itu juga menimbulkan perasaan canggung di antara keduanya hingga Nayla memilih untuk menyingkirkan tangan Dika dari bahunya.
“Sorry Nay....” Dika menganggarukkan kepalanya dengan menundukkan pandangannya. “Kalau begitu gue pamit pulang sekarang ya,” lanjut Dika sambil berjalan menuju mobilnya.
“Iya hati-hati, Dika.”
Setelah mobil Dika menghilang Nayla langsung masuk ke dalam rumahnya dan melihat Adnan dari arah dapur dengan segelas air di tangannya. Nayla pikir Adnan sudah tidur tapi nyatanya pria itu masih berkeliaran di dalam rumah.
“Lo belom tidur, Nan?” tanya Nayla yang membuat Adnan menoleh ke arahnya.
“Udah kok tapi kebangun karena haus,” dustanya.
“Oh gue pikir....“ bisa-bisanya Nayla berpikir Adnan akan menunggunya pulang. Tapi kalau dipikirkan kembali apa untungnya Adnan menunggunya pulang? Tidak ada kewajiban atau pun keharusan untuk itu bukan?
“Ada apa, Nay?” tanya Adnan yang menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Nayla.
“Enggak kok lupain aja,” jawab Nayla sambil mengibaskan tangannya ke udara.
“Kalau begitu aku kembali ke kamarku ya dan kamu langsung istirahat karena kelihatannya kamu capek banget deh,” pamit Adnan yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
“Kenapa tiba-tiba ikutan haus ya?” gumam Nayla lalu melangkahkan kakinya menuju dapur dan mengambil botol air dingin dari dapur. Nayla sempat melihat beberapa mangkuk berisi beberapa makanan di sana.
“Loh ada makanan? Apa Adnan yang beli buat makan dia tadi? Tapi ini banyak banget dan ini dia juga beli buat stok? Tapi kok bungkusnya bukan dari toko dan terlihat seperti....“
Nayla yang awalnya bertanya-tanya dari mana semua makanan yang ada di kulkasnya ini akhirnya mengingat beberapa percakapan dengan Adnan sebelum ia pergi. Ternyata semua makanan ini datang dari rumah orang tua Adnan yang memang mungkin sengaja dibawanya.
“Sesayang ini orang tuanya sampai takut kalau anaknya kelaparan di sini,” lirih Nayla sambil menutup pintu kulkas dan menenggak minuman miliknya.
“Tapi apa Adnan laporan sama orang tuanya kalau selama beberapa hari di sini dia dikasih makan dari luar?” tanya Nayla yang masih saja berpikir buruk tentang datangnya semua makanan ini. Apakah setelah ini ia akan dicap sebagai menantu yang buruk? Tapi haruskah Nayla peduli tentang hal itu karena memang dia saja sampai saat ini belum menerima pernikahannya dengan Adnan.
“Terserah deh mau dicap sebagai apa lagian belum tentu mereka anggep gue sebagai menantunya kan? Apalagi pernikahan ini hanya sebuah kecelakaan,” gumam Nayla yang tidak ingin ambil pusing tentang penilaian kedua orang tua Adnan. Toh jika Adnan menerima tawarannya nanti mereka akan segera bercerai setelah satu tahun bersama.
Ketika Nayla sudah berada di depan pintu kamarnya, wanita itu mendapatkan pesan dari Dika yang mengabari kalau ia sudah sampai di rumah. Bersamaan dengan itu muncul sebuah senyum dengan rona merah di kedua pipi Nayla ketika mendapatkan pesan dari Dika, ditambah tatapan hangat Dika yang terasa menusuk sampai ke hatinya yang berubah menjadi sangat hangat.
“Apa gue udah mulai jatuh cinta sama Dika? Tapi kalau Dika tahu gue udah nikah sama Adnan apa dia masih mau kasih perhatian itu buat gue?”
Nayla tidak yakin dengan apa yang dirasakannya saat ini adalah cinta atau bukan. Tapi jika memang itu adalah cinta dan mereka sama-sama memeliki perasaan yang sama, Nayla masih mempertanyakan reaksi Dika jika sampai mengetahui pernikahan yang terjadi di antara keduanya.
Wanita itu tidak bisa membayangkan jika hatinya akan patah jika saja Dika mengetahui tentang pernikahannya dan memutuskan untuk meninggalkan dirinya. Akankah hatinya kembali dingin seperti semula?
Hal itu membuat Nayla tidak sabar untuk menunggu jawaban dari Adnan yang harus ia tunggu dalam kurun waktu dua hari lagi. Tapi hal yang menggemaskan lainnya adalah bagaimana Nayla akan menyimpan rahasia mengenai pernikahannya di depan Dika?