Selama Tiga hari Adnan berusaha mikirkan dengan baik atas tawaran yang diberikan Nayla karena ia benar-benar tidak ingin salah langkah. Beban di bahu Adnan pun bertambah ketika kemarin ayahnya berpesan untuk mempertahankan pernikahan mereka. Walau pernikahan mereka terjadi karena sebuah kecelakaan tapi jika mereka bercerai tentu bukan hal yang baik.
Pak Ahmad memiliki pikiran yang sama dengan Adnan yang menyuruhnya untuk saling mengenal satu sama lain sebagai bentuk pendekatan setelah menikah. Dan sebagai kepala keluarga Adnan diminta untuk memberikan pengertian tentang arti pernikahan serta perceraian yang memang dilarang dalam agama mereka kepada Nayla.
Walau sampai saat ini Ibu Aisyah masih tidak menyukai atau bahkan masih menyalahkan Nayla atas terjadinya semua masalah yang datang pada keluarganya, tapi pak Ahmad meminta Adnan untuk berpikir lebih bijaksana. Beliau juga menyampaikan akan membantu Adnan dengan selalu memberikan pengertian kepada istrinya untuk menerima sosok Nayla secara perlahan sebagai menantu mereka.
“Nayla, apa kamu sedang sibuk?” tanya Adnan basa-basi kepada Nayla ketika melihat wanita itu sedang berada di ruang tengah sambil menonton televisi.
“Enggak, ada apa?” tanya Nayla sambil menoleh ke arah Adnan yang baru saja datang menghampirinya. Hari ini memang Nayla sangat santai karena Dika memintanya untuk bergantian libur dengannya.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Adnan yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nayla. Wanita itu langsung meraih remote dan mematikan televisi agar bisa fokus saat mengobrol.
“Apa yang mau lo obrolin sama gue?” tanya Nayla yang sepertinya lupa kalau hari ini Adnan harus memberikan jawaban atas tawarannya beberapa waktu lalu.
“Aku mau kasih jawaban atas tawaran kamu beberapa hari lalu,” jawab Adnan yang sudah duduk di sofa yang ada di sebelah kanan Nayla. “Tawaran itu masih berlaku atau kamu sudah berubah pikiran?”
“Tentu masih berlaku cuman gue hampir lupa kalau batas waktu lo kasih jawaban itu hari ini, jadi apa lo setujui dengan tawaran gue?” tanya Nayla sambil menyilangkan tangannya dan bersandar pada kepala sofa.
“Aku mau menerima tawaran yang kamu berikan tapi dengan syarat,” jawab Adnan yang awalnya membuat Nayla senang tapi di ujung kalimat membuat wanita itu terkejut.
“Syarat apa? Jangan aneh-aneh ya syaratnya.”
“Enggak kok, aku cuman mau kamu berusaha jadi istri dan menantu yang baik untuk aku dan kelaurgaku,” jawab Adnan sambil tersenyum.
“Oke gue se— eh tunggu tapi maksudnya jadi istri yang baik itu bukan termasuk dalam urusan ran....” Nayla tidak melanjutkan ucapannya karena ia malu untuk mengatakan hal itu. “Maksud gue kita tetep tidur di kamar yang terpisah kan?”
“Kamu tenang aja kalau soal itu aku tidak menginginkannya jika kamu belum siap tapi menjadi istri dan menantu yang baik menurut aku adalah kamu mampu bertanggung jawab menjaga kehormatan suami dan patuh pada suami,” jelas Adnan yang membuat Nayla bernapas dengan lega.
“Cuma itu aja kan? Deal....” Nayla menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Tapi Nay, kalau di depan keluargaku terutama orang tuaku apa kamu mau bersikap seolah kita berdua ini benar-benar seperti sepasang suami-istri?” tanya Adnan kembali sebelum menjabat tangan Nayla.
“Soal itu tenang aja, gue pandai kok dalam berakting,” jawab Nayla tanpa merasa keberatan sama sekali karena ia merasa mampu untuk melakukannya.
Keduanya pun saling berjabat tangan tanda kalau mereka menyepakati perjanjian di antara mereka. Adnan pun merasa senang dan lega karena Nayla mudah diajak bernegosiasi.
“Oh ya, lo hari ini sibuk nggak? Soalnya gue mau minta tolong buat anterin ke supermarket kalau bisa,” kata Nayla yang mengingat kalau persediaan isi dapurnya sudah menipis. Selain itu sekalian ada Adnan kan bisa saja sekalian Nayla manfaatkan.
“Enggak kok, kebetulan lagi senggang aja. Mau dianterin kapan, Nay?”
“Sekarang deh biar nanti kita makan malem sekalian di luar, nggak apa-apa kan? Adnan menganggukkan kepalanya tanda setuju. “Kalau begitu, gue ganti baju dulu ya.”
Nayla pun segera pergi ke kamarnya dan Adnan melakukan hal yang sama. Sungguh pria itu merasa sangat senang sekali karena ini pertama kalinya mereka pergi berdua sebagai sepasang suami-istri, ya walau belum sepenuhnya tapi Adnan berusaha memanfaatkan momen tersebut untuk lebih dekat dengan Nayla.
Sekitar setengah jam Adnan dan Nayla berkutat di supermarket untuk membeli keperluan dapur serta keperluan harian mereka masing-masing hingga tanpa terasa troli mereka sudah penuh. Awalnya Nayla dan Adnan terlihat sangat canggung tapi semakin lama suasana pun mencair ketika mereka menemukan obrolan yang tepat seperti berbagi resep kesukaan makanan masing-masing.
Nayla baru tahu kalau sebenarnya Adnan sangat menyukai ayam betutu makanan khas Bali tersebut. Pantas saja waktu itu Adnan meminta makanan yang terasa pedas atau menggunakan sambal karena makanan favoritnya tersebut sangatlah pedas.
“Kapan-kapan kalau aku senggang kita masak ayam betutu sama-sama ya,” ajak Adnan ketika mereka sedang mengantri untuk membayar belanjaan mereka.
“Boleh tuh tapi nanti lo kasih tahu resep dan cara masaknya ya,” balas Nayla yang terdengar antusias dan tanpa sadar sikap dinginnya kepada Adnan pun mulai mencair.
“Habis ini kita mau makan di mana, Nay? Udah laper belom?” tanya Adnan yang teringat kalau Nayla mengajaknya makan malam bersama di luar.
“Laper sih udah tapi lo mau request makanan atau ada saran buat makan malam kita?” tanya Nayla balik karena memang ia sendiri bingung apalagi otaknya sudah tidak bisa diajak berpikir walau hanya untuk memilih makanan.
“Lo suka makan pedes nggak?” tanya Adnan.
“Suka tapi masih di level sedang, kenapa? Lo mau ajak gue makan di mana?”
“Kita makan ayam rica-rica yuk karena tadi aku sempat lihat masakan manado di dekat sini,” ajak Adnan yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
“Lo tuh suka kulineran juga, Nan?” tanya Nayla sambil memindahkan belanjaan mereka ke meja kasir agar bisa di scan oleh petugas kasir. Adnan pun tak hanya diam saja sambil mengobrol tangannya ikut membantu Nayla.
“Suka malah kalau lagi traveling ke tempat lain, aku sekalian cari makanan khas di sana,” jawab Adnan.
“Kalau begitu saya boleh dong mas diajak sekalian makan bareng gitu,” seru petugas kasir yang tanpa diajak ikut mengobrol dengannya. Hal itu tentu membuat Nayla dan Adnan saling berpandangan.
“Mbak, tolong ya kalau lagi kerja jangan godain suami orang,” kata Nayla yang terdengar sebagai kata penolong bagi Adnan apalagi pria itu sama sekali tidak suka digoda oleh lawan jenisnya.
“Eh maaf Mbak, saya pikir dia temennya habisan ganteng banget sih Masnya,” seru petugas kasir yang berhasil membuat Nayla melongo saat mendengarnya. Padahal jelas-jelas tadi Nayla sudah menegurnya tapi malah berlanjut dengan terang-terangan menggoda Adnan di hadapannya.