Perhatian Yang Sama

1109 Kata
Setelah Adnan beres dengan persiapannya untuk pergi ke luar kota, Nayla memaksa untuk mengantar Adnan ke bandara. Hal itu Nayla lakukan untuk menebus rasa bersalahnya yang sudah mengajak Adnan pergi. “Seharusnya kamu enggak usah antar aku sampai bandara karena ini udah malem banget dan seharusnya kamu istirahat karena besok harus kerja,” kata Adnan yang saja turun dari mobil dengan koper yang sudah ada di sampingnya. Jujur saja Adnan sangat mengkhawatirkan Nayla yang rela mengantarnya sampai bandara. Pria itu tidak tega jika Nayla pulang sendirian ke rumah. Apakah sekarang rasa bersalah di antara keduanya sudah seimbang? “Ya ampun ini masih jam sembilan malam dan itu itungannya masih sore, Nan,” kata Nayla santai dan tersenyum tanpa beban. “Tapi tetep aja kamu ini wanita dan enggak baik kalau pulang malam sendirian, oh ya sebentar....” Adnan merogoh kantung sakunya dan mengambil dompetnya lalu mengeluarkan stnk mobilnya. “Selama aku keluar kota kamu pakai aja mobil aku ini.” “Lo serius? Apa lo enggak takut kalau pulang-pulang mobil lo rusak atau gue jual?” tanya Nayla dengan nada bercanda hingga membuat keduanya terkekeh bersama. “Aku percaya kok sama kamu karena sepanjang jalan tadi kamu bawa mobil dengan hati-hati,” jawab Adnan sambil meraih tangan Nayla dan memberikan stnk mobil miliknya. “Oke gue akan berusaha jaga kepercayaan lo tapi berapa lama lo akan pergi?” “Sekitar tiga sampai empat hari mungkin karena bersamaan dengan acara kantor, Nay. Kenapa? Apa kamu enggak bisa nahan kangen sama aku selama empat hari?” Pertanyaan Adnan berhasil membuat pipi Nayla menghangat dan bersemu merah. Entah apa yang sedang dirasakan Nayla saat ini karena baru sebentar mereka mengenal tapi terasa sudah pernah dekat lama. “Apa lo lagi bercanda? Mana mungkin gue bakalan kangen sama lo?” elak Nayla yang sebenarnya memiliki sedikit perasaan kehilangan saat tahu Adnan akan pergi meninggalkan rumah dalam beberapa hari. “Ya kan siapa tahu Nay, berharap sedikit boleh lah,” seru Adnan sambil tersenyum. “Masih aja usaha ya lo tapi berarti kalau urusan kantor....” “Ada Nita juga di sana tapi kamu enggak usah khawatir aku bakalan selalu menundukkan pandangan dan jaga hati aku buat kamu, Nay,” lanjut Adnan ketika Nayla terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Apa sih gue bukan mau ngomong soal itu kok tapi—“ “Iya maaf aku bercanda, oh ya kamu habis ini pulangnya hati-hati dan kabarin aku kalau kamu udah sampai rumah,” potong Adnan yang tidak ingin membuat Nayla tidak nyaman. “Iya tapi lo engga mau gue temenin sampai ke dalam?” tanya Nayla. “Sampai sini aja enggak apa-apa kok, Oh ya sebentar...” Adnan melepaskan jaket miliknya dan meletakkannya di bahu Nayla untuk membuat tubuh wanita itu terasa hangat apalagi udara malam hari sangatlah dingin. “Pakai ini ya Nay soalnya udara malam ini dingin banget dan pakaian kamu agak tipis takut masuk angin,” kata Adnan yang membuat Nayla bergeming karena merasa haru diperlakukan demiikian oleh pria itu. Sampai Nayla berpikir masih pantaskah dirinya mendapatkan perlakuan seperti ini? Apalagi dirinya sudah meminta cerai dari Adnan. “Kalau begitu, aku pergi sekarang ya dan kamu bisa langsung pulang ke rumah, Assalamualaikum,” pamit Adnan yang membuat lamunan Nayla seketika buyar. Adnan meraih kopernya lalu mulai melangkahkan kaki meninggalkan Nayla. “Adnan...” Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Nayla. “Kenapa, Nay?” “Hati-hati di jalan ya,” kata Nayla sambil melambaikan tangannya di udara sebagai tanda perpisahan darinya. Adnan pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu kembali melangkahkan kakinya. “Waalaikumsalam....” gumam Nayla yang baru teringat kalau ia belum membalas salam perpisahan dari Adnan. Nayla pun kembali masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba saja Nayla teringat kepada sosok mamanya yang selalu memberi perhatian kepadanya dan salah satu bentuk perhatian itu sama seperti yang dilakukan Adnan tadi. “Ma, Nayla berangkat sekarang ya,” pamit Nayla yang baru saja sampai di lantai dasar. Saat itu Nayla sedang buru-buru untuk segera berangkat ke sekolah karena memang ia sudah terlambat. “Nayla tunggu, Nak...” teriak Ami dari arah dapur sambil berlari mendekati Nayla. “Ada apa lagi, Ma? Nayla sudah terlambat,” keluh Nayla yang merasa tidak bisa meladeni permintaan sang mama. “Pakai jaket Nay karena udara pagi ini sangat dingin apalagi sejak tadi hujan,” kata Ami sambil memakaikan jaket kepada Nayla. “Lalu, bawa bekalmu karena kamu selalu saja melewatkan sarapan.” “Astaga Mama, Nayla bukan anak kecil yang selalu harus diperhatikan seperti ini.” “Kamu memang bukan anak kecil tapi sikapmu masih sama seperti dulu. Lagi pula di mata Mama kamu tetap anak kecil kesayangan Mama, ingat itu,” kata Ami mengingatkan dan hal itu membuat Nayla tersenyum. “Terima kasih Mamaku yang baik,” kata Nayla sambil memeluk tubuh mamanya secara tiba-tiba. Hal itu membuat Ami merasa terkejut sekaligus bingung. “Eh ada apa ini? Kenapa tiba-tiba meluk Mama? Pasti ada maunya,” tebak Ami yang sudah hapal jika Nayla bersikap manis seperti ini. “Mama tahu aja, iya nih Nayla mau minta uang tambahan soalnya nanti sepulang sekolah mau beli bahan buat tugas sekolah besok, boleh ya, Ma?” rayu Nayla dengan raut wajahnya yang memelas. “Kenapa tidak pakai uang jajanmu saja?” “Yah Mama itu kan khusus buat jajan bukan buat tugas sekolah,” jawab Nayla dengan bibirnya yang condong ke depan persis bebek. “Selalu deh jawabannya seperti ini, baiklah sebentar...” Ami merogoh kantung sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikan kepada putrinya. “Ini nanti kembaliannya kasih Mama lagi ya,” pesan Ami. “Terima kasih Mama tapi kembaliannya buat Nayla aja ya soalnya uang jajan minggu ini sudah habis,” kata Nayla yang merasa sangat senang karena mendapatkan uang lebih besar dari targetnya membeli bahan untuk keperluan sekolah. Ami membuang napas berat. “Ampun deh Nayla, ya sudah tapi uang jatah minggu depan Mama potong.” “Ya Mama kok begitu?” “Nayla, ayo cepat berangkat kita sudah kesiangan,” teriak Ferdi yang mengingatkan Nayla kalau ia akan terlambat jika terus-terusan berdebat dengan sang mama. “Iya, Pa,” teriak Nayla. “Ya sudah Ma, Nayla berangkat dulu ya,” kata Nayla yang asal nyelonong tapi dengan cepat Ami menahannya. “Ada apa lagi sih, Mama?” “Cium tangan Mama dulu dan jangan lupa ucapkan salam Nayla masa hal mudah seperti itu harus selalu Mama ingatkan?” kata Ami mengingatkan dan berhasil membuat Nayla tersenyum. “Maaf Ma, Nayla lupa....” Nayla mencium punggung tangan Mamanya. “Nayla berangkat ya, Ma, Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam Nay, belajar yang rajin ya,” balas Ami dengan setengah berteriak karena Nayla sudah berlari meninggalkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN