Pagi ini Nayla berangkat bekerja menggunakan mobil Adnan yang baru saja terparkir di halaman restorannya. Ketika keluar dari mobil Nayla berpapasan dengan Dika yang mengira dirinya sebagai pelanggan yang baru saja mampir.
“Astaga Nay, gue kirain pelanggan yang mau makan ke restoran kita,” seru Dika yang sempat menganggetkan Nayla karena wanita itu baru saja memasukkan kunci mobil ke dalam tasnya.
“Eh Dik, baru dateng juga?” tanya Nayla basa-basi.
“Iya tapi ini mobil siapa? Apa lo baru beli mobil?” tanya Dika yang sangat penasaran.
Nayla tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Bukan, ini punya temen gue tapi orangnya lagi di luar kota dan daripada nganggur gue pake aja deh.”
“Baik banget temen lo sampe mau minjemin mobil sama lo, Nay. Tapi temen lo itu cewek apa cowok?” selidik Dika.
“Harus banget ya Dik nanyanya sedetail itu?” tanya Nayla balik sambil tersenyum dan melangkah kakinya berjalan masuk ke dalam restoran. Dika pun mengikuti di belakang Nayla.
“Oh ya Nay,gue punya usul untuk makanan yang akan kita kirim ke kontes,” seru Dika ketika mereka baru saja memasuki ruang office dan kini Nayla sedang menyalakan komputer yang ada di meja kerjanya.
Nayla meletakkan tas miliknya dan berali menatapa Dika. “Makanan apa yang mau kirim buat kontes?”
“Soto betawi kesukaan lo aja, Nay.”
“Eem... boleh sih tapi apa menurut lo restoran lain enggak akan ngirim soto betawi buat makanan andalan mereka juga?”
Sebenarnya Nayla tidak keberatan dengan usulan Dika hanya saja menurutnya soto betawi terlihat biasa bukan berarti tidak spesial apalagi kemarin Nayla baru saja makan soto betawi sekitar empat atau lima kali dalam seminggu. Sudah dipastikan kalau Nayla bosan mendengar menu makanan tersebut.
Selain itu faktor lainnya adalah kalau dalam sebulan menurutnya sudah banyak restoran lain yang mulai bersaing menjual beranega ragam macam soto. Dan dapat dipastikan sebagian orang juga akan merasa bosan sama dengan dirinya.
“Ya enggak tahu sih Nay, apa lo ada pendapat lain?” tanya Dika.
“Gimana kalau lo bikin ayam betutu?”
“Ayam betutu, Nay?” Dika mengerutkan dahinya karena bingung pasalnya menu ayam betutu saja tidak ada di restoran mereka. Nayla menganggukkan kepalanya.
“Iya ayam betutu yang makanan khas bali itu, lo tahu kan?”
“Tahu sih tapi gue belom pernah buat dan itu enggak ada di menu restoran kita,” jawab Dika sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
“Sebenernya semalem gue udah mikirin banyak hal termasuk mengganti menu restoran kita dengan beberapa menu baru yang salah ayam betutu jadi gue rasa lo udah bisa mulai coba-coba buat resep ayam betutu buat menu baru kita,” jelas Nayla yang baru mulai dipahami oleh Dika.
Dika sendiri tidak keberatan mungkin ini juga salah satu strategi yang dibuat Nayla untuk kembali menghidupkan restorannya. Pria itu juga mulai tertantang untuk membuat resep ayam betutu yang enak.
“Oke kalau begitu gue mulai cari referensi resep dulu sebelum eksekusi tap—“
“Good dan mulai hari ini fokus lo hanya untuk menu ayam betutu untuk kontes kita, sementara menu yang lain menyusul setelah kontes selesai,” potong Nayla yang dijawab anggukan oleh Dika dengan mulutnya yang terbuka lebar.
Pria itu berpikir kalau Nayla saat ini memang sedang berambisi membuat Dika tertantang sekaligus memikul beban di pundaknya untuk memenangkan kontes tersebut.
“Dik, tunggu apa lagi? Apa ada yang mau ditanyain?” tanya Nayla ketika pria itu bergeming.
“Eh enggak Nay, kalau begitu aku ke dapur sekarang,” pamit Dika yang langsung keluar dari ruangan office. Pria itu bertekad ingin membuat Nayla bahagia dengan kerja kerasnya.
“Assalamualaikum Nay, apa kamu sudah bangun? Oh ya, semalam kamu ke mana aja, maksud aku apa kamu langsung tidur sampai lupa mengabari aku kalau sudah sampai di rumah?”
Sebuah pesan dari Adnan baru saja masuk dan hal itu membuat Nayla tersenyum dan sangat penasaran untuk segera membaca seluruh isi pesannya.
“Astaga, pantes dari tadi berasaan ada yang kelupaan tapi apa gitu?” gumam Nayla yang baru sadar kalau semalam dirinya tidak langsung membalas pesan Adnan karena memang setelah cuci muka wanita itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur lalu memjamkan matanya.
“Waalaikumsalam Adnan, maaf semalam gue enggak langsung balas salam lo karena gue ketiduran tapi lo tenang aja ya karena gue sampai selamat tanpa ada lecet sedikitpun di mobil lo...hahaha.”
Balas Nayla yang berhasil membuat Adnan tersenyum dengan wajahnya yang memerah. Keduanya sama-sama merasakan kupu-kupu yang saling menggelitik perut mereka masing-masing. Bolehkah mereka menyatakan kalau saat ini baik Nayla dan Adnan mulai jatuh cinta?
“Aku enggak ada masalah sama mobilnya yang terpenting itu kamu, Nay. Aku enggak akan maafkan diri aku jika sampai terjadi sesuatu sama kamu.”
“Adnan lagi kenapa sih? Kenapa dari semalam bawaannya sweet mulu? Kalau lama-lama gue jatuh cinta sama dia gimana?” tanya Nayla pada dirinya.
Sebenarnya Nayla tidak masalah jika dia harus jatuh cinta dengan Adnan tapi ia merasa terlalu gengsi jika harus mengakuinya. Apalagi setelah diingat kembali kalau selama ini dia-lah yang selalu meminta cerai dari Adnan.
“Enggak usah gombal, Nan! Ini masih pagi loh. Udah ya gue mau mulai kerja sekarang dan lo juga sebaiknya langsung kerja tapi jangan lupa juga buat sarapan.”
“Kamu marah ya Nay sama aku karena kata-kata aku tadi? Maaf ya kalau buat kamu jadi enggak nyaman, mulai hari ini aku janji deh enggak akan berusaha gombal lagi.”
Sekarang Nayla malah merasa bersalah kepada Adnan karena sudah kembali bersikap dingin kepada pria itu. Nayla sampai bingung sendiri harus bertingkah seperti apa kepada Adnan.
“Udahlah enggak usah gue bales lagi,” gumam Nayla meletakkan ponselnya di atas meja. Tapi beberapa menit kemudian Nayla kembali melirik ponselnya yang terasa sepi tanpa pesan dari Adnan. Hatinya mulai gelisah tak menentu.
“Isshhhttt... gue kenapa sih ini?” Nayla mengacak rambutnya dengan perasaan putus asa. “Ya udah gue balas aja deh daripada dia mikir gue marah sama dia kan?”
Tapi ketika Nayla ingin membalas pesan dari Adnan, pria itu sudah lebih dulu menghubunginya. Lalu dengan cepat Nayla segera menjawab panggilan dari Adnan.
“Halo assalamualaikum Nay, maaf ganggu—“
“Waalaikumsalam Nan, soal tadi gue bener-bener enggak marah kok,” potong Nayla yang tidak ingin Adnan salahpaham tentang hal tersebut.
“Iya aku tahu kok Nay tapi bukan itu yang mau aku bahas,” balas Adnan yang membuat Nayla membuka mulutnya lebar. “Eh soal apa?”
“Aku cuma mau kasih tahu kamu kalau makanan kiriman ibu di kulkas nanti kamu makan aja soalnya takut udah enggak enak kalau nungguin aku sampe rumah lagi,” jawab Adnan.
“Oke kalau soal itu lo tenang aja, apa ada hal lain yang mau lo sampein ke gue?”
“Aku kangen sama kamu, Nay. Makanya aku sempetin buat telepon sebentar sebelum kerja, kamu kira-kira kangen juga enggak sama aku?” kata Adnan yang berhasil membuat kedua pipi Nayla memerah serta jantungnya berdetak dengan kencang. Tapi hal itu tak berlangsung lama karena Nayla tidak ingin Adnan mengetahui kalau dirinya saat ini sedang melayang ke udara.
“Apa-apaan sih? Lo masih aja sempet-sempetnya neggombal deh.”
“Ya kan ngegombal sama istri sendiri enggak apa-apa Nay, ya udah kamu yang semangat ya kerjanya. Aku tutup teleponnya ya Assalamualaikum Nayla,” pamit Adnan.
“Waalaikumsalam....”
Panggilan mereka pun berakhir tapi tidak dengan jantung Nayla yang masih berdebar dengan kencang. Ingin sekali tadi Nayla menambahkan kata ‘Suami’ ketika membalas salam Adnan tapi lidahnya terlalu keluh.