Teman Baru Nayla

1449 Kata
"Cie yang habis dapet semangat dari istrinya sampai enggak berhenti senyum begitu, Nan," seru Nita yang baru saja menghampiri Adnan yang sedang berdiri di lorong hotel. Adnan menoleh ke arah Nita sambl tersenyum. “Ya begitulah, Nit.” “Lalu kapan kalian akan mengadakan resepsi atau paling enggak minimal bikin pengumuman tentang pernikahan kalian biar temen-temen satu kantor pada tahu, Nan.” Bagaimana ingin mengadakan resepsi atau memberikan pengumuman mengenai pernikahannya dengan Nayla? Saat ini saja Adnan sedang berusaha meyakinkan bahkan membuat Nayla jatuh cinta kepada dirinya. Selain itu, Adnan masih bingung bagaimana menjawab pertanyaan orang-orang tentang awal pertemuannya dengan Nayla sampai menikah karena tidak mungkin ia mengumbar pernikahannya yang dianggap aib untuk sebagian orang. “Belum kepikiran Nit soalnya aku sama Nayla belum membicarakan soal itu, malah kami sedang belajar untuk saling mengenal satu sama lain,” jawab Adnan. “Ya sudah kalau begitu, aku akan tutup mulut mengenai pernikahan kalian sampai kamu yang menyampaikannya kepada mereka, kalau begitu kita sekalian jalan ke bawah yuk kayaknya yang lain juga udah nungguin buat sarapan bersama,” ajak Nita sambil tersenyum. “Ayo Nit kebetulan juga aku sudah lapar,” kata Adnan yang mengiyakan ajakan sarapan berama Nita dan yang lainnya. “Pasti rasanya sangat sulit ya untuk kalian berdua menerima pernikahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya,” kata Nita ketika mereka berdua memasuki lift secara bersamaan. Adnan pun menoleh sambil tersenyum ke arah Nita. “Ya seperti itulah Nit, aku sendiri sebenarnya merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuaku serta Nayla,” kata Adnan. “Kalau diingat-ingat saat itu niatku hanya ingin membantu Nayla tapi entah kenapa pagi itu tiba-tiba saja warga sudah berkumpul di depan halaman rumahku.” “Ya saat itu aku juga sama kagetnya dengan kamu ketika mendengar suara ribut para warga, aku sendiri tidak percaya kalau kalian akan melakukan hal itu tapi mungkin mereka sudah tersulut emosi ketika mendengarkan informasi tersebut,” jelas Nita yang mengingat kembali kejadian pagi itu tapi untuk kelanjutan informasi tentang Adnan dan Nayla ia dapatkan dari sang ibu karena ia harus berangkat bekerja. “Tapi semuanya sudah terjadi dan aku yakin ada hal baik yang akan datang kepada kami setelah ini,” kata Adnan sambil berharap kalau usahanya nanti akan membuahkan hasil yang baik apalagi tentang pernikahannya dengan Nayla. “Aku doakan kalian berdua bisa selalu bahagia dunia dan akhirat,” seru Nita yang iku mendoakan yang terbaik untuk Adnan dan juga Nayla. “Terima kasih, Nita.” Seperti yang kalian tahu kalau Nita adalah teman kerja sekaligus tetangga di rumah orang tua Adnan. Namun fakta lainnya adalah kedua orang tua Adnan apalagi ibu Aisyah ingin sekali Nita menjadi menantunya. Karena menurut ibu Aisyah, Nita itu menantu yang sempurn selain cantik dan pintar, pengetahuan agama Nita pun sangat luas jadi beliau tidak akan khawatir jika cucunya nanti tidak akan kekurangan satu hal apa pun tentang nilai keagamaan. * * * Sejak pagi Dika berusaha mencari resep ayam betutu terbaik sesuai permintaan Nayla. Setelah diyakini kalau resep itu adalah yang terbaik, Dika pun langsung mengeksekusi menu tersebut di dapur seorang dirinya karena memang ia tidak ingin siapa pun mencampuri urusannya selama menu tersebut belum mendapat persetujuan dari Nayla. Sementara sejak tadi Nayla dan para karyawannya sempat mengadakan rapat dadakan untuk bertukar pendapat mengenai kemajuan restoran. Walau ini adalah masalah internal di restoran miliknya tapi para karyawannya bersedia untuk membantu Nayla dalam memberikan masukan. Setelah itu Nayla mengambil langkah untuk membuat video promosi dengan para karyawan tapi ketika ada satu atau dua pelanggan kegiatan tersebut sempat mereka hentikan. “Nay, lagi sibuk enggak?” tanya Dika yang baru saja datang menghampiri Nayla bersama para karyawannya tersebut. “Enggak juga, ada apa, Dik? “Gue baru aja selesai masak ayam betutu sesuai permintaan lo tadi, mau dicobain sekarang atau nanti?” tanya Dika ketika masakannya sudah matang dan baru saja selesai dihias. Jujur saja jantung Dika saat ini sedang berdebar karena takut jika hasilnya tidak sesuai keinginan Nayla. “Boleh, bawa ke sini aja biar kita cobain sama-sama,” jawab Nayla yang langsung membuat Dika berlari ke arah dapur untuk mengambil masakan miliknya beserta beberapa alat makan tambahan. Dika menggigit kuku ibu jarinya ketika Nayla bersama yang lainnya mencoba ayam betutu buatannya. Jantungnya pun berdetak semakin tidak menentu hingga keringat dingin mulai membasahi dahinya. “Gimana rasanya, Nay?” “Sorry tapi ini rasanya enggak seperti yang pernah gue makan sebelumnya malah gue kayak ngerasa kayak makan ayam dipedesin biasa,” jawab Nayla yang dengan berat hati harus mengatakan hal itu. Di dalam dunia bisnis atau tentang yang lainya bukankah memangnya harus seperti ini, maksudnya Nayla harus menyingkirkan perasaan tidak enakan agar kerjasama di antara mereka bisa terus berjalan dengan baik. “Aduh maafin gue ya Nay malah jadi buang bahan makanan begini tapi gue janji bakalan perbaikin kesalahan gue ini,” kata Dika yang merasa sangat bersalah. “It’s okey lagian ini semua masih bisa dimakan sama lo, gue, dan karyawan yang lain, iya kan?” kata Nayla mengedarkan pandangan kepada seluruh karyawannya yang ada di sana. “Tapi di sini gue yang salah sih karena tiba-tiba nyuruh lo buat nyari tahu sendiri terus masak sendiri tanpa tahu proses dan rasa yang sesungguhnya, maaf ya, Dik.” Bersamaan dengan itu seorang kurir makanan datang dan memberitahukan kalau ia membawakan makanan manis serta minuman untuk Nayla dalam jumlah yang banyak. Wanita itu pun cukup terkejut karena ia merasa tidak memesan apapun kepada siapapun. Tapi ketika Nayla menanyakan kembali siapa pengirim makanan dan minuman tersebut barulah ia setuju untuk menerimanya. Ya makanan dan minuman itu adalah pesanan dari Adnan untuk dirinya. “Siapa yang memesan makanan sebanyak ini buat lo, Nay?” tanya Dika ketika Nayla baru saja menerima makanan tersebut. “Dari temen gue, Dik,” jawab Nayla yang bersamaan dengan ponselnya yang berdering hingga ia memutuskan menjauh dari Dika. “Halo Adnan....” “Assalamualaikum Nayla....” “Eh iya Waalaikumsalam, maaf ya belum terbiasa ngucapin salam,” kata Nayla yang merasa malu mendengar salam Adnan. “Enggak apa-apa kok Nay nanti juga terbiasa, makanan yang aku pesan apa udah sampai?” tanya Adnan yang menayakan tentang pesanan makan dan minuman kepada Nayla. “Baru aja sampai tapi makasih ya sebelumnya itu banyak banget loh kirimannya,” jawab Nayla yang merasa tidak enak karena sudah diberikan makanan sebanyak itu kepada Adnan. Kalau dipikir-pikir Adnan sudah sangat baik sekali kepadanya selama pria itu pergi. Dari memberikan makanan titipan orang tuanya kepada Nayla, meminjamkan mobil kepada Nayla serta kiriman makanan dan minuman hari ini. “Enggak apa-apa kebetulan ada rejeki lebih nanti kamu bisa nikmatin bareng temen-temen kamu di situ, Nay. Tapi maaf ya hanya makanan dan minuman seadanya.” Ada seadanya? Sungguh ini sudah lebih dari cukup untuk Nayla dan karyawannya yang lain. “Ini udah lebih dari cukup tahu buat gue sama yang lainnya, heem yaudah gue mau makan dulu nanti kita lanjut lagi ngobrolnya dan lo juga jangan sampai telat makan,” pamit Nayla yang merasa sudah sangat lapar saat ini. “Iya pasti kok apalagi udah diingetin makan begini, daa Nay, Assalamualaikum....” Obrolan mereka pun berakhir begitupun dengan Dika yang berhenti memperhatikan Nayla yang sedang mengobrol. Pria itu benar-benar sangat penasaran dengan sosok yang baru saja datang ke hidup Nayla, haruskah ia bertanya kepada Nayla? Tapi waktu itu saja Nayla tidak ingin menjawab pertanyaannya. “Nimas, tolong pasang tanda close di pintu serta di aplikasi pesanana online untuk satu jam ya,” titah Nayla karena ia ingin menikmati makan bersama dengan Dika serta karyawannya yang lain. Hitung-hitung sebagai balas budi karena mereka sudah memberi masukan untuk kemajuan restorannya. “Baik, Bu.” “Sisanya kalian ke dapur ambil jatah makan kita hari ini dan kembali ke sini karena kita akan makan bersama. Oh ya, tolong ambilkan juga buat saya sama Pak Dika,” titah Nayla selanjutnya yang dijawab serempak oleh para karyawannya. “Dik, ayo duduk kita makan sama-sama di sini,” ajak Nayla kepada Dika yang sedang melamun. “Eh iya, Nay.” “Ada apa sih? Apa lo kepikiran gara-gara pendapat gue tentang makanan lo?” tanya Nayla ketika Dika sudah duduk di sebelahnya. “Enggak kok bukan soal itu tapi apa gue boleh tanya sesuatu?” tanya Dika yang belum yakin dengan pertanyaannya kepada Nayla. Masih ada perasaan ragu yang bergelut dengan pikiran. “Tanya soal apa, Dik?” Nayla tiba-tiba saja penasaran dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Dika. Apakah berkaitan dengan penilaiannya tadi atau hal lain yang menggangu pikirannya. “Gue cuma mau tahu kenapa lo milih ayam betutu untuk ikut kontes? Sorry sebelumnya tapi pertanyaan gue ini enggak ada kaitannya sama penilaian lo tadi ya,” jelas Dika yang sebenarnya ingin memastikan apa menu yang dibuatnya ini ada kaitannya dengan teman baru Nayla?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN