Setelah Disa pesan bubur ayam lewat aplikasi, ia kembali duduk di samping Adrian. Pria itu sudah memejamkan mata lagi, tapi napasnya masih terasa berat, wajahnya juga masih pucat. Meski begitu, dia tetap ngeyel gak mau ke rumah sakit. Tak lama, suara bel apartemen berbunyi. Disa langsung bangkit, mengambil pesanan bubur ayam itu di depan pintu. Setelah mengucapkan terima kasih ke driver, dia bawa kantong kertas itu ke kamar. "Bangun dulu, buburnya udah datang." Disa duduk di tepi ranjang, menggoyang pelan lengan Adrian. Adrian membuka mata perlahan, masih terlihat lemas tapi matanya mengerjap ke arah Disa, lalu ke bubur di tangannya. “Bubur ayam Samarinda?” tanyanya, senyum tipis terbit di wajahnya yang pucat. Disa mendengus. “Iya, sesuai permintaan. Tapi makan dulu yang bener, jangan

