Arka panik. Dia letakkan istrinya di kasur. Dia cek napas dan denyut nadi istrinya. “Masih ada,” syukurnya. Tak sengaja, Arka melihat darah di kasur, merembes dari kepala istrinya. Dia saja yang tak menyadari, jika di kaus warna putihnya sedari tadi ada darah Embun di sana. “Bodoh. Bodoh. Bodohnya aku,” maki Arka pada dirinya sendiri. Dia jambak-jambak rambutnya sendiri. Arka angkat Embun dari kasur, berencana membawa Embun ke rumah sakit. Namun, Arka kembRizalan lagi Embun ke kasur. Bisa gawat kalau ada yang melihat Embun dalam kondisi seperti ini. Sudah pasti Arka akan dipolisikan. Mengambil handphone-nya, Arka menghubungi Robi, salah seorang teman dekat Arka. “Rob, lo bisa datang ke rumah gua gak? Rumahnya Embun,” kata Arka. “Hah? Jam segini? Ada apa? Gua aja baru sampai rumah in

