bab 5

1215 Kata
Meskipun Christine tak pernah menampakkan kesedihan yang dia rasa di depan semua orang. Tapi diam-diam dia sering menangis sendiri di kamarnya. Apalagi mengingat dua hari lagi pernikahannya dengan Alexander sudah akan di resmikan. Membuat hati dan pikirannya semakin kacau. Rasa bersalah pada Vion, tidak rela melepaskan lelaki yang masih dia cintai. Membuat Christine sangat rapuh sekarang. Tapi dia melakukan ini juga demi kedua orang tuanya, jadi untuk saat ini Christine akan berbakti kepada orang tuanya. " Nona, tuan Alexander sudah datang" kata seorang pelayan dari luar kamar Christine " Baiklah aku segera turun" ucapnya dan segera menghapus air matanya    Hari ini dia dan Alexander akan pergi untuk fitting gaun pengantin, yang akan di pakainya untuk lusa. Sebenarnya Christina malas pergi bersama dengan Alexander, karena lelaki itu sangat dingin dan pendiam.    Baju sederhana yang di pakai gadis itu tampak sangat pas pada tubuhnya. Membuat baju itu sangat mewah jika Christine yang memakainya. Kemeja berbahan jins dengan hotpants putih dan tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Sangat simpel tapi bisa menghipnotis Alexander saat melihatnya. " Ayo" ajak Christine, dan sukses menyadarkan Alexander yang melamun " Eh iyaa ayo"    Seseorang berpakaian serba hitam langsung membukakan pintu mobil sport putih milik Alexander, saat pasangan muda itu keluar dari pintu utama. Selama perjalanan menuju butik, tetap tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya ada kesunyian yang menyelimuti ruangan dalam mobil mewah Alexander. Hingga mereka sampai di tempat yang di tuju. " Silahkan tuan dan nyonya" seorang perempuan mempersilahkan mereka untuk menuju ruang gaun yang sudah di siapkan Alexander, jadi Christine yang memilih. " Pilihlah gaun yang ingin kau pakai luas" kata Alexander cuek    Christine langsung melihat-lihat semua gaun pengantin yang ada di sana. Semuanya terlalu indah sampai dia sulit untuk memilih. Dan akhirnya dia mencoba gaun yang menurutnya bagus. " Ehem" deheman dari Christine membuat Alexander mendongak, matanya terpesona dengan yang di lihatnya " Apa ini bagus?" tanya Christine dengan gugup, karena tatapan Alexander " Tidak, cari gaun yang lain" kata Alexander berusaha acuh    Christine pun langsung mendengus kesal dengan sikap cuek Alexander. Seharusnya lelaki itu membantunya untuk memilih gaun, bukannya malah bermain dengan ponselnya sendiri. " Bagaimana dengan yang ini?" " Jelek"    Christine kembali mencari gaun yang lebih bagus lagi, dan Alexander membuatnya bingung memilih gaun yang pas. " Lalu bagaimana dengan dengan gaun ini" " Tidak terlalu buruk, tapi masih kurang"    Ini sudah tau ke tiga dan Alexander masih mengatakan kutang, gaun yang di pilihnya ini bahkan sangat bagus dan mahal. Bagaimana bisa dia mengatakan kurang bagus, " Oke, ini gaun terakhir yang ku pilih, jika dia Masi saja tidak cocok maka aku tidak mau mencari gaun lagi. Biar saja dia sendiri yang memilih"  batin Christine sambil mencoba gaun yang kembali di pilihnya " Alexander, bagaimana? Apa kau masih belum suka?" tanya Christine putus asa " Astaga Christine, ini acara pernikahan kita bukan acara pesta ulang tahun untuk anak-anak. Kenapa gaun yang kau pilih gaun untuk anak-anak?" restoran tidak baik dari Alexander " Kalau begitu cari saja sendiri aku lelah, sudah empat gaun yang kucoba, tapi semuanya tidak kau suka" jawab Christine acuh " Ayo" Alexander langsung menarik lengan Christine ke ruangan lain. Image " Gaun itu yang akan kau kenakan lusa" ujar Alexander santai " Jika kau sudah menyiapkan semuanya, kenapa menyuruhku untuk memilih, dasar menyebalkan" maki Christine    Christine mendengus kesal karena Alexander membuatnya memilih gaun. Dan tidak ada yang di setujui. Kekesalannya semakin bertambah saat tau Alexander telah menyiapkan gaunnya sendiri. " Karena aku ingin kau juga turut adil dalam menyiapkan segalanya, tapi selera mu sangat buruk untung aku sudah menyiapkan segalanya " ujar Alexander mengejek Christine " Menjengkelkan memang, awas saja kau " ancam Christine dengan menatap horor Alexander    Alexander hanya terkekeh geli melihat tingkah Christine yang sekarang terlihat jengkel. Ia tak bisa hanya menatap datar gadis didepannya, rasanya ingin sekali tertawa keras tapi gengsi karena selama ini ia tak pernah mau menunjukkan senyumnya di depan umum. ***    Sepulangnya dari butik gaun, Alexander membawa Christine pergi ke toko perhiasan. Sebenarnya Christine sudah malas untuk mengikuti manusia menyebalkan ini, tapi dia tidak ingin mommy nya akan mengomel sehari semalam. Jadi dengan berat hati dia ikut. Untuk menghindari ocehan yang membosankan baginya. " Pilihlah mana cincin yang kau suka" pinta Alexander lagi " Untuk apa kau menyuruhku memilih jika pada akhirnya kau sendiri yang mengambil keputusan" tolak Christine kesal, dia tidak mau kejadian di butik tadi terulang lagi " Pilih saja apa susahnya" geram Alexander " Kalau begitu aku mau semuanya" ucap Christine santai sambil menunjuk semua cincin di sana " Apa??" pekik Alexander kaget " Kenapa? Apa kau takut bangkrut jika memberikan semua perhiasan ini untukku?" tanya Christine dengan polosnya " Kau ini aku menyuruhmu memilih salah satu, bukan membeli semuanya" kesal Alexander " Jika aku memilih pasti akan seperti tadi saat di butik, jadi aku ingin semuanya " kekeuh Christine " Lalu apa saat pernikahan kau akan memakai semua secara bersamaan ?" Tanya Alexander datar " Tentu tidak, kau ini aku bisa dikira berjualan, dasar bodoh " sekarang dirinya yang ikut kesal karena Alexander padahal ia ingin melihat Alexander yang jengkel kenapa malah dirinya ikut-ikutan " Kalau begitu cepat pilih, dan jika kau ingin memiliki banyak cincin seperti ini aku akan memberikan semua itu saat kita sudah menikah " kata Alexander pada akhirnya agar Christine segera memilih " Huff.. baiklah aku akan ingat janji mu " ujar Christine dengan menatap Alexander yang sejak tadi hanya memasang wajah datar "tolong aku ingin lihat cincin itu" akhirnya Christine memilih, karena tak ingin berdebat lagi dengan calon suaminya ini Image " Bagaimana, kau setuju jika tidak kau pilih saja sendiri. Aku tak mau memilih lagi jika kau tak setuju?" tanya Christine " Yah terarah kau saja" ucap Alexander pasrah    Christine menyembunyikan senyum kemenangan karena telah membuat Alexander kesal. Lagi pula kapan lagi dia bisa mengerjainya. Lelaki es itu sudah membuatnya kesal tadi saat memilih gaun pengantinnya. Jadi apa salahnya jika Christine balas dendam sedikit. ***    Air mata kembali menemani Christine. Mengingat besok adalah hari pernikahannya dengan Alexander. Dia masih belum siap untuk mengubur perasaannya untuk Vion, meskipun dua minggu yang lalu mereka sudah mengakhiri status pacaran. Apalagi saat mengingat hubungannya dengan Alexander yang sangat kaku. Mana mungkin seorang Christine bisa bertahan dengan suasana dingin, ketika hidup bersama lelaki es itu. Alexander sangat berbeda dengan Vion yang selalu bisa mencairkan suasana. Vion juga sangat ramah pada semua orang, berbeda dengan Alexander yang cenderung menutup diri pada semua orang. " Vion aku merindukanmu, aku tak bisa hidup dengannya, dia sangat dingin seperti bongkahan es di kutub Utara" keluh Christine pada boneka panda pemberian Vion     Hanya Vion yang bisa membuatnya kembali tersenyum saat Christine sedang sedih. Lelaki itu selalu siap untuk menghapus air matanya yang jatuh. Tapi sekarang tak mungkin lagi, karena mereka sudah tak bisa bersama lagi. Kenangan indah bersama dengan Vion yang tak kunjung dia lupakan, semakin membuat Christine menjadi stres.  " Vion... Bawa aku kabur dari sini" gumam Christine dengan isakan yang kembali hadir    Tak ada yang tau betapa terpuruknya gadis itu sekarang. Mereka hanya tau jika Christine sudah bahagia dengan calon suaminya. Padahal Christine merasakan sebaliknya saat bersama dengan Alexander. " Lelaki dingin itu mana mungkin bisa membuatku bahagia, dia itu sangat menjengkelkan. Tidak punya ekspresi seperti tembok yang rata. Bagaimana bisa orang tuaku memilih lelaki tak berekspresi seperti dia" kesal Christine yang terus saja berbicara sendiri karena terlalu stres dengan apa yang terjadi.    Sudah dua jam Christine meratapi kesedihannya, dengan menangis dan berbicara sendiri. Kamarnya pun sudah sangat kacau dengan tisu yang berserakan. Kamar Christine biasanya sangat rapih dan bersih, tapi sekarang terlihat seperti kapal pecah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN