Aku masih menangis terisak dalam rengkuhan Gestazh. Ntahlah aku tak mengerti bagaimana bisa Gestazh datang di waktu yang tepat. Ya Tuhan terimakasih telah menghadirkan Gestazh dalam hidupku. Ia hero yang kupunya. Yang selalu ada kala aku merasa sendiri atau dalam keadaan bahaya. Ntahlah dia datang karena kemampuannya membaca pikiran atau karena panggilan yang lain? "Menangislah yang kencang. Keluarkan semuanya." Dia mengelus punggungku yang polos. Ya memang, aku hanya memakai bra saja. HAH? OH TUHAN! Sontak aku memundurkan tubuhku menjauh darinya. Menutup bagian dadaku yang hanya tertutupi bra putih saja. Gestazh memandangku heran. "Kenapa? Kau baru sadar akan penampilanmu? Hahaha!" Dia tertawa dengan enaknya. Sedangkan aku menahan malu dan menetralkan napasku yang masih tak santai. M

