Menangis selama berjam jam membuat syaraf Shivani seolah mati dan tidak berfungsi. Air matanya kering dan dia tidak ingin mengatakan apapun meski itu hanya satu huruf.
Kehilangan Raiden merupakan hal yang paling dia takutkan di dunia ini selain kematiannya sendiri. Namun, karena Raiden meninggalkan dirinya secara diam diam melalui kematian, dia merasa hidupnya benar benar hancur dan semakin tidak berarti.
Raiden pergi.
Saat dia bernafas untuknya.
Tanpa sepengetahuannya.
Meninggalkan dia yang tidak tau lagi harus bagaimana untuk menjalani hidup ke depannya. Haruskan dia pergi menyusul Raiden menuju keabadian? Haruskah dia pergi agar bisa kembali berkumpul bersama Raiden di alam sana?
Raiden meninggal enam bulan yang lalu.
Pantas, selama kurun waktu ini tidak pernah ada panggilan sayang melalui video ataupun pesan cinta melalui email. Jadi, itu adalah alasannya?
Sayangnya, Shivani tidak bisa lagi menangis saat membayangkan semuanya. Saat mengingat betapa sakitnya Raiden saat menjalani segalanya seorang diri tanpa memberitahu dirinya. Saat Raiden mencoba menahan sesuatunya tanpa mengeluh kepada siapapun. Saat Raiden tidak menunjukkan penderitaanya dan lebih memilih untuk bungkam.
Dia pikir, rasa sakit yang Raiden rasakan jauh lebih besar dari pada rasa sakit yang dia rasakan. Itu pula alasan yang membuatnya tegar mendengarkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, kisah demi kisah yang Tante Sushi ceritakan tentang Raiden meski itu memilukan.
"Tapi, Raiden tidak benar benar mati." Tante Sushi mengakhiri kalimatnya setelah berceloteh panjang lebar tanpa jeda, tanpa koma dari saat Raiden sakit sampai akhirnya Raiden meninggal.
Shivani yang dari awal sampai akhir fokus mendengarkan tanpa sekalipun dia menyela, saat mendengar ini, dia merasakan sesuatu dalam dirinya meronta hebat. Raiden tidak benar benar meninggal?
Apa artinya itu?
Bukankah Tante Sushi mengatakan dalam dongengnya kalau semua orang mengantar Raiden ke peristirahatan terakhirnya? Bukankah Tante Sushi juga menunjukkan Akta Kematian Raiden kepadanya?
Jadi, atas dasar apa Tante Sushi berkata demikian?
Apakah itu adalah palsu dan hanya rekayasa?
Atau itu hanyalah penghiburan?
Kalau kata kata itu terucap semata mata hanya untuk menghibur dirinya, maaf sekali, dia sama sekali tidak membutuhkannya. Dia tidak membutuhkan penghiburan dari siapapun, dia tidak perlu nasehat atau petuah dari siapapun, dia tidak membutuhkan motivasi dari siapapun.
Dia benar benar tidak membutuhkan semua itu.
Lagi pula, kapasitas setiap orang berbeda beda. Bisa jadi itu menjadi motivasi untuk mereka, tapi bukan untuknya. Bisa saja itu menjadi penghiburan untuk mereka, tapi tidak cocok untuknya. Bisa saja apa yang menurut mereka baik, tidak baik untuknya. Jadi, sekali lagi dia berkata.. dia tidak membutuhkan penghiburan apapun.
Dia bisa melakukannya sendiri.
Dia bisa menyembuhkan lukanya sendiri.
Dia bisa mencari jalannya sendiri.
Dia bisa, meski tanpa mereka. Dia bisa meski tanpa kata kata itu. Dia bisa meski tanpa raut wajah mereka yang mengasihani dirinya. Lagi pula, dia tidak perlu belas kasihan dari orang lain karena itu tidak akan merubah apapun. Tidak akan mengembalikan Raiden ataupun menghidupkan Raiden dari kematian.
Dan dia yakin tidak membutuhkan itu sama sekali saat dia tau kalau kebanyakan orang menggunakan raut itu untuk menipu dan membohongi orang lain. Jadi apa gunanya? Apa artinya?
Setidaknya, hidup sendiri dan mengatasi masalah seorang diri adalah pilihan yang cukup bijak untuk situasi seperti ini.
Shivani menaikkan wajahnya secara perlahan sampai tatapan matanya bertemu dan beradu dengan tatapan Tante Sushi. "Apa yang sebenarnya Tante katakan? Tante berkata tubuh Raiden sudah tertidur di bawah timbunan tanah, tapi kenapa sekarang Tante berkata seolah Raiden belum mati? Apa Tante sadar kalau ucapan itu sangat menakutkan dan menyakiti ku?" Shivani berkata dengan suara rendah. Susah payah dia melontarkan kata kata ini, meski akhirnya itu berhasil, tapi dia tidak tau apakah Tante Sushi mengetahui maksud dari ucapannya atau tidak.
"Iya, aku tau kalau itu menakutkan dan menyakitkan. Bukan hanya kamu, tapi aku juga. Aku juga tersakiti karena kehilangan itu, karena rasa bersalah itu. Tapi percayalah.. meski tubuh Raiden sudah tertidur di sana, dan jiwanya kembali ke pangkuan Tuhan, namun ada beberapa rahasia yang tidak semua orang tau." Tante Sushi juga menatap Shivani intens tanpa ada niat untuknya mengakhiri tatapan itu. Menyalurkan segala rasa melalui tatapan, dia sedikit merasakan ketenangan saat mengingat Shivani adalah satu satunya gadis yang mencintai Raiden dengan tulus.
Shivani tersentak. "Maksud Tante?" Shivani masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Tante Sushi yang berputar putar. Kenyataan apa yang tidak semua orang tau? Apa? Bahkan kebenaran tentang kematian Raiden saja, dia tidak tau. Lantas ada berapa banyak kebenaran yang sengaja di tutupi dan tidak dia tau?
"Semasa hidup, ternyata Raiden menandatangani Surat Pernyataan Donor Organ untuk siapapun yang membutuhkannya saat dia meninggal nanti." Tante Sushi memutuskan pandangan dari Shivani dan mengalihkan pandang ke arah lain. Dia menatap suram ke arah foto yang tergantung di dinding. Adalah gambar dimana kebersamaan dirinya, suaminya juga Raiden masih tersemat di sana.
Mendengar ini, mata Shivani menunjukkan ketertarikan yang lebih untuk mendengarkan cerita lengkapnya setelah dia menangkap makna yang tersembunyi dari ucapan Tante Sushi sejauh ini. "Jadi, maksud Tante-?"
"Iya." Tante Sushi menjawab cepat. "Saat Raiden meninggal, tubuh seseorang rusak parah akibat kecelakaan dengan dua organ kritis. Orang itu memiliki golongan darah yang sama. Orang itu memiliki beberapa hal yang Dokter menyimpulkan bahwa itu cocok untuk mendapatkan organ milik Raiden. Dan semua terjadi secara cepat dan terjadi begitu saja tanpa aku bisa menghentikan mereka. Lagi pula, tanda tangan Raiden sudah tersemat di sana. Tujuannya jelas sangat mulia. Itu juga yang membuat ku sadar kalau inilah yang Raiden inginkan. Setidaknya, saat Raiden pergi secara diam diam dari dirimu, saat Raiden meninggalkan mu, dia masih menyisakan sesuatu yang sekiranya bisa kamu kunjungi saat kamu merindukannya selain hanya sekedar gundukan tanah." Tante Sushi menambahkan dengan menyembunyikan gejolak rumit di dalam hati.
Shivani diam tak bergeming. Dia seperti kehilangan jiwanya saat untaian kata itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Tante Sushi.
"Dua organ penting milik Raiden, di donorkan kepada seseorang. Itu adalah bukti kalau Raiden masih hidup dalam tubuh yang berbeda. Tapi, intinya.. detak jantung dan penglihatan itu adalah milik Raiden meski berada dalam tubuh orang lain." Tante Sushi menambahkan penuh keyakinan setelah melihat Shivani masih diam. Meski sampai detik ini dia belum pernah bertemu dengan orang yang mendapatkan donor, dan meskipun itu adalah rahasia yang seharusnya hanya dia dan suaminya yang tau, tapi dia merasa Shivani perlu mengetahui kebenaran sepenting ini setelah sekian lama semua orang menyembunyikan kematian Raiden.
Shivani tidak tau bagaimana harus bereaksi. Dia tidak tau apakah dia harus senang atau sedih. Yang jelas, meski dia ingin tau lebih jauh, tapi kapasitas itu tidak dia miliki sekarang. Dia masih sangat berduka atas kepergian Raiden. Mungkin masa itu sudah terlewati dengan baik oleh Tante Sushi dan Om Bowo, mungkin mereka sudah sampai ke level selanjutnya karena berhasil melewati fase terburuk itu. Tapi, tidak untuk dirinya.
Saat kesedihan semua orang sudah lenyap, Saat mereka sudah kembali ke kehidupan normal mereka, Shivani yang baru mengetahui kebenaran tentang kematian Raiden justru baru saja jatuh dan terpuruk. Mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Mungkin perlu waktu untuknya mencapai level yang sudah di capai oleh Tante Sushi dan Om Bowo dalam kurun waktu yang tidak di tentukan. Entah sampai kapan, dia juga tidak tau.
------•
--•
Pemakaman keluarga Dananjaya.
Shivani turun dari mobil milik Tante Sushi. Matanya sibuk mengawasi sekeliling. Tatapannya fokus menatap sesuatu saat mendapati suasana di sini tampak berbeda dengan suasana pemakaman pada umumnya.
Di lihat sekilas, Shivani langsung tau kalau di depannya adalah pemakaman keluarga yang hanya ada beberapa makam tersemat di sana. Bagaimanapun, yang namanya tanah milik leluhur, pemakamannya pun hanya di tempati oleh anggota keluarga. Termasuk Raiden meskipun Raiden hanyalah anak angkat yang di adopsi dari panti asuhan.
"Ayo, sayang." Tante Sushi merangkul bahu Shivani dan mengajak gadis itu untuk berjalan lebih jauh agar lebih dekat dengan tempat yang bisa membawa mereka ke pertemuan spiritual dengan Raiden.
Shivani mengangguk pelan. Langkah kakinya lambat dan beberapa kali dia terhuyung dan hampir jatuh. Untung saja Tante Sushi merangkulnya erat sampai langkah kakinya kembali menapak tanah dengan stabil.
Beberapa saat melangkah, mereka tiba di depan sebuah makam yang terawat kebersihannya seolah Tante Sushi datang ke sini setiap hari untuk membersihkannya. Sebuah pohon rindang menjadi peneduh untuk beberapa makam yang berderet rapi di bawahnya.
Beberapa dedaunan tertiup angin, menari nari di udara, dan jatuh tepat di depan Shivani kemudian terinjak saat Shivani melangkah maju dan jongkok di samping makam Raiden.
Shivani menatap gundukan tanah di depannya tanpa kedip. Fokusnya terpecahkan saat melihat nama yang tersemat adalah nama kekasih yang akan dia nikahi. Membuat dia yakin kalau ini memang makam Raiden. Mau menampikpun tidak mungkin karena tanggal kelahiran dan kematian Raiden juga tersemat di sana.
Shivani mengusap pelan nisan Raiden dengan setetes air mata yang membasahi pipi. "Raiden, kamu pergi waktu aku bernafas buat kamu. Kamu pergi saat kamu bilang siap menikahi ku saat aku kembali. Tapi, apa? Apa ini yang kamu sebut cinta? Apa ini yang kamu sebut sayang? Apa ini yang kamu bilang tidak akan meninggalkan dan akan bersama selamanya?" Shivani berusaha mengukir senyum agar tidak menunjukkan kelemahannya di depan Raiden. Wanita yang kuat adalah yang Raiden suka. Dan dia hidup selama bertahun tahun dalam bingkai kekuatan itu. "Kamu pembohong." Tambahnya kemudian di sertai senyum kepedihan yang terukir di bibirnya.
"Kamu bohong, Raiden. Kamu bohong." Shivani menundukkan kepala sembari mengusap air mata yang membasahi pipi. Rasa sakit ini, mungkin hanya dia yang tau dan hanya dia yang merasakannya. Tapi, percayalah.. dia tidak mungkin menangisi seseorang yang tidak pernah berada di hatinya. Itu menjadi bukti kalau perasaannya untuk Raiden adalah nyata.
Tante Sushi menepuk bahu Shivani pelan dari belakang. Dia tau bagaimana perasaan Shivani saat ini. Kehilangan adalah inti dari sebuah perpisahan. Mungkin bukan kehilangan yang Shivani tangisi, tapi perpisahan yang Shivani sesali.
Perpisahan tanpa ada kata 'selamat tinggal', perpisahan tanpa pesan ataupun ciuman. Semua itu adalah yang paling menyakitkan lebih dari apapun. Dan sebagai orang tua, Tante Sushi dapat merasakan gejolak emosi yang sedang Shivani tutupi.
Tepukan lembut di bahu, tampaknya sedikit menguatkan karena berkat sentuhan sederhana itu, Shivani merasa tidak sendirian. Setidaknya, ada orang lain yang sekarang juga merasakan apa yang dia rasakan. Setidaknya, ada orang lain yang juga merasa kehilangan atas kepergian Raiden. Meski tidak adil, tapi, Shivani mencoba untuk mengerti kalau usia seseorang sudah di tentukan oleh Tuhan.
Pada akhirnya, Tuhan tetap pemilik mutlak kehidupan dan kematian setiap orang. Dan manusia tidak bisa melakukan apapun kecuali Tuhan berkehendak.
Itulah poin yang bisa Shivani ambil dari kejadian ini.
Harus ada pelajaran untuk setiap kejadian. Dan seharusnya itu bisa membuat kehidupan Shivani menjadi lebih baik lagi untuk ke depannya. Seharusnya begitu karena itulah yang dia harapkan.