TMP ~ Club Malam

2058 Kata
Beberapa hari kemudian. Selama berhari hari sejak kejadian itu, Shivani tidak sekalipun keluar dari kamarnya. Banyak waktu yang dia habiskan hanya untuk berdiam diri dan meratapi nasib hubungannya dengan Raiden. Banyak hal yang dia lewati hanya untuk menenangkan dirinya sendiri meski pada nyatanya dia tidak pernah berhasil. Dia merasa rapuh dan akan hancur dalam sekali sentuh. Dunia yang dia pijak seolah tidak menyisakan sedikitpun harapan untuknya bertahan hidup. Dia merasa ingin ma-ti. Dia ingin mengakhiri semuanya secara cepat tanpa harus menimbulkan masalah lain. Namun agaknya, dia perlu memikirkan ini sampai berulang kali. Urusan nyawa adalah masalah serius yang dia tidak boleh gegabah mengambil keputusan. "Shivani." Mama menerobos masuk ke dalam kamar tidur Shivani dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat sebuah mangkuk dan segelas teh hangat. Mendengar suara Mama, Shivani yang sedang membenamkan diri di dalam selimut, memutar bola matanya sebentar. Namun, sedetik kemudian.. dia kembali acuh. Dia tidak ingin bangun meski itu hanya untuk melihat wajah cantik Mama yang peduli terhadapnya. Mama menghela nafas panjang. "Sebaiknya, kamu makan dulu. Kamu bisa sakit kalau terus terusan seperti ini." Mama menambahkan sembari meletakan nampan di atas meja setelah melihat putrinya tidak bereaksi. Shivani menyibak selimut yang membungkus rapat tubuhnya. Dia bangun kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Gayanya saat bangun adalah dengan mode gerak lambat. Itu pun dengan malas malasan seolah dia tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi. Dia melirik sekilas ke arah nampan. Adalah sup ayam dan sayuran yang pastinya Mama masak sendiri. Namun, meskipun dia yakin kalau masakan Mama sangat enak, dia sama sekali tidak memiliki gairah untuk menyentuhnya apa lagi memakannya. Dia tidak sedang pada kondisi dimana dia membutuhkan banyak asupan gizi untuk membuatnya sehat dan daya tubuhnya kuat. Dia bahkan berharap lebih baik dia sakit saja. Dengan begitu, setidaknya dia tidak perlu pusing memikirkan Raiden karena fokusnya akan teralihkan dengan berbagai macam rasa sakit yang di timbulkan karena sakit itu sendiri. Pikiran yang tumpul. Tapi, siapa peduli? "Kamu jangan menyiksa diri lagi." Mama mendudukkan diri pada tepian ranjang. Tangannya mengusap pelan lutut Shivani. Tatapannya sendu menatap putrinya tidak berdaya menjalani kehidupan yang teramat tragis. Dia tau seperti apa perasaan Shivani terhadap Raiden, dan kehilangan Raiden adalah pukulan telak yang mampu membuat Shivani tumbang selama berhari hari dan mengurung diri di dalam kamar tanpa sekalipun melihat ke luar meski itu hanya mengintip terangnya dunia melalui jendela kaca di kamarnya. Udara di kamar Shivani sangat pengap. Berhari hari jendela tidak di buka, memberikan harum yang hanya berasal dari pengharum ruangan tanpa ada udara segar yang berhembus untuk menjernihkan suasana. Kamar tidur ini lebih mirip kamar tidur seorang Nenek Tua di banding kamar tidur seorang gadis. Membuat orang lain akan iba kalau melihatnya. Shivani diam tidak menanggapi. Dia tidak menyiksa diri, dia hanya sedang berusaha menenangkan diri dari riuhnya emosi yang beranak pinak di dalam hatinya. Dia tau kalau dia tidak berhak marah kepada siapapun. Entah itu Mama dan Papa ataupun Tante Sushi dan Om Bowo, mereka jelas menutupi kematian Raiden karena selain itu adalah permintaan Raiden sebelum benar benar tumbang, itu juga merupakan yang terbaik untuknya. Kalaupun mereka memberitahukan perihal itu pada saat dia sedang mengerjakan skripsi, mungkin dia akan pulang, tidak lulus, kemudian harus mengulang lagi. Dia tau kalau Raiden peduli terhadap dirinya dan tidak ingin hal itu terjadi. Bahkan saking pedulinya, Raiden seolah tidak merasakan rasa sakitnya sendiri hanya untuk membuat dia tidak merasakan rasa sakit yang sama saat melihat Raiden kesakitan. Di satu sisi, dia mengerti. Namun di sisi yang lain, tetap saja dia sulit menerima itu. Mama menghela nafas panjang sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan kamar tidur Shivani tanpa berkata apapun lagi. Dia yakin kalau anak gadisnya sudah dewasa dan sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jadi secara garis besar, dia yakin putrinya tidak akan mengambil tindakan konyol seperti melukai diri sendiri atau bu-nuh diri meski gadis itu mengurung diri di kamar. Shivani mengikuti arah kepergiaan Mama sampai pintu kamarnya tertutup kembali. Setelahnya dia menarik selimut sampai batas kepala dan kembali membaringkan tubuhnya. Dia benci saat saat seperti ini. Seolah dia sedang di tenggelamkan dalam lautan ketidakpastian yang awalnya kecil dan tidak seberapa, namun lama kelamaan menjadi besar dan tidak terjangkau. Dia seperti larut akan pusaran hitam yang membelenggu. Memberikan kesan tidak nyaman yang dia tidak tau ujung pangkalnya. Shivani lelah. Sangat lelah sampai dia tidak mau mengurusi segala hal yang menyangkut kerumitan hidupnya. Sebagai gantinya, dia memejamkan mata dan kembali tertidur dalam balutan mimpi. -------• ---• Dua jam kemudian. Shivani beringsut. Dia membuka selimut yang membungkus tubuh. Rasa lengket karena keringat yang mengalir deras membuat dia tidak bisa lagi berada pada situasi itu. Meski malas, namun dia perlu bangun dan membersihkan diri. Setidaknya, dia juga harus membuat dirinya nyaman dengan sampo, sabun dan air. Shivani bangkit dari berbaringnya. Rencananya, dia akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Itu adalah rencana dan seharusnya itu terealisasi dengan baik. Namun, sebelum itu terjadi, dia lebih dulu mengambil hp untuk melihat sudah pukul berapa sekarang. Entah kenapa dia merasa sudah sangat lama berbaring dan dia pikir ini sudah larut malam. Tapi, saat dia mengambil hpnya, sesuatu terjatuh, melayang di udara kemudian jatuh tepat di depan kakinya. Shivani terkejut. Untuk beberapa detik dia terpaku. Melihat ke arah bawah, itu adalah sebuah kertas pemberian Tante Sushi dimana itu berisi informasi singkat tentang penerima donor organ milik Raiden. Sejak Tante Sushi memberikan memo kecil itu kepadanya, belum sekalipun dia melihatnya. Bukan tanpa alasan, dia benar benar tidak penasaran ataupun ingin tau. Baginya, itu hanya sesuatu yang tidak penting. Namun, terpikir saat Tante Sushi mengatakan kalau meskipun Raiden sudah meninggal, namun jantung itu masih berdetak di tubuh orang lain, dia menjadi ragu. Apakah dia harus melihat informasi itu? Atau.. Apakah dia harus menutup mata seolah itu tidak pernah terjadi? Beberapa saat berdebat dengan isi kepalanya, Shivani berjongkok. Tangannya bergetar saat terulur untuk mengambil kertas itu. 3.. 2.. Dia menghitung di dalam hati. Dan.. 1.. Dapat. Shivani berdiri setelah berhasil meraih kertas itu. Dia membacanya keras keras. "Danish Leonardo Pahlevi. Pahlevi Intinusaflora." Selesai membaca, dia membolak balikan kertasnya dengan sebelah alis terangkat. "Hanya ini?" Tidak ada alamat, tidak ada nama orang tua, tidak ada nomor telepon atau nomor apapun, bagaimana dia bisa menemukannya? Apa Tante Sushi pikir, pria bernama Danis Leonardo Pahlevi hanya milik satu atau dua orang? Yang benar saja? Bahkan di Jakarta sendiri dia yakin ada beribu ribu pria yang memiliki nama itu. Konyol! Tapi.. tunggu dulu! Pahlevi Intinusaflora? Bukankah itu adalah nama sebuah perusahaan? Kalau tidak salah, seharusnya iya. Pahlevi Intinusaflora.. Pahlevi Intinusaflora.. Pahlevi Intinusaflora.. Shivani merapalkan nama perusahaan itu sampai tiga kali. Dia merasa pernah mendengar nama itu, namun dia tidak tau spesifiknya, yang jelas.. dia yakin perusahaan itu masih berada di sekitar sini, masih berada di wilayah dan daerah ini. Shivani memasukan kertas itu ke dalam tasnya sebelum akhirnya dia berlalu ke kamar mandi. ------• ---• Satu jam kemudian. Shivani selesai mengurus rambutnya. Tidak banyak yang dia lakukan untuk menata rambutnya meski itu cukup panjang. Terlebih dia bukan tipe gadis yang akan ribut hanya untuk urusan rambut dan penampilan. Penampilannya jauh dari kata berlebihan karena dia selalu dengan penampilan yang ala kadarnya. Ala kadarnya versi dirinya tentu saja luar biasa untuk orang lain. Setelah memakai heels'nya, dia mengambil jam tangan mewah dari dalam lacinya, kemudian dia segera memakainya. Dan.. Selesai. Sentuhan akhir berupa cincin kecil tipis motif hati gaya Jepang menunjang penampilannya malam ini. Setelah bercermin satu kali lagi, dia sudah berani memastikan kalau penampilannya.. sempurna, cantik, mempesona, dan.. menggoda. Sesuai tema yang dia usung malam ini, yaitu.. bersenang senang. Lagi pula, tidak selamanya dia akan hidup dalam bayang bayang kehancuran. Setidaknya, dia harus bangkit dari keterpurukan, dan mencari tau. Shivani meraih kunci mobil, tas, dan hp lalu dia bergegas pergi keluar dari kamarnya. Untung saja Papa membelikan mobil baru untuknya tiga hari yang lalu. Meski dia tidak tau mobil apa itu, namun saat dia melihat kunci mobilnya berlogo bintang yang dikelilingi lingkaran, dia dapat menyimpulkan kalau harga mobil itu berada pada kisaran.. mahal. Sebenarnya itu cukup menarik. Entah atas dasar apa Papa memberikan mobil mahal untuknya. Dia pikir, itu hanya mobil biasa yang seharga jutaan, bukan ratusan. Tapi, sepertinya.. dia perlu berterima kasih kepada Mama dan Papa yang sudah memberikan kasih sayang berupa kenyamanan yang membuat perasaannya menghangat. Dia merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, meski dia kehilangan Raiden, tapi dia tidak kehilangan orang tua yang peduli terhadapnya. Shivani keluar dari kamarnya, turun ke lantai bawah tanpa perlu mengendap. Bagaimanapun, melihat dia keluar dari kamar, entah itu Mama atau Papa, bukannya melarang mereka justru akan senang. Namun, untungnya tidak ada siapapun yang berada di lantai bawah. Maklum saja, ini sudah pukul sebelas malam. Merupakan waktu yang tepat untuk berlibur ke alam mimpi. Jadi, wajar saja kalau tidak ada siapapun yang masih berkeliaran selain dirinya sendiri. -------• ---• Club malam. Shivani menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah club malam yang masih di terangi lampu kerlap kerlip pada dinding bagian luar. Dia mengawasi sekeliling untuk meyakinkan diri kalau dia memang perlu masuk ke dalam untuk mencari tau. Berdiam diri di rumah tidak akan merubah apapun selain rasa penasaran yang kian membuncah. Belum lagi tanda tanya yang akan semakin besar karena tidak ada orang yang bisa dia tanyai atau bisa memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaannya. Pertama, dia hanya ingin tau orang seperti apa penerima donor organ dari Raiden. Kedua, dia ingin melihat apakah orang itu pantas atau tidak mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan detak jantung dan penglihatan Raiden. Sudah, itu saja. Keinginannya benar benar sederhana, yaitu.. dia hanya ingin memastikan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya setelah melihat situasi dan kondisi atas semua yang terjadi. Setelah cukup yakin, Shivani keluar dari mobil dan masuk ke dalam club. Suasana riuh dengan musik yang memekakkan telinga tersaji begitu dia masuk ke dalamnya. Dance floor yang luas, layar video HD LED, bar, lighting cenderung redup khas di klub malam, audio berkualitas, dan DJ yang memainkan musik electro dengan epik. Tempat ini kabarnya cukup populer di kalangan ekspatriat. Dan ini adalah kali pertama dia datang. Musik EDM yang mengalun saat ini terdengar tidak asing. Beberapa kali dia mendengarnya saat masih berada di Singapura. Musik yang membangkitkan hasrat seseorang untuk meliukkan tubuh mengikuti instrumennya. Sangat menarik dan kata orang.. tidak banyak DJ yang memiliki kualifikasi untuk memainkannya. Hanya segelintir orang dan itupun orang orang dengan skill di atas rata rata. Shivani melangkah dengan pasti ke arah bartender yang tampak sedang menyiapkan segelas tequila untuk seorang pelanggan yang duduk di balik meja. Dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mendekat. "Permisi, Bung. Aku mencari Kristian Wang." Shivani bertanya dengan nada arogan kepada salah seorang bartender berperawakan besar, badan penuh tato, dan rambut berwarna pirang dengan kulit eksotis yang khas. Bartender menoleh. Dia menaikan sebelah alisnya. "Kristian Wang?" Dia menunjukkan wajah garangnya. Shivani menganggukkan kepala. "Iya." "Di sana!" Bartender menunjuk keramaian. Lebih tepatnya adalah ke tempat DJ memainkan musik. Shivani menyipitkan mata melirik ke arah tunjuk Bartender. Melihat seorang pria tampan sedang sibuk berkutat dengan seperangkat alat DJ seperti CD Decks, Turntable, DJ Mixer, Headphones, Perangkat Komputer, dan Serato Scratch Live DVS. Setelah itu dia tersenyum kecil. "Baiklah. Kalau begitu, berikan aku segelas Margarita." Tambahnya kemudian sembari mendudukkan dirinya pada salah satu kursi kosong yang tersedia. Shivani tidak berencana pulang. Sudah jauh jauh dia datang, dan dia tidak akan pulang tanpa hasil. Setidaknya dia akan menunggu Kristian dengan menikmati segelas Margarita. Setengah jam sudah berlalu namun tidak ada tanda tanda Kristian akan selesai. Shivani mulai jengah. Dia tidak bisa menunggu lagi karena waktunya yang berharga akan terbuang sia sia. Sedangkan dia sendiri adalah tipe gadis yang akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan hal hal yang serius, termasuk untuk hal ini. Shivani bangun dari duduknya. Dia berjalan ke lantai dansa, menembus kerumunan, dan dia baru berhenti saat Kristian berada cukup dekat dari dirinya. Dia mengawasi pria itu sekilas. Setelah merasa kalau Kristian adalah orang yang tepat, dia segera menuju ke tempat dimana Kristian berdiri. "Hai." Shivani melambaikan tangan untuk membuat Kristian mengetahui kedatangannya. Mengetahui seorang gadis mendekatinya, Kristian segera melepas Headphones yang terpasang di telinganya. Kemudian dia mengawasi sosok gadis berparas cantik, berpakaian seksi, berperawakan tinggi dan menggoda yang sekarang sedang menatapnya intens. Dia menyipitkan mata. Hanya dalam satu kali lihat, dia langsung tau siapa gadis itu. Shivani maju satu langkah sampai jarak di antara mereka tidak ada lagi. Dia sedikit berjinjit kemudian dia mendekatkan wajahnya ke arah telinga pria itu. "Lama tidak berjumpa, Kristian."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN