TMP ~ Membutuhkan Bantuan

2112 Kata
Kristian tersenyum saat mendapatkan sapaan kecil dari gadis di depannya. "Iya, sepertinya kita memang sudah lama tidak berjumpa." Ucapnya menanggapi sapaan Shivani dengan menyisipkan seringai di antara senyumnya. "Kamu tidak banyak berubah. Kamu masih saja cantik, seksi dan pintar menggodaku." Tambahnya dengan melingkarkan tangan kanannya pada pinggang gadis itu. Kristian mengawasi Shivani lekat. Tidak hanya cantik dan menawan, tapi Shivani selalu saja berhasil menggoyahkan pendiriannya. Terlebih, penampilan Shivani saat ini cukup memprovokasi dengan gaun pendek berbelahan d**a rendah yang menunjukkan paha dan bahu yang indah. Membuat dirinya sebagai pria normal, sulit untuk menolak pesona itu. "Sebenarnya bukan aku yang pintar menggoda, tapi kamu yang gampang tergoda." Shivani mengatakan apa adanya tentang apa yang dia pikirkan secara langsung tanpa menggunakan kiasan, majas ataupun analogi. Kristian terkekeh. "Tidak bisakah kamu menggunakan kalimat yang lebih implisit?" Kristian berharap Shivani tidak akan mengejek dirinya. Tapi bagaimana mungkin dia mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi? Mengharapkan Shivani untuk tidak mengasari dirinya adalah mustahil. Dan Shivani tidak mengejeknya mungkin akan membuat gadis itu jatuh miskin. Jadi, asal mengejek dan menyakiti dirinya bisa membuat Shivani kaya raya, hidup makmur, hidup berkecukupan, hidup dalam gelimang harta, hidup dalam kebahagiaan, it's not a big deal for him. "Menggunakan bahasa implisit sama sekali bukan gayaku. Jadi untuk apa aku melakukannya kalau aku tidak menyukainya?" Ucapan Shivani terdengar meremehkan. "Lagi pula, aku lulus dari Faculty of Arts & Social Sciences di National University of Singapore bukan dari Sastra dan Bahasa Asing, tapi aku mengambil Ilmu Komunikasi. Jadi, kamu jangan berharap kalau aku akan menjadi anak sastra yang bisa mengkritik orang menggunakan filsafat." Shivani alergi dengan Sastra. Bukan karena dia tidak berkemampuan, tapi karena dia trauma pernah di sukai oleh seorang anak Sastra dan alhasil setiap hari dia mendapat surat cinta yang berisi dua lembar penuh dengan tulisan filsafat. Membacanya membuat dia pusing dan akhirnya dia tidak mau berurusan dengan Sastra yang membingungkan. "Wah, benarkah? Jadi kamu lulusan dari NUS?" Kristian menunjukkan ekspresi wajah terkejut seolah dia benar benar terkejut. Pada nyatanya, dia tidak terkejut sama sekali. "Jangan tunjukkan wajah terkejut mu!" Shivani menepuk wajah Kristian sebagai peringatan kalau ini adalah nyata, bukan mimpi. "Bukankah kamu sudah tau tentang hal itu? Bukankah dulu aku pernah menceritakan kalau keberadaan ku di Singapura adalah untuk bersekolah di NUS?" Shivani menambahkan. Kristian terkekeh. Dia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Benar juga. Lagi pula, dulu aku juga sekolah di sana. Tapi aku Faculty of Engineering, Ilmu Teknik." Kristian menjelaskan kalau dia juga merupakan salah satu lulusan Terbaik NUS. "Dasar bo-doh!" Shivani mencubit pelan perut Kristian. "Kalau boleh jujur, kamu juga tidak banyak berubah. Masih tampan dan.." Shivani mengulur kata katanya. "Menyebalkan." Sambungnya dengan mengedipkan sebelah mata sebagai bentuk godaan. "Bagian mana dari diriku yang menyebalkan? Em?" Kristian bertanya kepada Shivani. "Rasanya.. tidak ada." Namun dia yang tidak sabaran, merasa tidak perlu menunggu jawaban dari Shivani karena dia lebih memilih untuk menjawab pertanyaannya sendiri. "Bukan dirimu kalau tidak memiliki kepercayaan diri yang besar." Shivani menimpali ucapan Kristian yang terlampau percaya diri. Tapi itu bagus. Setidaknya dengan sifat narsistik yang pria itu miliki, pria itu bisa berbaur dengan mudahnya dalam suatu kalangan tanpa insecure. "Kamu benar." Kristian mencium pipi kiri dan pipi kanan Shivani secara bergantian. Ciuman itu dia tidak menggunakan bibir, namun menggunakan pipinya. Itu pun hanya sebagai formalitas semata. "Aku akan menganggap itu sebagai pujian." Dia cukup narsistik untuk ukuran seorang pria. Namun, karena wajahnya memang tampan dan karena peragainya memang seperti ini, dia sama sekali tidak tersinggung. Shivani tersenyum tipis. "Ngomong ngomong, selamat datang di sini, di Tanah Air kita." Kristian merentangkan tangan dengan harapan agar Shivani masuk ke dalam pelukannya. Namun, agaknya harapan itu tidak terealisasi dengan baik. Shivani menggelengkan kepala. "Tidak ada pelukan ataupun ucapan selamat datang karena aku tidak berada di sini untuk berbasa basi ataupun untuk mengucapkan 'hai' kepadamu." Shivani mempertegas perkataannya kalau dia memiliki urusan penting sampai dia datang ke sini. Lagi pula, kalau tidak ada hal yang benar benar penting, dia tidak mungkin jauh jauh, larut malam datang mengunjungi baji-ngan itu? Dia cukup waras untuk tidak bergaul dengan seorang pria seperti Kristian. "Benarkah?" Kristian menurunkan tangannya kembali karena tidak mendapat tanggapan dari Shivani. "Aku tidak percaya ini. Bukankah kamu di sini untuk berkata 'hai' atau memberikan sebuah ciuman persahabatan untukku?" "Sayang sekali sudah mengecewakan. Tapi, aku datang karena aku membutuhkan bantuanmu." Shivani menarik tangan Kristian agar mengikutinya. "Ikuti aku dan kita akan mencari tempat yang nyaman untuk berbicara." Tambahnya kemudian. "Whoa.. whoa.. whoa.." Kristian melepaskan Headphones yang melingkar di lehernya lalu melemparkannya secara asal ke meja DJ. "Kamu mau membawamu ke mana?" Langkah kakinya tidak seimbang karena Shivani menariknya begitu saja saat langkah kakinya belum stabil. "Aku harus mencari orang untuk menggantikan pekerjaanku." Meski terus bicara, namun dia sama sekali tidak menolak saat Shivani menariknya tanpa ampun seolah akan membawanya ke tempat penyembe-lihan hewan ternak. "Yang jelas bukan ke kamar hotel." Shivani buru buru menjawab untuk menangkis pemikiran Kristian yang pasti ke arah sana. "Astaga." Kristian menepuk dahi. "Padahal aku sedang ingin menginap di hotel." Dia menunjukkan raut kekecewaan yang dalam. "Bersama dirimu." Tambahnya dengan nada suara sedih karena penolakan. "Tidak sekarang." Shivani menolaknya secara tegas. Tidur bersama? Apa apaan itu? Pemikiran yang gi-la. Lagi pula dia masih suci. Meski dia pernah berhubungan se-ks dengan Raiden, namun dia tidak pernah sekalipun tidur dengan pria lain. Jadi, anggap saja dia masih suci. "Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu 'lain waktu' saat kamu senggang." Kristian dapat merasakan penolakan cepat dari Shivani. Namun tak apa. Dia dan Shivani memang tidak pernah memiliki hubungan khusus selain teman. Persahabatan mereka pun tercipta secara tidak sengaja karena Shivani sering datang berkunjung ke Club malam miliknya di Singapura yang kebetulan.. dia memang lebih sering berada di sana ketimbang di sini. Tapi, karena sekarang Shivani sudah pulang, tampaknya dia harus menghabiskan lebih banyak waktu di sini. "Aku tidak akan memiliki waktu senggang." Shivani membuat alasan lain agar penolakannya lebih masuk akal. "Kalau begitu, lain lain lain waktu." Kristian tidak mau kalah. Tidak ada sekarang, masih bisa esok hari. Tidak ada esok hari, masih ada lusa. Tidak ada lusa, masih ada Minggu depan. Dan begitu seterusnya. "Lain lain lain waktu, aku juga sibuk." Sangat. "Haish." Kristian mendesis. "Kamu ini pelit sekali. Bahkan tidur bersama hanya satu malam pun kamu tidak memiliki waktu." Kristian mulai mengeluh atas ketidakpuasan sikap Shivani terhadapnya. "Aku memang pelit. Bukankah sejak dulu kamu juga mengetahuinya?" Shivani menghentikan langkah kakinya setelah tiba di lantai dua. Dia melihat nomor ruangan dengan teliti. Dan nomor itu persis seperti yang dia pesan. "Jadi kamu memesan ruang private hanya untuk berbicara dengan ku?" Kristian mendahului Shivani masuk ke dalam ruangan setelah membuka pintunya. "Apa itu sangat penting sampai kamu datang tengah malam seperti ini?" Tambahnya setelah dia berhasil meletakan pantatnya pada sofa empuk yang tersedia. Melihat Kristian sudah masuk, Shivani mengikuti masuk dan menutup pintunya kembali. Dia mengangguk sembari mendudukkan diri di sebelah Kristian. "Sangat penting." Dia mengambil sesuatu dari dalam tas, kemudian dia menyodorkannya kepada Kristian. Kristian menyipitkan mata. "Apa ini?" Dia meraih kertas kecil dari Shivani kemudian membaca tulisannya. Danis Leonardo Pahlevi, Pahlevi Intinusaflora. Melihat apa yang tertulis di sana, Kristian bertanya tanya di dalam hati. Kenapa Shivani mencari Leo? -Kristian itu temennya Leo yang pernah ketemu Dilara di Club Malam. Baca YOUNG MARRIAGE- "Aku perlu data dari orang ini! Selengkap mungkin. Semakin lengkap semakin baik." Shivani memberikan perintah tegas kepada Kristian. "Aku akan membayar berapapun." Tambahnya untuk membuktikan kalau dia benar benar membutuhkan informasi tentang orang itu. Kristian melemparkan memo kecil itu ke atas meja. "Aku tidak mau." Bukannya dia tidak mau membantu Shivani, tapi jauh dari pada itu, dia tidak mungkin membeberkan informasi tentang salah satu teman baiknya. Itu melanggar Hak Asasi Pertemanan yang sudah cukup lama terjalin antara dirinya dan Leo. Lagi pula, berteman itu bukan hanya tentang uang. "Kenapa? Kenapa kamu tidak mau membantuku? Apa kamu sudah tidak menganggapku sebagai teman?" Shivani menggoncang lengan Kristian keras keras. Dia benci di tolak saat dia sudah menawarkan uang dalam jumlah banyak. "Kamu ini bicara apa? Kamu tetap temanku. Hanya saja, membeberkan informasi orang lain itu bukan hal yang baik." Kristian beralasan. Dia berdalih dengan mengatasnamakan kebaikan. Lagi pula, dia tidak enak hati mengatakan kalau dia mengenal Leo. Bisa saja Shivani memiliki niat terselubung kepada Leo. Jadi, dia tidak akan menanggung resiko hanya untuk uang meski itu dalam jumlah yang banyak. "Aku mohon." Dia menyatukan telapak tangannya. "Bantu aku. Aku benar benar membutuhkan informasi ini." Dia menambahkan. Sebenarnya dia bisa saja meminta bantuan orang lain, namun dalam berbisnis, lebih baik dia melakukannya dengan hati hati dan dengan orang yang tepat. Jadi lebih baik dia memaksa Kristian agar mau membantunya. Tok tok tok. Mendengar ketukan pintu dari luar, Shivani dan Kristian saling bertukar pandang. Namun setelahnya Kristian memberi instruksi agar seseorang yang mengetuk pintu segera masuk. "Permisi, saya mengantar minuman yang anda pesan." Pelayan membungkukkan badan saat melihat gadis yang memesan minuman, duduk berdua dengan Bos mereka. "Mm." Kristian mengangguk. "Letakan saja di atas meja!" "Baik." Pelayan meletakan botol minuman dan gelas gelas kecil di atas meja, setelahnya dia pamit undur diri dan menutup pintunya kembali. Kristian mengambil bungkus rokok dari dalam saku celananya, setelah itu dia mengambil sebatang dan segera menyulutnya. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sembari menghisap rokoknya penuh penghayatan. "Aku bisa saja membantumu, tapi aku perlu mengetahui alasan kenapa kamu mencari orang ini." Adalah keputusan yang cukup sulit untuk Kristian ambil. Namun, meskipun begitu, setidaknya dia masih mempertimbangkan semua itu baik atau tidak, menguntungkan atau tidak. "Alasan?" Wajah Shivani berubah buruk. Dia mengambil botol minuman beralkohol lalu menuangkan isinya ke dalam gelasnya. Setelah itu dia menyesap sedikit demi sedikit minumannya sembari menikmati rasa khas yang langsung menyebar ke dalam mulutnya. "Mau rokok?" Kristian menawarkan rokoknya setelah melihat raut wajah Shivani tampak depresi. Shivani mengibaskan tangan. "Aku sudah tidak merokok." "Benarkah?" Kristian menunjukkan ekspresi penuh tanya. "Kenapa? Bukankah saat kita bertemu terakhir kali di Singapura kamu masih merokok?" Dia ingat betul kalau Shivani membawa rokok pada saat itu. "Orang tuaku akan kecewa kalau melihat anak gadisnya merokok." Sudah enam bulan Shivani berhenti merokok. Itu pun dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal, yaitu.. dia tidak ingin membuat Mama dan Papa kecewa. Meski merokok dan mengecewakan orang tua sebenarnya tidak satu jalur, namun saat mengingat orang tuanya masih menganut budaya timur dengan adat istiadat, adab, norma dan agama yang sangat kental, dia lebih memilih untuk menghentikan kebiasaan buruknya sejak dini. Lagi pula, dia sudah berjanji akan menjadi orang yang baik setibanya dia di sini. Dan seharusnya dia bisa membuktikan kalau ucapannya tidak sekedar omong kosong belaka. "Dan itu enam bulan yang lalu. Selama itu juga aku berusaha keras untuk menghentikan kebiasaan merokok ku dan mencari kebiasaan lain yang lebih bermanfaat." Imbuhnya. "Seperti?" "Seperti membeli permen karet dan mengunyahnya." Kristian terkekeh. "Apa kamu menganggap itu kebiasaan baik?" "Tentu." Shivani mengangguk yakin. "Setidaknya mulutku tidak bau." Shivani memberikan alasan yang cukup masuk akal. Sejenak hening. Baik itu Shivani ataupun Kristian, tidak ada yang berbicara lagi. Mereka sama sama sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Shivani juga sedang memikirkan banyak hal. Entah itu tentang pertanyaan Kristian yang masih mengganjal di otaknya atau memikirkan hal lain. Yang jelas sekarang dia tidak baik baik saja. "Jadi.." Kristian menjeda kalimatnya. "Apa alasannya?" Dia tidak akan membiarkan Shivani mengalihkan pembicaraan. Setidaknya, dia harus tau motif seperti apa yang Shivani miliki sampai berkeinginan untuk menyelidiki Leo. Seharusnya motif itu bukan sesuatu yang buruk. "Fiuh.." Shivani menghela nafas panjang. Dia tidak tau apakah dia harus menceritakan tentang organ Raiden yang di donorkan atau tidak. Apakah dia harus diam saja atau harus menjelaskan? Dia sama sekali tidak tau harus bagaimana. Dia sendiri masih linglung setelah semua yang terjadi. Dan dia tidak yakin apakah dia sanggup menceritakan insiden setragis ini kepada baji-ngan teng-ik Kristian meski dia ingin. Dia dilema. "Apa itu sangat sulit?" Untuk menceritakannya? Kristian tidak tau rahasia semacam apa yang Shivani sembunyikan. Namun, kalau Shivani membutuhkan bantuannya, setidaknya dia juga harus tau alasannya. "Tunangan ku.." Shivani menoleh ke arah Kristian, lalu dia menatap pria itu lekat. "Dia.. meninggal." Lanjutnya dengan suara rendah. Dirinya hampir saja tumbang kalau tubuhnya tidak segera di peluk oleh Kristian. Shivani hanya tertegun. Dia tidak menyangka kalau gerakan pria itu begitu gesit bahkan di lakukan tanpa dia sempat berkedip. Kristian mengusap punggung Shivani secara perlahan. Meski dia belum tau kemana arah pembicaraan Shivani, namun saat mendengar perkataan Shivani tentang kematian, tubuhnya bergerak refleks untuk memeluk gadis itu. "Penglihatan dan detak jantung tunangan ku.. ada di orang itu. Aku hanya ingin melihat seperti apa orangnya, apakah dia pantas mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dari orang yang paling aku cintai?" Shivani menyembunyikan wajahnya pada bahu Kristian. Dia tau hanya dia yang bisa menguatkan dirinya sendiri, bukan Kristian ataupun siapapun. Kristian mengangguk. "Kamu tidak perlu cemas, aku akan memberitahu tentang pria itu kepadamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN