Dua hari kemudian.
Drt drt..
Getar hp di atas nakas membuat Shivani menoleh. Dia sedang sibuk menghadap laptop dan menggunakan media sosialnya untuk mencari tau kabar tentang teman temannya. Namun, belum satupun dari mereka yang memberikan tanggapan atas pesan yang dia kirim. Mungkin mereka sibuk. Pikirnya.
Shivani meraih benda pipih yang masih bergetar di atas nakas, kemudian dia tersenyum saat melihat nama si pemanggil. Kristian.. pria itu pasti membawa kabar baik.
"Ya." Bukan sapaan 'hallo' atau 'hai' yang Shivani gunakan, dia justru menggunakan kata 'ya' sebagai tanda kalau dia sudah menjawab panggilannya.
"Datanglah malam ini!"
Shivani memutar bola matanya sebentar. "Baiklah." Dia tidak perlu memikirkan jawaban yang akan dia berikan karena dia hanya cukup menjawab 'baiklah' dan itu sudah mewakili semua kata yang tidak bisa di lontarkan.
Tut tut tut. Panggilan berakhir.
"Shivani." Mama menerobos masuk saat melihat pintu kamar Shivani tidak tertutup. "Apa kamu baik baik saja?" Mama bertanya penuh perhatian setelah melihat anak gadisnya menunjukkan raut wajah yang sulit di artikan.
"Aku baik baik saja, Mam, bahkan sangat baik. Memangnya ada apa?" Shivani bertanya dengan suara lembut. Sejak dia tau kalau Raiden sudah meninggal, tidak sekalipun dia membenci atau marah terhadap orang tuanya.
Tidak sama sekali.
Bahkan tidak pernah terbersit pikiran dalam benaknya untuk marah kepada mereka meski mereka sudah berbohong dan menutupi kebenaran dari dirinya.
Kebaikan mereka selama bertahun tahun ternyata mampu meredam amarah yang sempat tercipta. Pada akhirnya, dia tidak pernah bisa membenci mereka. Bukan karena dia tidak mau di anggap sebagai anak durhaka, namun di balik itu, perasaan sayangnya kepada mereka mampu mengalahkan segala ego.
"Apa kamu memiliki waktu malam ini?"
Ucapan Mama membuyarkan Shivani dari khayalannya. Dia mengerutkan kening. "Memangnya kenapa?" Firasatnya buruk tentang hal ini. Dan dia pikir, mungkin itu adalah sesuatu yang tidak menguntungkan untuknya. Bukan mungkin, tapi pasti.
"Temani Mama dan Papa untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan teman Papa." Mama berbicara dengan nada sepelan mungkin untuk membujuk Shivani agar mau mengikuti mereka menghadiri pesta.
Bagaimanapun, Mama hafal betul dengan karakter putrinya yang susah di ajak menghadiri pesta. Shivani lebih senang menghadiri pesta yang di adakan oleh teman teman sebayanya dan anti menghadiri pesta untuk para orang tua yang katanya membosankan. Meski sebenarnya acaranya tidak benar benar membosankan karena banyak juga anak anak muda seusia Shivani yang juga mengikuti orang tua mereka untuk datang walau hanya sekedar menyapa, namun, bagi Shivani.. itu seperti hidup dan mati. Dan itu membuat mereka sebagai orang tua merasa resah.
Shivani menggelengkan kepala. "Maaf, Mam. Aku tidak bisa. Aku harus bertemu seorang teman malam ini." Dia menolak dengan cara halus menggunakan alasan paling sederhana yang selalu dia gunakan untuk menolak keinginan Mama yang terlalu absurd untuknya.
Menghadiri pesta bersama Mama dan Papa?
Yang benar saja!
Itu adalah acara untuk orang tua yang pastinya sangat membosankan.
Shivani bisa bosan setengah mati kalau sampai mengikuti permintaan Mama untuk menghadiri acara semacam itu. Lagi pula, dia memang memiliki janji temu dengan Kristian, jadi apa yang dia katakan bukan hanya sekedar alasan.
"Tidak bisakah kamu mencari alasan yang lain?" Mama tau kalau Shivani pasti akan beralasan. Dia hafal betul dengan tabiat anak gadisnya. "Kamu selalu saja menggunakan alasan yang sama setiap kali ku ajak ke pesta. Kenapa kamu tidak berinisiatif mencari alasan lain?" Mama menambahkan dengan nada suara mengintimidasi.
Shivani menghela nafas panjang. Itu sebabnya orang tidak boleh berbohong, karena kalau ketahuan akan sulit untuk menjelaskan. Sepertinya, hidup itu memang sulit di prediksi. Terbukti saat dia berkata bohong, Mama dan Papa percaya. Namun, saat dia berkata yang sebenarnya, mereka justru meragukan kata katanya. Aneh.
"Itu bukan alasan. Kali ini aku tidak bohong. Aku memang akan bertemu dengan seorang teman." Shivani gigih membela dirinya sendiri meski dia tau kalau itu.. mustahil. Pada nyatanya, Mama tidak semudah yang terlihat.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Sebaiknya kamu gunakan waktumu untuk membeli beberapa gaun untuk pesta malam ini." Mama berdiri. Lalu melangkah pergi meninggalkan Shivani yang tampak tidak puas dengan keputusannya. Namun cara teraman untuk membuat Shivani menyerah adalah dengan meninggalkan gadis manis itu tanpa memberikan pilihan.
"Mama." Shivani mengerang frustasi saat Mama tidak memberikan ruang untuknya bernegosiasi. "Mama curang!' Tambahnya kemudian.
Shivani menghela nafas kasar. Baiklah, sepertinya kali ini Mama menang karena sudah membuat dia tidak punya alasan untuk menghindar lagi.
"Okey, aku kalah." Shivani kembali berteriak saat tidak mendapat tanggapan apapun dari Mama.
Mama ini..
Sangat menyebalkan.
-----•
--•
Malam harinya.
Shivani kembali datang ke club malam setelah menerima panggilan dari Kristian sore ini. Dia tau kedatangannya ke sini tidak akan sia sia karena dia yakin Kristian sudah menyiapkan apa yang dia butuhkan.
Mencari informasi menyeluruh terkait petinggi sebuah perusahaan besar cukup sulit di lakukan. Itu sebabnya dia meminta bantuan Kristian agar dia tidak perlu menunggu lama.
Hanya dua hari dan itu adalah batas maksimal Kristian bekerja, dan kebetulan, tepat dua hari pula Kristian menghubungi dirinya.
"Saya ingin menemui Kristian." Shivani bertanya kepada salah seorang pelayan begitu dia masuk ke club malam. Suasana club malam belum terlalu ramai karena ini masih sore hari.
Pelayan mengerutkan kening. "Maaf, anda?" Mengawasi gadis cantik di hadapan, si pelayan dapat menyimpulkan kalau gadis ini adalah kalangan sosialita yang memiliki janji temu di private room. Pakaian mahal, penampilan menawan, barang branded, sudah di pastikan kalau status gadis ini tidak biasa.
"Shivani." Shivani menyebutkan namanya dengan fasih.
"Oh, ikuti saya." Pantas. Ternyata gadis ini adalah orang yang sedang Bos tunggu. Gumam pelayan di dalam hati. Sedari tadi, dia memang sudah di atur untuk menunggu seseorang bernama Shivani untuk kemudian di antar ke ruangan Bos kalau sudah datang. Jadi, si pelayan bergerak cepat melakukan sesuai arahan.
Shivani mengikuti pelayan tanpa bicara apapun.
"Silahkan, Nona." Pelayan menghentikan langkahnya saat tiba di depan sebuah pintu khusus di lantai tiga. "Bos sudah menunggu di dalam." Tambahnya mempersilakan Shivani masuk dengan sopan dan ramah.
Shivani menerobos masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Dia pikir, kalau pelayan mengatakan Kristian sudah menunggu, berarti pria itu sudah siap untuk mempresentasikan hasil kerja yang dia inginkan. Namun, raut wajahnya berubah buruk saat melihat pria itu..
Telan-jang di depannya.
Si-alan!
Shivani berjalan mendekat dan.. PLAAAKK..
Dia menampar wajah Kristian begitu saja.
Mendapat sebuah tamparan mendarat di wajahnya, Kristian menaikan tangan untuk menyentuh wajahnya dengan ekspresi linglung. Semua terjadi begitu cepat dan.. "Apa apaan ini? Kenapa kamu menampar wajah tampanku?" Kristian meraung setelah sadar dari pikunnya.
Apa gadis itu gi-la? Kenapa tiba tiba gadis itu menampar dirinya tanpa dia tau dimana letak kesalahannya?
Gadis ini..
Kur-ang ajar.
"Cepat pakai pakaian mu! Atau aku akan mematahkan milikmu." Shivani tidak perlu repot menutup mata ataupun menjerit seperti reaksi gadis kebanyakan saat melihat sosok pria tampan, bertubuh kekar berotot, berpenampilan menggoda, serta memiliki kejan-tanan yang besar dan panjang, telanjang di depan mata. Dia tidak seperti para gadis yang bereaksi berlebihan saat melihat sosok pria seperti Kristian.
Sebenarnya pria itu memang tidak perlu di ragukan betapa sempurna dan rupawannya. Meski sejujurnya Shivani menyukai pemandangan ini dan tidak merasa terganggu sama sekali, namun sebagai wanita normal, dia tentu harus menjaga reputasi dan nama baiknya.
"Haish." Kristian mendesis. "Salah siapa kamu tidak mengetuk pintu?" Kristian mulai memakai satu persatu pakaiannya. Mulai dari celana dalam, celana jeans, dan yang terakhir adalah kaos. "Aku baru saja selesai mandi." Tambahnya di sertai seringai liar khas seorang pria.
Merasakan seringai lapar dari Kristian, Shivani mundur satu langkah. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Sebenarnya Kristian tidak perlu di waspadai. Pria itu bukan pria nakal seperti yang orang orang katakan. Kenapa dia berpikir begitu adalah karena dia mengenal Kristian dengan cukup baik meski itu hanya dengan satu atau dua pertemuan.
Percayalah, Kristian adalah pria yang baik secara nurani. Masalah lain seperti tentang cara mendapatkan uang atau hubungan asmara dengan para gadis, Shivani merasa itu bukan kapasitasnya untuk menilai Kristian jahat ataupun kotor. Terlepas dari apapun itu, pria itu memiliki hati yang baik.
Kristian mendekat ke arah Shivani. "Kenapa aku mendekat adalah karena Nona Shivani tampak tidak terganggu dengan diriku yang tela-njang ini." Bisiknya tepat pada telinga Shivani. "Oh, benar juga, mana mungkin Nona merasa terganggu, Nona justru tampak sangat menikmatinya." Imbuhnya dengan suara serak.
"Sh-it!" Shivani mengumpat. "Jangan bicara omong kosong denganku."
"Aku tidak sedang beromong kosong." Kristian meraih pinggul Shivani kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Bukankah kamu ingin memberikan bayaran mahal untuk pekerjaanku?" Kristian mengatakan apa yang menjadi kesepakatan tentang bayaran mahal yang akan Shivani berikan sebagai imbalan. "Bukankah lebih baik kalau kamu membayar jasaku menggunakan-"
"Tidak." Shivani segera memotong ucapan Kristian yang belum terucap sembari menyilangkan tangan menutupi dadanya. "Aku hanya melakukan pembayaran dengan uang, tidak dengan cium-an ataupun se-ks, okey?" Dia melepaskan dirinya dari belitan Kristian, kemudian dia mendudukkan dirinya pada ranjang lebar yang tersedia.
Ruangan ini tidak seperti ruang private pada umumnya. Ruangan ini lebih terlihat seperti ruang istirahat pribadi karena tidak hanya ada sofa, namun ada ranjang, lemari, televisi, meja dan kursi kerja, meja billiard dan beberapa barang pribadi seperti perlengkapan pria.
"Sayang sekali. Padahal aku ingin pembayaran yang berbeda dari kebiasaan." Kristian mengambil berkas di dalam laci, kemudian dia menyodorkannya kepada Shivani.
Shivani menerima berkas pemberian Kristian dengan senyum yang mengembang. "Aku tidak menyangka kalau kamu bisa mendapatkan informasi tentang petinggi perusahaan besar sekelas Pahlevi Intinusaflora?" Jelas karena Kristian memiliki koneksi yang bagus, memangnya apa lagi? Pertanyaan yang bo-doh.
"Sebenarnya, itu cukup sulit." Kristian menghela nafas panjang. Dia berencana akan menyombongkan dirinya. "Namun, itu bukan masalah besar." Dia berlaku seolah itu hanya masalah kecil yang bisa dia lakukan hanya dengan kedipan mata. Nyatanya, Leo adalah temannya dan sering datang ke sini untuk sekedar berbincang atau minum bersamanya, jadi tidak sulit untuk mencari informasi lengkap tentang pria itu.
"Tenang saja, aku akan mengirimkan pembayaran yang sesuai untukmu." Shivani membuka dan melihat isi dari berkasnya. Kemudian dia mengangguk puas saat melihat isinya amat sangat detail. Mulai dari silsilah, golongan darah, status sampai mantan pacarpun tertulis lengkap tanpa ada yang terlewat.
"Tentu." Kristian mengulurkan sebuah amplop berukuran besar berwarna cokelat kepada Shivani sebagai pelengkap berkas yang tadi dia berikan.
"Apa ini?" Shivani bertanya setelah menerima amplop itu.
"Lihat saja!"
Shivani membuka isinya. Adalah gambar seorang pria dengan wajah yang sama namun dengan berbagai pose. "Apakah ini Leo?" Shivani bertanya setelah mengetahui kalau nama panggilan pria yang sedang dia selidiki adalah Leo.
Kristian mengangguk. "Bukankah dia tampan?" Dia mengakhiri ucapannya dengan kekehan pelan. Beberapa gadis mengatakan kalau Leo sangat tampan, tapi menurutnya, di banding Leo, dia jelas lebih tampan.
"Lumayan." Shivani meneliti setiap gambarnya. "Tapi lebih tampan kekasihku yang sudah meninggal." Tambahnya kemudian. Leo memang tampan, tapi jujur saja.. menurutnya Raiden jauh lebih tampan.
"But he's dead, bit-ch." Kristian berusaha mengingatkan kalau pria yang Shivani banggakan seberapa tampanpun itu, tetap saja.. sosok itu sudah menjadi mayat.
-Tapi dia sudah mati.-
"No, you're wrong, Kris." Shivani menyanggah ucapan Kristian secepat yang dia bisa sembari merapikan berkasnya kembali. "He is still alive in my heart." Shivani menyentuh dad-anya dengan ekspresi penuh penghayatan.
-Tidak, kamu salah, Kris-
-Dia masih hidup di dalam hatiku-
"Kamu itu sok puitis. Terlalu mendramatisir keadaan." Kristian menyuarakan pendapatnya dengan menambahkan sedikit ejekan.
"Terserah!" Shivani bangkit dari duduknya. "Kalau begitu, aku pergi dulu!" Dia sudah selesai dengan urusannya. Jadi, sudah saatnya dia untuk pergi dan menghadiri Pesta untuk menemani Mama dan Papa.
"Hei, tunggu dulu!" Kristian meraih pergelangan tangan Shivani. "Kenapa kamu buru buru? Bukankah kita akan menghabiskan satu botol wine sebelum kamu pergi?"
"Tidak! Aku akan pergi ke pesta. Apa kamu tidak melihat aku sudah memakai gaun? Terlebih, orang tuaku akan memb-unuhku kalau aku tidak datang. Mereka bilang aku akan di keluarkan dari Kartu Keluarga." Shivani menjelaskan sedikit tentang masalah dalam keluarganya dengan kalimat acak.
"Oh, begitu?" Raut Wajah Kristian berubah suram. Dia sedikit kecewa. "Kalau begitu, pergilah!" Kristian melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Shivani. "Selamat bersenang senang!" Tambahnya kemudian.
"Pasti."