Leo seketika membuka mata saat menyadari hpnya yang tergeletak di atas nakas, bergetar. Dia mengedipkan mata sebentar sembari mengumpulkan nyawa yang masih bergentayangan di awang awang. Dia mengusap keringat yang membasahi dahi. Setelah kesadarannya sepenuhnya pulih, tangannya meraba ke atas nakas dan begitu benda pipih itu teraih, dia segera melihat siapa yang mengiriminya pesan. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Dan kalau bukan pesan penting, seseorang tidak akan mengiriminya pesan pada jam kritis seperti ini. Jadi, tanpa berpikir panjang, Leo segera membaca pesannya. Leo mengerutkan kening saat melihat nama yang tertera. "Shivani?" Leo tidak tau kenapa Shivani mengirimkan pesan saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Dia tidak tau apa yang sedang terjadi dan dia tidak men

