Shivani pulang setelah jam dua belas malam. Dia mengemudikan mobilnya dengan pelan sembari berpikir keras. Sebenarnya sekarang dia sedang di lema. Dia benci berurusan dengan pria breng-sek seperti Leo. Tapi, dia juga tidak bisa menyepelekan fakta bahwa dia membutuhkan pria itu. Membuat dia bingung bagaimana harus bersikap. Ingin menjauh, tidak bisa. Ingin mendekat, dia takut akan mengalami nasib buruk seperti Gabriela. Jadi, dia harus bagaimana? Shivani menggigit bibir bawahnya. Di dalam mobil, suara merdu milik The Kick berjudul Hawk Eyes mengalun dengan volume keras. Shivani sengaja menyalakan musik dengan keras untuk mengusir sepi kala perasaannya sedang tidak karuan. Sesekali dia akan mengangguk-anggukan kepala seolah dia tidak memikirkan apapun. Sesekali, dia juga turut bernyan

