Awan tebal bergulung membentuk gumpalan-gumpalan dengan berbagai macam bentuk. Sangat kontras dengan langit berwarna biru cerah yang membentang sejauh mata memandang.
Cuaca hari ini sangat baik. Cerah berawan.
Memberikan energi positif untuk lebih semangat menjalani hari.
Seharusnya memang begitu, namun sepertinya itu tidak berlaku untuk seorang pria yang masih bergelut dengan berbagai macam permasalahan hidup.
Benar, pria itu adalah Leo.
Dan dia masih berdiri di tempat yang sama untuk waktu yang lama. Pandangannya menerawang jauh menatap sesuatu yang bahkan tidak jelas apa yang di lihat. Pikirannya berisi beraneka macam hal yang dia masih belum tau bagaimana penyelesaiannya meski dia sudah menggunakan hampir seluruh bagian otaknya untuk berpikir.
Beberapa detik kemudian, dia kembali duduk di kursinya.
Dia membuka berkas pemberian Aksa, lalu dia membacanya kembali. Berulang ulang sampai akhirnya dia menemukan beberapa poin yang kemudian berhasil dia tarik kesimpulannya.
Sesuatu yang sebenarnya cukup sederhana tapi entah kenapa baru sekarang terpikir di benaknya.
Mungkin ini adalah apa yang sering orang bilang dimana ada kemauan di situ ada jalan. Bukan di situ ada jalan lalu berbuat semaunya. Katanya hidup perlu aturan dan hukum alam di berlakukan. Namun, tetap saja peluang tidak datang dengan sendirinya. Setidaknya, ciptakan sedikit peluang kemudian telusuri jalannya.
Itu baru benar.
Orang yang hanya mengandalkan keberuntungan, itu tidak related dan tidak relevan. Kecil kemungkinan bahkan mungkin mustahil.
Setidaknya, keberuntungan juga sama seperti peluang, yaitu harus di ciptakan. Tidak menopang kaki dan menunggu peluang atau keberuntungan datang karena itu hanya satu banding sepuluh ribu.
Leo menekan intercom, setelah mendapat tanggapan dari ujung panggilan, dia segera berkata, "Siapkan mobil! Aku akan makan siang di luar dan aku akan pergi sendiri." Selesai berkata dia bangkit dari duduknya, dia mengenakan jasnya kembali, lalu segera melangkah keluar meninggalkan ruangannya.
-------•
--•
Restauran.
Leo masih duduk di balik kemudi. Dia memiliki rencana untuk turun, tapi tidak sekarang. Dia masih mencoba meyakinkan diri tentang apa yang akan dia lakukan, tentang konsekuensinya, dan tentang banyak hal lain yang sekiranya bisa menjadi akibat dari keputusan penting yang sudah terancang di otaknya.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Dua puluh menit.
Dua puluh menit sudah berlalu namun Leo masih belum beranjak dari pandangannya. Dia masih bisa hidup tanpa kasih, namun Shivani seolah datang di waktu, suasana dan tempat yang tepat sampai dia merasakan perasaan yang aneh saat berdekatan dengan gadis itu.
Jujur saja, dia takut dengan keputusannya sendiri.
Dia takut itu akan menjadi hal yang nantinya akan menghancurkan keyakinannya. Dia takut melewati pembatas yang sudah dia ciptakan sendiri. Namun, semakin dia mengelak, semakin dia merasa tertantang untuk terus melangkah maju tanpa peduli dengan banyaknya konsekuensi buruk yang akan terjadi setelahnya.
Dia sudah bertekad dan dia sulit untuk menghilangkan apa lagi menghentikan tekad itu.
Setelah berhasil memenangkan perdebatan dengan otaknya sendiri, Leo membuka pintu dan segera turun. Dia melangkah masuk dan di sambut ramah oleh seorang pelayan.
"Permisi, Tuan, untuk berapa orang?" Pelayan wanita bernama Lucy menyapa ramah Leo yang baru saja berjalan melalui pintu masuk. Pria ini sangat tampan dan berpenampilan tidak kurang dari lima digit USD, kalau bukan pengusaha pasti konglomerat. Pikirnya.
Entah kenapa, belakangan banyak tamu dari kalangan pengusaha atau kalangan menengah atas yang datang dan menjadi pengunjung tetap di Restauran ini setelah nona Shivani kembali dari luar negri dan bergabung dengan mereka di sini. Mungkin, mereka adalah penggemar rahasia nona Shivani yang sedang berusaha mendekati.
Membayangkan ini, Lucy tersenyum di dalam hati.
Nona Shivani, memang sangat cantik. Namun, di banding semua itu, yang paling penting adalah nona Shivani tidak searogan anak-anak orang kaya di luar sana yang gemar pamer ke sana sini menyombongkan harta orang tua.
Pada nyatanya, nona Shivani memang sangat berbeda.
"Satu orang." Leo menjawab singkat. Matanya fokus mengawasi sekeliling, berharap wanita yang ingin dia temui berada di sini. Namun, meski sudah cukup lama mengawasi, dia masih belum menemukan sosok gadis itu.
Dimana gadis itu?
Kenapa dia tidak melihat keberadaan gadis itu meski ini adalah jam makan siang?
Bukankah biasanya gadis itu selalu ada?
"Ruang pribadi atau di sini saja, Tuan?" Lucy siap mengantar kemanapun Leo inginkan. Entah itu di sini, atau di ruang pribadi yang biasanya selalu menjadi pilihan untuk para orang kaya yang tidak ingin terganggu dengan keberadaan orang lain.
"Di sini saja." Meskipun pandangannya berada di tempat lain, namun pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Jadi, apapun yang pelayan tanyakan, Leo akan menjawabnya dengan jawaban yang sesuai meski fokusnya terbagi kemana-mana.
"Baiklah." Lucy mengangguk pelan. "Silahkan ikuti saya!" Lucy berjalan di depan untuk mengarahkan Leo menuju ke salah satu meja yang masih kosong. Meja yang letaknya cukup strategis karena berada di dekat jendela, menyajikan pemandangan samping berupa taman kecil dengan pohon Delima dan beberapa pohon lain yang di kerdilkan. Sangat cantik, elok rupawan.
Leo berjalan mengikuti pelayan, lalu dia mendudukkan dirinya begitu tiba di salah satu meja yang ternyata belum di tempati. Dia pikir, mencari tempat duduk saat jam makan siang akan sulit kalau belum melakukan reservasi, tapi sepertinya.. dia salah. Ternyata, lantai satu Restauran ini sangat luas dengan design yang dia pikir sudah berhenti sampai di situ dan tidak ada ruangan lain lagi, tapi setelah di cermati dan di teliti lebih dalam lagi, tempat ini benar-benar luas.
"Silahkan lihat buku menu Anda dan panggil saya kalau Anda sudah menentukan pilihan." Selesai berkata, Lucy segera undur diri. Dia akan menyambut tamu lain sembari menunggu Leo menentukan pilihan.
Leo tidak menanggapi. Dia cukup frustasi dan dia tidak mempunyai mood baik untuk memilih menu. Bagaimana dia bisa menikmati makanannya kalau pikirannya di porak-porandakan oleh beberapa hal yang sebelumnya tidak pernah terbersit di benaknya?
-------•
--•
Ruang Kerja Shivani.
Tok tok tok.
"Masuk!"
Ceklek.
Lucy membuka pintu dan masuk setelah mendapat instruksi dari Shivani. "Permisi, Nona. Ada seseorang yang mencari anda." Ucapnya pelan dengan raut wajah super biasa. Tidak ada ekspresi lain selain keramah-tamahan.
"Siapa?" Shivani tidak menoleh, dia masih sibuk dengan bacaannya. Ada sedikit kendala yang terjadi dengan pengiriman bahan mentah yang belakangan sulit di dapat. Dan dia masih memikirkan cara untuk menyelesaikan akar masalahnya sebelum masalah-masalah lain muncul dan memperumit segalanya.
"Maaf, Nona, dia tidak menyebutkan namanya." Lucy merasa tidak memiliki kapasitas untuk menanyakan siapa orang itu secara langsung. Namun, berdasarkan pengamatannya sebagai seorang gadis, mungkin pria itu ingin mengencani Nona Shivani. Terbukti, sudah setengah jam duduk di sana setelah makan siangnya selesai, pria itu tidak kunjung pergi.
Tidak hanya tidak pergi, pria itu bahkan berkata ingin menemui nona Shivani untuk membicarakan masalah penting. Kalau bukan pendekatan, lalu apa lagi lucy harus menyebutnya?
"Apa dia wanita atau pria?" Merasa gerah, Shivani mengendurkan dasi dan membuka dua kaitan kancing teratasnya. Sekarang dia cukup panas karena harus memikirkan masalah lain yang mendadak muncul dan mengganggu kedamaiannya.
Shivani pikir, mengelola sebuah Restauran adalah pekerjaan mudah yang sepele dan tidak ada kendala nyata yang bisa terjadi. Tapi ternyata anggapannya salah.
Tidak heran kenapa Mama mempekerjakan beberapa orang profesional dan sering turun tangan untuk mengelola pembukuan tanpa membiarkan orang lain mengurusnya. Belum lagi complaint beberapa orang yang terkadang tidak puas dengan pelayanan yang ada, atau masalah pasokan bahan mentah seperti sekarang, belum lagi masalah ini, itu, anu, haish.. dia mendesis, kenapa hidup selalu penuh dengan masalah?
"Seorang pria, Nona."
Shivani memutar bola matanya. Seorang pria ingin bertemu dengan dirinya? Kira-kira ada complaint apa lagi dari mereka yang tidak puas dengan kinerja Restauran ini?
Entah itu dari segi pelayanan seperti keterlambatan penyajian makanan dan minuman, salah antar pesanan, salah ambil pesanan. Dari rasa makanan seperti tidak sesuai dengan harapan mereka, makanan terlalu pedas atau keasinan, porsi tidak sesuai. Atau dari segi harga dan pembayaran seperti harga terlalu mahal, harga tidak sesuai dengan yang tertera di menu dan nota, atau keluhan dalam wujud apapun itu. Dia masih belum memikirkan satu dari banyaknya kemungkinan yang mungkin saja terjadi.
Yang jelas, dia sibuk hari ini dan dia tidak berencana untuk menemui siapapun yang tidak membuat janji atau memiliki urusan mendesak dengannya. Terlebih, dia memang tidak memiliki janji dengan siapapun. Jadi, biarkan saja.
"Mm, biarkan Dewiq yang mengurusnya." Handle guest complaints in Restaurant adalah Dewiq yang paling berpengalaman. Selain sabar dan memiliki tingkat keberhasilan menenangkan dan memberikan empati di atas normal, Shivani yakin kalau Dewiq pasti akan berhasil membuat tamu yang sebelumnya mengeluh, menjadi puas.
Bukan tanpa alasan Mama Anna membayar tinggi gaji Dewiq untuk setiap bulannya. Selain alasan tadi, jelas ada beberapa alasan pendamping yang mengokohkan posisi Dewiq di Restauran ini, yaitu.. pertama, Dewiq adalah orang kepercayaan Mama Anna yang selalu bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.
Ke dua, Dewiq dapat berkomunikasi dengan baik dan benar dengan orang lain apa lagi dengan pelanggan, seperti yang dia katakan di awal bahwa Dewiq adalah handle guest complaints in Restaurant terbaik yang pernah ada. Gadis itu selalu optimal dengan pekerjaannya seperti mendengarkan dengan seksama keluhan yang disampaikan oleh tamu, menunjukkan empati dengan mengerti dan memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh tamu saat menyampaikan keluhan, minta maaf setelah tamu selesai berbicara menyampaikan keluhan dan minta maaf kepada tamu itu, mengambil tindakan atas keluhan tamu itu, dan yang terakhir dan terpenting adalah melaporkan keluhan kepadanya atau kepada Mama Anna agar semua laporan itu menjadi ulasan dan perbaikan untuk pelayanan yang terbaik kepada tamu bahkan keberhasilan Restoran untuk mendatangkan tamu yang lebih banyak.
Di banding semuanya, intinya adalah dia ingin Dewiq mengurus masalah ini untuknya.
Mendengar ini, Lucy mengerjapkan mata. "Tapi, tamu itu tidak memiliki keluhan sama sekali. Tamu ini hanya ingin bertemu dan berbicara sebentar dengan anda." Jadi, Lucy pikir itu bukan sesuatu yang harus di besar-besarkan karena itu bukan tentang keluhan atas ketidakpuasan pelanggan. Hanya perlu bicara tapi kenapa Nona Shivani begitu keras kepala? Bukankah itu bisa memperumit sesuatu yang sudah rumit?
Shivani menghentikan sejenak aktifitas membacanya. Tidak untuk mengeluh dan hanya ingin berbicara dengan dirinya? Seorang pria pula? Lantas, motif apa yang di miliki dan apa maunya orang itu?
Shivani menyentuh tengkuknya, firasatnya cukup buruk untuk hal ini. "Justru karena aku sedang berada dalam mood buruk dan takut berbicara yang tidak-tidak dengan tamu, makanya aku memintamu agar Dewiq yang menyelesaikannya. Aku takut akan menelan orang itu kalau sampai aku melihat wajahnya." Hanya alasan. Pada nyatanya, dia malas menemui orang lain pada saat ini. Orang tidak di kenal, orang asing, orang lain, tidak untuk hari ini. Ya, mungkin lain hari. Tidak sekarang.
"Baiklah. Saya akan menyampaikannya." Lucy undur diri dan menutup pintunya kembali.
"Fiuh." Shivani menghela nafas panjang. "Ada ada saja." Dia kembali melanjutkan aktifitasnya, membaca, menganalisa, menyimpulkan dan kemudian mencari solusi untuk semua permasalahan.
Beberapa saat kemudian.
Ceklek.
Mendengar suara pintu di buka, Shivani kembali menghela nafas panjang. "Lucy, kenapa kamu datang lagi?" Shivani masih belum menunjukkan reaksi meski dia sudah mulai jengah. Dia benci di ganggu! Dan statement itu berlaku sampai sekarang.
"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak menggangguku?" Shivani tidak menoleh sama sekali. Tatapan matanya masih fokus mengawasi berkas cukup tebal yang berada di tangannya. "Pergi! Dan minta Dewiq menyelesaikannya!" Shivani menambahkan meski belum mendapat tanggapan dari orang yang menerobos masuk.
Shivani mulai kesal saat otoritasnya di langkahi. Dan itu seperti garis tepi yang sudah dia buat dengan susah payah, namun seenaknya di langgar oleh orang lain.
Mendengar nada mengusir dari Shivani, Leo tersenyum di dalam hati. Siapa Shivani sampai berani mengusir dirinya? Lagi pula, siapa yang memancing dirinya untuk masuk ke sini? Kalau Shivani mau menemuinya di luar, dia juga tidak akan menerobos masuk dengan tidak tahu malunya.
Namun, alasan itu pula yang membuat dirinya tidak bisa untuk tidak mengagumi gadis ini.
Sejauh ini, gadis mana yang berani menolak dirinya?
Tidak ada meski itu hanya satu atau dua orang.
Tapi, apa yang gadis itu lakukan benar benar menggelitik hatinya.
Leo mengawasi lekat gadis yang sedang berdiri menyamping di dekat rak buku. Tangannya memegang berkas dan tatapannya tidak beralih dari berkas dalam genggaman meski gadis itu mengetahui ada seseorang yang menerobos masuk ke ruangannya.
Gadis ini..
Mengenakan kemeja dan rok span adalah pakaian wajar untuk seorang wanita. Namun, yang cukup menjerat pandangannya adalah kemeja bagian atas gadis itu sedikit berantakan dengan dua kancing tidak di kaitkan, dan posisi dasi yang kacau membuat penampilan gadis itu tampak seksi karena kesan nakal yang tersemat.
Si-al!
Leo mengumpat.
Bahkan saat gadis itu hanya berdiri mengenakan pakaian tertutup sembari menatap berkas tanpa ada gerakan yang menggoda, masih saja dia terpikat. Membuat detak jantungnya semakin lama semakin cepat. Tidak hanya itu, pandangannya bahkan tidak bisa lepas dari sosok bit-ch kecil itu.
"Kenapa kamu tidak mendengarkan ucapanku? Sudah ku katakan, pergi dan minta Dewiq menyelesaikannya." Shivani mengulang kembali perintahnya setelah orang yang menerobos masuk tidak kunjung pergi. Suaranya masih tenang dan santai. Tidak ada sedikitpun emosi yang tampak meski dalam hati dia mulai mengumpat. "Lucy, tinggalkan aku sendiri, dan ku mohon tutup pintunya!" Tambahkan kemudian tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari berkasnya.
Ceklek.
Mendapat perintah untuk menutup pintu, Leo segera menutup pintunya meski Shivani memberikan perintah kepada Lucy, bukan kepada dirinya. Namun, dia hanya menutup pintunya, tidak benar benar pergi seperti yang gadis itu minta. Dia justru melangkah mendekat ke arah gadis itu dengan langkah pelan dan hati hati. Dia bahkan tidak meninggalkan suara sepatunya di lantai.
Memangnya siapa gadis itu berani mengaturnya? Jangan mimpi!
Tok tok tok.
"Permisi, Nona. Dewiq sedang tidak berada di tempat." Lucy berbicara di balik pintu setelah lebih dulu mengetuk pintunya.
Mendengar suara Lucy dari kejauhan, Shivani Membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya. Baiklah! Tenanglah, tenang, tenang dan tenang. Kalau sejak tadi Lucy berada di sini, tidak mungkin setelah Lucy keluar baru berkata kepadanya, bukan?
Sampai di situ saja, semua cukup jelas. Hanya saja, dia belum bisa memikirkan siapa yang tadi masuk ke dalam ruangannya. Tapi, untungnya orang itu sudah pergi. Tidak! Dia berharap semoga itu bukanlah manusia, melainkan hantu. Setidaknya hantu tidak akan melihat penampilan berantakannya yang seperti saat ini.
"Belum puas membuat masalah?" Leo berbisik tepat di telinga Shivani. Hembusan nafasnya hangat menerpa tengkuk gadis itu. Dia dapat merasakan tubuh gadis itu menegang dalam kendalinya.
Brug..
Shivani terkejut sampai menjatuhkan berkasnya ke lantai. Mendengar suara ini dan mendapati sesuatu menempel di belakangnya, jantungnya nyaris melompat dari tubuhnya. Tidak hanya menempel di belakangnya, tangan kekar itu bahkan sudah berada di da-danya dan meremasnya.
Si-al! Siapa pria mes-um yang berani melecehkan dirinya seperti ini? Apa orang itu cari mati?