TMP ~ Guardian Angel

2297 Kata
Leo mengulurkan tangan ke depan untuk kemudian menyentuh da-da Shivani. Benda bulat yang lembut saat di sentuh itu membuat sesuatu dari dirinya serasa hidup. Tegangannya juga cukup tinggi dan membakar. Belum lagi saat da-danya bersentuhan dengan punggung Shivani, rasanya degup jantungnya serasa tidak kuat menahan perasaan sesak yang luar biasa. "Belum puas membuat masalah?" Leo berbisik tepat di telinga Shivani. Hembusan nafasnya hangat menerpa tengkuk gadis itu. Dia dapat merasakan tubuh gadis itu menegang dalam kendalinya. Sangat manis dan membuatnya ingin mencicipi leher Shivani yang putih, bersih tanpa noda. Brug.. Shivani menjatuhkan berkasnya ke lantai. Untuk sesaat dia membantu. Dia tidak tau lagi bagaimana keadaan di sekitarnya. Hanya detak jantung Leo yang terasa di punggungnya. Tidak! Detak jantung itu milik Raiden. Debaran yang selalu ingin dia rasakan di setiap harinya. Akhirnya, dia bisa merasakannya lagi. Shivani hampir saja meneteskan air mata saat mengingat betapa dia sangat merindukan sesuatu yang Raiden tinggalkan untuknya meski itu berada di dalam tubuh orang lain. Mata itu.. Tatapan itu.. Debaran itu.. Rasa yang tidak mampu di utarakan.. Cinta.. Iya, dan untuk pertama kalinya dia mencintai begitu dalam sampai dia begitu tersakiti saat kehilangannya. Memang, semua adalah salahnya karena mencintai Raiden melebihi dia mencintai dirinya sendiri sampai kehilangan Raiden membuatnya hampir mati. Tapi apa mau di kata? Semua tentang Raiden benar benar mengagumkan sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Tapi, sekali lagi.. ini semua adalah kesalahan. Shivani berusaha berpikir menggunakan logika saat hatinya hampir berhasil mengambil alih. Sekuat hati dia mengingatkan kalau pria yang sedang memeluknya saat ini memang memiliki penglihatan dan detak jantung milik Raiden, namun.. sekali lagi.. pria itu bukan Raiden, pria itu hanya orang lain, hanya pria asing yang sejenak memabukkan, yang sejenak menghangatkan, namun pria itu tetaplah Leo, bukan Raiden. Oh sh-it! Shivani mengumpat saat kembali ke pemikiran lurusnya. Dia baru menyadari kalau pria yang saat ini menempel padanya adalah Leo, dan itu berarti? Shivani menundukkan kepala dan dia dapat melihat tangan kekar milik pria itu menyentuh da-danya. Tidak hanya menyentuh, Leo bahkan meremasnya dengan s*****l. Sia-lan! Berani beraninya baji-ngan ini melakukan pelecehan terhadap dirinya? Bug. Shivani memberi Leo sebuah pelajaran menggunakan sikunya. Dia refleks melakukannya karena terpaksa dalam keadaan terdesak dan terancam. Siapa suruh pria itu berani menyentuh da-danya yang berharga? Sesuatu yang hanya bisa di miliki oleh Raiden? "Aw." Leo mundur dua langkah sembari menyentuh da-danya. "Apa kamu sangat ingin membunuhku?" Leo berbicara dengan suara rendah namun penuh penekanan. Suaranya berat, menunjukkan rasa sakit yang luar biasa entah apa penyebabnya. Meski serangan mendadak yang Shivani lakukan terhadap dirinya lumayan keras, namun hanya pukulan seperti itu kenapa bisa membuatnya jungkir balik karena rasa sakit yang luar biasa di dadanya? Aneh. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan tubuhnya? Apa tubuhnya benar benar bermasalah sampai pukulan semacam itu bisa melumpuhkan dirinya? "Siapa suruh menyentuh da-da ku?" Shivani menyilangkan tangan di depan untuk menutupi da-danya, tapi percuma karena Leo sudah menyentuh dan merasakannya. Membayangkan hal itu, dia ingin membu-nuh Leo detik itu juga karena sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Aku hanya bermain main." Leo menjawab santai. Dia berusaha tidak menunjukkan rasa sakit yang dia rasa. Dia menegakkan tubuhnya kembali dengan susah payah meski sebenarnya da-danya amat sangat sakit. Shivani berjongkok dan mengambil berkas yang dia jatuhkan ke lantai. Dia memeriksanya sekilas, setelah melihat berkasnya hanya sedikit kotor, dia hanya mengusap lalu dia mengembalikannya lagi ke rak. "Apa meremas da-da wanita kamu anggap mainan?" Kalau memang Leo menyukai permainan semacam itu, mainkan saja dengan orang lain. Jangan dengan dirinya. Dirinya adalah gadis baik baik yang segala asetnya tidak bisa di sentuh oleh sembarang orang. "Nona, apa anda baik baik saja?" Lucy yang masih berdiri di depan pintu untuk menunggu instruksi, merasakan suatu keanehan saat mendengar suara suara aneh yang berasal dari dalam ruangan. Mendengar suara Lucy yang ternyata masih di depan pintu, Shivani menepuk dahi. Astaga! Ternyata Lucy masih di sana? Tsk.. tsk.. tsk.. "Tidak perlu. Biarkan saja, aku akan menangani orang gil-a itu!" Shivani sengaja menyebutkan kata 'gi-la' dengan intonasi dalam sembari menatap Leo dengan tatapan tajam. Maksudnya, sangat jelas dia menyindir Leo. Tentu saja. Lagi pula, tidak ada orang waras yang meremas da-da sebagai kalimat sapaan. Dimana orang normal biasanya akan mengucapkan "selamat pagi", "selamat siang", atau "apa kabar", tapi karena Leo adalah seseorang dengan gangguan kejiwaan, maka pria itu meremas da-da wanita seenaknya sendiri tanpa izin. Tidak masalah kalau mereka adalah kekasih. Tapi, mereka hanya orang asing yang tidak saling mengenal namun itu.. haish.. dia bahkan tidak bisa berkata apapun lagi. "Tapi kamu tampak menikmati remasan yang tadi aku lakukan." Leo menyeringai sembari mendudukkan dirinya di atas sofa. "Mulutmu bisa berbohong, tapi tidak dengan tubuhmu. Kenapa aku berkata seperti itu? Adalah karena serangan yang kamu lakukan cukup terlambat. Apa aku benar?" Leo merasa sudah lebih baik dari sebelumnya. Rasa sakit yang tadi menyiksa, perlahan mulai sirna. Hanya rasa sesak yang masih ada. Namun, sesak itu entah tercipta karena serangan Shivani tadi atau karena Shivani berada di dekatnya? Dia juga tidak tau jawaban pastinya. Shivani membelalakkan mata. "Apa kamu gi-la?" Jawabannya adalah tidak. Lagi pula dia diam dan membiarkan kejadian itu berlangsung selama beberapa detik karena dia menikmati detak jantung itu saat punggungnya bersentuhan dengan tubuh bagian depan milik Leo. Namun saat kewarasannya sudah kembali, tentu saja dia segera memberontak. Terlebih dia menghargai Leo karena pria itu menyimpan sesuatu yang berharga miliknya, kalau tidak, dia pasti akan meminta orang untuk melenyapkan pria m***m itu dalam waktu dekat. Leo memiringkan sedikit kepalanya. "Apa menurutmu begitu? Apa menurutmu aku, gila?" Leo tidak mungkin menjadi gi-la tanpa alasan. Namun, saat dia sudah menjadi gi-la, dia memang akan menjadi seperti itu, yaitu menjadi tidak tahu malu. Tidak hanya sampai di situ, dia bahkan berencana akan melakukan serangkaian hal gi-la lagi untuk mendramatisir keadaan. Shivani mengangguk cepat. "Tentu saja, kenapa kamu masih bertanya?" Shivani berjalan ke meja kerjanya, kemudian dia duduk di kursi kesayangannya. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya tajam mengawasi langit langit ruangan. Ada banyak ketidakpuasan yang Shivani rasakan sejak kembali dari Singapura. Seharusnya dia menikah dengan Raiden kemudian mencari pekerjaan, menjadi wanita karir dan menjadi istri yang baik untuk Raiden. Namun, kenyataan benar benar menjadikan dirinya sebagai lelucon. Di balik hingar bingar hidupnya, terselip banyak kesedihan dan penderitaan yang orang lain tidak akan pernah mengerti. Mereka hanya melihat, mendengar, dan menyimpulkan apa yang mereka lihat tanpa tau, tanpa memahami, dan tanpa mengerti seberapa sulitnya dia mencapai posisi itu. Mendengar ini, Leo menyeringai. Dia berdiri dan berjalan pelan ke arah Shivani. "Apa kamu ingin melihat cara kerja orang gil-a yang sebenarnya?" Selesai berkata, Leo meletakkan tangannya pada pegangan kursi. Matanya mengawasi Shivani lekat. Namun, fokusnya tidak lagi pada wajah karena da-da Shivani terlalu menonjol dan itu membuatnya tidak bisa mengendalikan diri lagi. Adik kecilnya sudah meronta di dalam sana, dan dia ingin segera memasuki Shivani agar gadis itu tau betapa dia tidak pernah bermain main dengan ucapannya. Shivani terkejut saat mendapati Leo mengurung dirinya pada kursi kerjanya. "Aku tidak tau dan juga tidak mau tau." Dia membuang muka, dia tidak ingin melihat Leo atau dia akan tergoda untuk memegang da-da bidang dengan otot kekar yang lagi lagi dengan alasan sama, yaitu untuk merasakan debaran milik Raiden. "Ngomong ngomong, sudah ada berapa gadis yang kamu remas da-danya sebagai pengganti kalimat sapaan?" Selesai berkata, dia memberanikan diri menatap Leo dengan sebelah alis yang terangkat. Leo mendekatkan wajahnya. "Apa kamu yakin menanyakan hal itu kepadaku?" Shivani mengangguk pelan. "Iya, sangat yakin." Memangnya kenapa kalau dia menanyakannya? Kenapa Leo tampak tidak nyaman dengan pertanyaan itu? Aneh. "Sayangnya, aku tidak pernah melakukannya." Dengan hati. Dengan tubuh mungkin iya, itu pun tidak bisa di katakan untuk mencari kepuasan. Dia melakukannya atas dasar iba dengan kehidupan Gabriela yang kesepian dan menderita. Itu pun selalu Gabriela yang memulai. Dia tidak melakukan apapun selama proses itu berlangsung. Dia hanya diam dan Gabriela yang akan melakukan hal itu untuknya. "Hanya dirimu, Shivani." Hanya kamu. Ucapnya pelan dengan suara rendah. Bahkan mungkin saja Shivani tidak mendengarnya. Terlebih, dia memang berharap agar Shivani tidak pernah mendengar apa yang dia katakan karena itu terlalu memalukan. "Apa yang sebenarnya kamu bicarakan?" Shivani merasa apa yang dia dengar adalah sebuah gurauan. Lagi pula, tidak mungkin Leo berkata 'tidak pernah melakukannya dengan orang lain dan itu hanya di lakukan dengan dirinya, bukan?' Tidak mungkin. Pria seperti Leo selalu pandai bicara. Berlari dari satu alasan ke alasan lain. Melompat dari satu kebohongan ke kebohongan lain. Itu adalah ciri khas seorang pria yang gemar bertutur manis untuk membodohi para gadis. Sayangnya, dia mendekati Leo karena terpaksa, karena suatu alasan yang make sense untuknya. Kalau tidak ada alasan, dia tidak sudi berdekatan dengan pria seperti itu. "Aku tidak mengatakan apapun." Leo menggelengkan kepala. Sesaat kemudian. "Aw!" Leo memegang da-danya yang kembali sakit. Dia menjauhkan dirinya dan mundur beberapa langkah. Kepalanya pening karena beberapa ingatan kembali muncul di ingatannya. "Kamu kenapa?" Shivani memegang tubuh Leo yang tiba tiba tidak seimbang. Dia menopang tubuh kekar pria itu dengan tubuh rampingnya. Tentunya dia kesulitan, namun dia tetap membantu Leo untuk duduk kembali di atas sofa. "Bagian mana yang terasa sakit?" Kamu tidak di izinkan sakit! Tambahnya di dalam hati. Shivani tidak mau Leo sakit. Terlebih, tugasnya sedari awal adalah untuk menjaga sesuatu yang Raiden tinggalkan. Kalau Leo sampai sakit, meninggal, lalu bagaimana caranya untuk menjalani hidup ke depannya? Apakah dia bisa? Apakah dia mampu? Apakah dia sanggup? Jawabannya adalah dia tidak bisa, dia tidak mampu, dan dia tidak sanggup. Leo tersenyum saat melihat raut khawatir yang Shivani pancarkan. Dia tidak menyangka akan tiba hari dimana dia di khawatirkan oleh gadis kasar itu. "Apa kamu baru saja mengkhawatirkan ku?" Shivani menggelengkan kepala. "Tidak! Aku tidak mengkhawatirkan dirimu." Hanya mengkhawatirkan sesuatu dalam dirimu. Sangat khawatir. Leo menyipitkan mata. "Benarkah?" "Iya." Shivani menjawab cepat. Memang siapa Leo sampai harus di khawatirkan oleh dirinya? Mimpi. "Tapi, kekhawatiran yang kamu tunjukkan tidak bisa membohongiku." Leo menatap Shivani lekat yang duduk di sampingnya. Tangan gadis itu terulur memegang dadanya. Dan sentuhan hangat itu mampu menenangkan segala rasa tidak masuk akal yang dia rasakan. ------• --• Tiga puluh menit kemudian. Sakit yang Leo rasakan perlahan reda. Dia tersenyum saat melihat Shivani sudah duduk kembali di balik meja kerjanya. Melihat gadis itu cukup gesit dalam membantu dirinya seperti memberikan obat penghilang nyeri, dan sebagainya, tingkat kekagumannya seolah terupgrade menjadi beberapa level jauh di atas level kekagumannya di awal. Drt.. drt.. Getar hp dalam saku celana, menyadarkan Leo dari angan tentang Shivani. Dia mengambil benda pipih itu lalu melihat nama yang tertera. Leo menyipitkan mata. "Delisha?" Tanpa menunggu lagi, dia menerima panggilannya. "Hallo." Ucapnya untuk mengawali percakapan. "Apa tidak ada masalah?" Delisha bertanya dengan santai, tenang, tanpa emosi. Meski sejujurnya dia cukup khawatir dengan keadaan bosnya. Sudah lama pergi, ada rapat penting pula, namun bosnya belum juga kembali. Membuat dia cukup gelisah takut rapat akan di batalkan seperti hari kemarin. Leo menoleh ke arah Shivani yang sedang sibuk menatap layar komputer dengan tangan yang gesit berselancar di atas keyboard. "Tidak ada." Tidak ada masalah serius karena Shivani sudah membantu banyak hal. "Kalau begitu, rapat akan di langsungkan dalam tiga puluh menit lagi." Delisha mencoba mengingatkan tentang rapat yang harusnya akan di lakukan sekitar setengah jam lagi. Dia cukup yakin kalau Leo tidak berbohong. Dia bukan pegawai magang yang baru satu atau dua minggu mengikuti Leo, tapi sudah lebih dari lima tahun dia mengikuti pria itu. Jadi, dia paham betul gaya bicara Leo saat menyembunyikan sesuatu atau saat berkata jujur. "Batalkan rapatnya. Aku tidak bisa kembali ke perusahaan. Ada sesuatu yang harus ku selesaikan." Leo tidak bisa pergi sekarang. Dia membutuhkan Shivani. Sangat. Rasa sakitnya seolah hanya bisa di redakan oleh gadis itu. Bahkan tanpa minum obat pereda nyeri pun, dia yakin kalau Shivani bisa menghilangkan rasa sakitnya. "Baik." Delisha hanya bisa mengiyakan apapun perintah Leo tanpa bisa complaint meski dia ingin. Tut.. tut.. tut.. Sambungan terputus. Leo menyimpan hpnya kembali. Dia bahkan belum menyampaikan rencana briliannya kepada Shivani, jadi dia tidak bisa pulang sebelum mendapatkan jawaban yang dia harapkan. Tunggu! Bertanya saja dia belum? Jadi bagaimana mungkin Shivani memberikan jawaban? Konyol! Shivani melirik Leo yang masih duduk di atas sofanya. Siapa sangka kalau ternyata pria itu memiliki masalah dengan organ bagian dalamnya? Apa mungkin itu adalah efek operasi yang di lakukan berbulan bulan yang lalu? Lalu.. apa Leo mengetahui tentang operasi itu? Shivani berpikir sejenak. Tentu saja sudah seharusnya Leo mengetahuinya. Operasi pencangkokan organ bukanlah operasi kecil yang bisa di lakukan dalam waktu beberapa menit. Itu adalah operasi besar, jadi setidaknya pemulihan pasca operasi juga seharusnya memakan banyak waktu. "Kalau mau lihat, lihat saja! Jangan melirikku seperti itu!" Leo berceletuk saat mendapati Shivani menghentikan sejenak aktifitas dan melirik ke arahnya. "Aku.." Shivani menjil-at bibirnya yang terasa kering. "Aku hanya ingin tau, apa kamu memiliki semacam penyakit atau pernah melakukan operasi atau apapun itu?" Shivani justru curiga Leo tidak mengetahui apapun. Bisa saja saat itu Leo koma lalu di pakaikan organ milik Raiden. Make sense, bukan? "Em?" Leo menyipitkan mata. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dia menatap Shivani penuh selidik. "Karena aku pikir kamu tampak sangat kesakitan." Shivani memberikan alasan paling masuk akal yang bisa dia pikirkan. "Tapi kalau kamu tidak mau menjawab, ya sudah!" Shivani mengibaskan tangan. "Aku tidak akan memaksa kalau kamu memang tidak mau menjawab." Imbuhnya kemudian. "Tidak." Lebih tepatnya aku tidak tau. Jawabnya cepat. "Aku pernah mengalami sebuah kecelakaan, aku koma dan setelah aku bangun aku merasa badanku sedikit berbeda. Seperti lebih mudah merasa sakit dan sebagainya." Itu adalah jawaban paling tepat yang bisa dia berikan. Kalau dia berkata setelah bangun seperti menjadi orang lain dengan ingatan ingatan samar yang dia tidak tau ujung pangkalnya, Shivani pasti akan menganggap dirinya gil-a. Shivani melebarkan mata. "Oh ya?" Kalau memang apa yang Leo katakan adalah benar, seharusnya Leo tidak tau tentang operasi pada saat itu, bukan? Jadi, apa Shivani sudah salah mengira? Apa dia sudah menuduh tersangka yang salah? Atau.. Leo adalah korban yang sebenarnya di sini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN