Pagi-pagi sekali, Alenia tersadar dengan tubuh yang terasa ngilu dan jiwa yang kosong. Ia menatap keluar jendela, ke kegelapan fajar yang masih melingkupi separuh bumi. Tatapannya kosong dan ia bisa melihat dalam pantulan kaca jendela itu, tubuhnya sudah dilingkupi gaun tidurnya yang lain. Benaknya tanpa bisa dikehendaki memutar ulang apa yang menimpanya. Bayangan tubuh William yang menerjangnya dengan brutal seolah tak ada hari esok membuat jiwanya makin kosong. Ia tak bisa memikirkan apapun. Ia tak bisa merasakan apapun. Semua berlalu seperti mimpi buruk tapi Alenia tau bahwa mimpi buruk itu adalah kenyataan. William adalah titisan iblis yang merenggut kewarasannya dalam satu malam. Setetes air mata luruh dari mata kirinya, disusul tetesan air mata yang lain. Tapi tatapannya masih k

