Bagian 7

985 Kata
Alenia menikmati hari-harinya bersama Sean. Gadis itu belajar banyak hal dari pekerjaannya dan ia tak menyesal atas pilihan itu. Dengan Sean, ia jadi belajar bagaimana mengurus anak kecil dengan segala tingkahnya seperti rewel, menangis, minta perhatian, juga saat sakit. Nyonya Oh memberinya banyak tips penting bagaimana mengatasi Sean yang ternyata bisa menjadi begitu rewel saat sakit dan gelisah. Beberapa buku ternama soal parenting dikirim langsung dari pakarnya masih dengan teks bahasa asli alias bahasa Inggris. Terkadang Alenia merasa bahwa Nyonya Oh sedang menempanya untuk suatu hal. Tapi ia tak ambil pusing dan mengambil sisi positifnya. Toh ia akan menikah dalam waktu dekat ini, jadi anggap saja seperti persiapan untuk berumah tangga. Omong-omong soal menikah, Alenia masih belum meminta ijin kepada Nyonya Oh untuk cuti menyiapkan pernikahannya. Dan dari percakapan terakhirnya dengan Jaehwa lewat panggilan video, lelaki itu tidak mendesaknya karena mereka memang sedang sibuk masing-masing. Maka disinilah gadis itu, baru saja menerima kiriman bahan masakan dari Tuan Kim untuk pagi itu karena Bibi Yang sedang sakit sehingga tidak masuk. Nyeri sendi, penyakit umum yang menimpa seseorang dengan usia lanjut. Ia tak masalah kalau harus menggantikan Bibi Yang mengurus rumah. Toh rumah 2 lantai itu nyaris tak pernah berantakan kecuali oleh mainan Sean yang dapat dibereskan dengan begitu mudah. Pagi itu ia hanya perlu membuat sup tahu dengan jamur enoki untuk dirinya dan bubur tim dengan daging dan sayur untuk Sean. Beberapa buku masakan selalu tersedia di rak buku ruang keluarga dan Alenia hanya perlu mencari resepnya jika kesulitan. Sambil membawa kantung kertas berisi bahan makanan, Alenia berlalu ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan itu lebih dulu. Selang beberapa saat ketika ia menoleh ke arah jam dinding, gadis itu segera menghentikan kegiatannya karena satu hal. Pastikan sudah ada di sisi Sean sebelum ia terbangun karena Sean akan menangis jika tidak ada siapa pun saat ia bangun tidur. Gadis itu melepas apron putih bermotif bunga dan setengah berlari melangkah menuju kamar Sean. Bersyukur Sean masih menggeliat kesana kemari sebelum membuka mata dan mendapati Alenia sudah ada di sisinya dengan senyum tersungging. "Selamat pagi, Sean," sapanya lembut. "Apa tidurmu nyenyak?" Sean tersenyum sampai matanya menyipit membentuk sabit dan mengangguk. "Ne." "Lucunya." Alenia mengusap pipi gembul bocah itu dengan sayang dan membuat Sean memeluk tangannya seperti guling. "Na… na…" "Ada apa, sayang? Sean ingin s**u?" Bocah itu mengangguk. "Thuthu…" "Baiklah, ayo kita turun. Hari ini mungkin kita akan bermain di dapur karena Bibi Yang sakit." Alenia kemudian meraih Sean untuk digendong sambil menciumi wajah, perut, dan ketiaknya sampai Sean tertawa. "Nooo…” Tapi Alenia tetap menciumi bayi itu sampai kegelian. -- Lagi-lagi William tertegun di bangku belakang Range Rover yang sedang melaju di atas jalanan lengang kota Seoul menuju distrik Gangnam. Semakin hari setiap ia mengawasi Sean dari kamera pengawas yang dipasang di rumah, semakin ia tak bisa melepas perhatiannya dari pengasuh Sean yang bernama Alenia Park. Lewat ibunya, ia tahu sedikit informasi tentang gadis itu. Mahasiswi desain interior yang akan sidang dan sedang mengisi liburan dengan menjadi pengasuh bayi dan bukannya pulang ke Thailand. Gadis berusia 21 tahun itu tumbuh di lingkungan keluarga dengan reputasi baik di masyarakat, sebuah poin plus untuk menjadikannya pengasuh bayi karena itu berarti Alenia mengerti sopan santun dan etika. Terbukti dari betapa lembut dan sayangnya ketika ia menghadapi Sean. Beberapa waktu lalu, anaknya itu sempat demam dan menjadi sangat rewel serta merepotkan. Kalau William yang dingin sudah pasti langsung menyuruh dokter-dokter terbaik menangani anaknya. Tapi Alenia mengatasi Sean dengan cara tradisional yang diajarkan Nyonya Oh dan esoknya suhu tubuh Sean berangsur normal. Esoknya pula, meski ia begitu mengantuk, Alenia tetap mengurus Sean dengan baik, sesekali memainkan mainan ringan bersama Sean agar bocah itu tidak bosan. Dan malamnya, ia masih harus membuat Sean terlelap di tengah kantuk luar biasa lalu kembali bangun pagi keesokan harinya. Dalam dunianya yang dipenuhi keambisiusan, Alenia adalah wanita langka yang teramat jarang ditemui. Wanita berpendidikan tinggi di sekitarnya selalu memiliki ego yang tinggi dan angkuh. Sedangkan itu tidak berpengaruh untuk Alenia. Gadis itu tampak seperti 'wanita sungguhan' di mata William, tipikal calon ibu rumah tangga yang baik dan memberikan arti cerdas tersendiri bagi William. Lelaki itu memang mempunyai pandangan bahwa wanita seharusnya menjadi ibu rumah tangga di rumah untuk mengurus keluarganya sedangkan karir biarlah urusan laki-laki. Stereotipe lama itu memang terkesan kolot di tengah perkembangan jaman seperti ini yang mengatakan soal kesetaraan gender. William tidak ingin menyerahkan kepengasuhan anak kepada seorang pengasuh. Makanya, untuk kali itu, ia benar-benar memastikan kualitas pengasuh anaknya yang dipilih Nyonya Oh karena tak ingin anaknya dirawat oleh seseorang dengan kualitas pengasuh biasa. Karena ia adalah orang tua tunggal dan tak bisa selalu ada untuk Sean. Lalu sekarang, William justru mendapati bahwa ia tak bisa untuk tidak memperhatikan Alenia Park. Gerak-gerik gadis itu selalu membuatnya merasakan secuil kehangatan dan merasa ingin pulang. Entah pulang kemana, ia tak tau. "Kita sudah sampai, tuan." Suara Tuan Uhm, supir sekaligus asisten pribadinya, membuat William mengalihkan atensinya pada rumah sederhana 2 lantai di kawasan elit Gangnam. Rumah itu tampak lengang, tapi William tau dengan baik apa yang terjadi di balik tembok itu. Ia mematikan laptopnya yang masih menampilkan Alenia dan Sean yang sedang tertawa di dapur lalu beranjak melintasi halaman dengan hamparan rumput jepang yang dipangkas dengan rapi. Tujuannya, tentu saja dapur. Sebuah suara wanita dan suara anak kecil menuntun langkahnya agar tidak menimbulkan suara sehingga ia bisa mengamati langsung bagaimana Alenia berinteraksi dengan Sean tanpa mengganggu keduanya. Dan ia terkesiap, sama sekali tak menyangka bahwa Alenia jauh lebih cantik dari yang ditampakan kamera pengawas. Gadis itu memiliki sorot mata yang memikat dan William langsung tau kenapa Sean bisa nyaman dengan gadis itu sejak hari pertama. Untuk pertama kalinya, ia merasa 'pulang' dan jiwanya menjadi hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tak bisa membiarkan Alenia akan selesai dengan kontrak kerjanya dan pergi. Untuk pertama kalinya, William ingin seseorang melengkapi hidupnya. Dan ia langsung terkesiap saat matanya beradu pandang dengan mata kucing milik Alenia Park. "Anda-… siapa?" -- []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN