Bagian 8

1021 Kata
"Maafkan saya, Tuan Oh. Saya sebelumnya tidak memiliki gambaran apapun tentang Anda." Alenia membungkuk canggung saat harus berhadapan dengan ayah Sean -William, yang irit bicara dan minim ekspresi. William sendiri hanya berdehem dan menghindari kontak mata dengan Alenia. Ia hanya khawatir, sorot mata gadis itu bisa menghanyutkannya. Tatapan tajamnya lantas mengarah pada Sean yang kini mengangkat tangannya sambil memekik riang. "Papa!" "Hello, boy." William mengangkat Sean ke gedongannya dan menerbangkan bocah itu di udara dengan sekali lompatan sampai Sean memekik gembira. Setelah Sean berada dalam gendongan di tangan kirinya, William memandang panci berisi sup di kompor yang mulai mendidih. "Dimana Bibi Yang?" "Beliau sedang sakit, tuan." William mengangguk. "Lanjutkan masakmu, biar aku yang mengurus Sean pagi ini." Alenia mengangguk canggung saat William kembali berujar dengan nada dingin, sangat kontras ketika lelaki itu menyapa Sean. William segera berlalu dari dapur dan membawa Sean ke lantai atas untuk memandikan bocah itu sementara Alenia kembali berkutat dengan supnya sambil menghela napas. Ayah Sean sangat mengerikan. Ia lebih baik berhadapan dengan orang bertemperamen yang emosinya mudah ditebak sehingga ia bisa mengatasinya dengan cepat. Tapi William begitu sulit ditebak, nada bicaranya dingin dan ekspresinya selalu datar. Alenia sama sekali tak memiliki gambaran tentang apa yang dipikirkan William. Apa jangan-jangan William akan memecatnya karena tak mengenali lelaki itu sebagai ayah Sean? Kalau iya, tamatlah riwayatnya. -- Gara-gara ada William di rumah yang kedatangannya amat mendadak, Alenia harus merelakan sarapan paginya dan membiarkan lelaki dingin itu menghabiskan sup jamurnya sementara gadis itu sendiri kini harus merasa cukup dengan menyuapi Sean. Bocah bayi itu begitu ceria hari ini, banyak bermain dan mengoceh dengan bahasa bayinya yang sepenggal-penggal. Sudah jelas Sean mengajak Alenia bermain, karena sepanjang sarapan, Sean memusatkan atensinya pada Alenia. Tapi gadis itu merasa kaku untuk membalas ocehan Sean seperti biasa. Keberadaan William di seberangnya terasa mengintimidasi dan Alenia tak tau harus bagaimana saat beberapa kali ia mencuri pandang ke arah William, lelaki itu juga sedang menatapnya. Bedanya, William tak akan memalingkan pandangannya saat tak sengaja mereka beradu pandang, tidak seperti Alenia yang terasa mati kutu dan gugup luar biasa. Aura dingin William sangat mengintimidasinya. "Setelah sarapan, kemasi pakaianmu,” ujar pria itu. Alenia tergeragap. Apa ia akan dipecat, seperti dugaannya tadi, karena tidak mengenali William? William melanjutkan, "Juga pakaian Sean." William menatapnya dalam. "Aku akan ada di Korea selama seminggu dan Sean akan tinggal di rumah satunya bersamaku." "Ya, Tuan." "Kau juga otomatis ikut." Alenia mengangguk kaku. "Baik, Tuan Oh." William menyudahi sarapannya dan beranjak ke dapur untuk menyeduh air panas. "Biar aku saja, Tuan Oh. Saya pikir anda butuh istirahat." "Tidak apa-apa, kau kemasi saja pakaianmu dan Sean." "Baik, Tuan Oh." Alenia nyaris menahan napasnya saat ia beranjak dari dapur saking tegangnya berhadapan dengan seorang Oh William atau William Andromeda. Tapi saat langkahnya baru sampai di undakan anak tangga pertama, ia mendengar rengekan Sean dari belakangnya. "Na-na!”" Sean memukul-mukul meja bayinya dengan mobil kecilnya, mata lugunya menatap Alenia dengan berkaca-kaca. "Na…" Sean mengulurkan tangannya mencoba meraih Alenia yang terpaku di undakan anak tangga. Sama seperti Alenia, William juga sedang menatap Sean, tanpa ekspresi. Anaknya itu tampak begitu dekat dengan Alenia sampai membuatnya setergantung itu. Padahal jelas-jelas William, ayahnya, ada disini. Tapi saat Sean semakin keras memanggil ke arah Alenia dan mulai menangis, William menghelas napas pendek, berujar, "Kau bawa Sean bersamamu." Dan Alenia segera meraih Sean ke gendongannya, membuat bayi itu kembali tenang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alenia. -- Alenia menatap keluar jendela sambil memainkan cincin berbatu safirnya dengan pandangan menerawang. Kalau William ada disini, ia tak yakin William akan memberinya cuti untuk mengurus persiapan pernikahannya dengan Jaehwa. Tapi bisa jadi hal itu akan semakin sulit jika terus menerus ia tunda. Pasalnya, bukannya Alenia tak tau, tapi semakin hari Sean semakin tak bisa lepas darinya. Bocah itu bahkan sering tidur di kamarnya alih-alih di kasurnya sendiri yang nyaman. Dan saat tadi pagi Alenia hendak menyiapkan pakaian mereka, bocah itu nyaris menangis karena tak ingin ia tinggal. Lalu bagaimana kalau Alenia meminta cuti? Dan bagaimana kalau kontrak kerjanya sudah habis? Alenia tak berani berpikir lebih jauh soal itu karena membuatnya gusar memikirkan Sean akan menangis jika ia tak ada. Hanya butuh 15 menit untuk sampai di 'rumah satunya' yang William maksud. Bukan mansion bak istana dengan halaman super luas seperti yang dimiliki orang kaya raya pada cerita fiksi. Tapi tetap saja, bangunan modern bergaya avant garde itu membuatnya sangat terpukau. Rumah itu memberikan kesan modern sekaligus klasik, mewah dan menjadi rumah yang berestetika tinggi. Siapapun orang di baliknya, jelas memiliki selera yang wah. Dan rumah itu masih berada di distrik elit yang sama, hanya berbeda blok. Ia jadi teringat kata-kata Nyonya Oh. Ayahnya tidak suka jika Sean tinggal di rumah yang terlalu besar tanpanya. "Kau masih berminat duduk di mobil?" Suara William mengejutkannya. Lelaki itu sudah turun dari mobil sambil menggendong Sean yang juga tengah menatapnya. Gadis itu menunduk minta maaf dan bergegas keluar sedangkan beberapa pekerja langsung keluar untuk membawa barang-barang mereka. Alenia kembali terkesiap saat ia memasuki rumah itu. Alenia memang mahasiswi desain interior yang seharusnya merasa akrab dengan hal-hal yang berkaitan dengan hunian segala kelas. Tapi justru karena ia mahasiswi desain interior yang juga mempelajari arsitektur, ia bisa menaksir nilai yang dikeluarkan untuk sesuatu yang begitu mewah seperti itu. William menaiki tangga lingkar di tengah ruangan dengan Alenia dan beberapa pelayan di belakangnya. Lelaki itu menunjuk sebuah pintu berplitur dengan ukiran geometris yang tampak modern. "Itu kamarmu. Sean akan bersamaku di kamar seberang." Alenia mengangguk dengan sebuah senyum. Ia harus membiasakan diri dengan William selama seminggu ini. Hanya seminggu. "Baik, Tuan Oh." Sebelum Alenia menghela napas selanjutnya, William sudah berlalu membuka pintu kamarnya sendiri dan secara sekilas Alenia bisa melihat isi kamar itu. Ia terbiasa hidup apa adanya dan segala kemewahan ini membuatnya pusing. Kehidupan keluarganya di Thailand memang serba ada, tapi gaya hidup didikan orang tuanya tetap sederhana. Bagaimana bisa ada orang sekaya ini? "Nona, dimana saya akan menaruh tas anda?" Alenia menoleh ke arah pelayan yang berdiri di belakangnya. "Taruh di dekat lemari saja." Gadis itu memutuskan masuk ke kamar baru sementaranya itu dan menekankan dirinya untuk terbiasa dengan segala kemewahan itu. Sekali lagi, hanya untuk seminggu. -- []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN