Bagian 12

1022 Kata
"Aku terpikir untuk segera mengajakmu ke Thailand untuk meminta restu orang tuamu," ujar Jaehwa, membuat Alenia nyaris tersedak oleh Dak Kkochi yang sedang dikunyahnya. Lena bahkan nyaris menganga mendengar ucapan kakaknya. Ia sama sekali tak tau kalau hubungan kakaknya dengan Alenia sudah sejauh dan seserius itu. "Oppa, maafkan aku." Alenia menatap Jaehwa penuh sesal. "Aku sudah meminta ijin cuti untuk mengurus persiapan pernikahan kita, tapi aku tidak mendapat ijin." "William tak mengijinkanmu?" Tanya Jaehwa selidik. Alenia mengangguk kaku. "Biar aku yang meminta ijin," sela Jaehwa. "Jangan, kumohon. Aku tak ingin Tuan Oh memberiku ijin karena kalian berteman. Biarkan aku tetap bekerja secara profesional, oke?" Jaehwa menatap Alenia dengan perasaan campur aduk. Ia hanya khawatir dengan semua pemikirannya tadi tapi rasanya tak mungkin ia mengutarakan hal itu. Rasanya konyol karena terlalu awal untuknya mengambil kesimpulan. "Oppa?" Jaehwa berdehem dengan berat hati. "Kalau bersamaku, cukup panggil dia William. Dia temanku, jadi sepantaran denganku." Alenia mengangguk sambil mengelus lengan Jaehwa, berharap lelaki itu menerima keputusannya dan mengerti posisinya. Untungnya, Lena akhirnya menginterupsi kecanggungan itu dengan decakannya. "Oppa jahat! Kenapa tidak bilang kalau hubungan kalian seserius itu? Eonni juga jahat!" Alenia dan Jaehwa akhirnya tertawa karena Lena menatap mereka dengan wajah merengut. "Mendadak sekali, Lena. Aku juga tak sempat cerita karena besoknya sudah harus kerja." "Lalu Jaehwa oppa?" Lena menatap kakaknya meminta penjelasan. Jaehwa terkekeh sambil mengusap tengkuknya. "Kenapa ya?" "Ishh, oppa jahat!" Lena masih merajuk, bahkan sekali pun Jaehwa sudah meminta maaf. "Bagaimana menurutmu kalau aku menjadi kakak iparmu?" Alenia bertanya usil, mencoba mengalihkan rajukan gadis remaja itu sekaligus ingin tau responnya. Dan ternyata berhasil. Lena langsung tersenyum cerah. "Tentu saja aku akan senang sekali. Aku bahkan tak bisa membayangkan kalau bukan eonni yang menjadi kakak iparku." Jaehwa mencibir adiknya itu. "Itu karena Alenia eonni sering membelikanmu es krim." Lena dan Alenia tertawa lepas sementara Jaehwa mengambil alih Sean untuk ia pangku. Bocah bayi itu juga langsung merasa nyaman saat Jaehwa menggendongnya. Dan dari jauh, William melihat semua itu dengan wajah tanpa ekspresi. Ia melihat bagaimana mereka tertawa bersama. Ia melihat bagaimana Jaehwa menatap Alenia dengan rasa sayang yang begitu besar. Ia melihat bagaimana Alenia membalas tatapan Jaehwa dengan tak kalah lembut. Ia melihat saat Alenia mengusap lengan Jaehwa karena lelaki itu memasang wajah tak suka. William melihatnya dan ia tak suka. William tau kalau dirinya begitu dingin dan mengintimidasi, tapi tidak bisakah Alenia juga menatapnya tanpa perlu merasa takut? Ia juga ingin menyelami tatapan dalam gadis itu, mencari tau apa yang Alenia pikirkan dan rasakan. Ia juga ingin Alenia menatap ke dalam matanya, untuk bisa mengerti apa yang ia pikirkan dan rasakan. Bahwa ia lelah dengan semua rasa dingin dan kelabu dalam hidupnya. "Tuan, silahkan pesanannya. Selamat menikmati." William mengambil nampan berisi makanan yang ia pesan untuk Jaehwa dan Lena. "Terima kasih." -- Di dalam Range Rover yang melaju dengan kecepatan sedang itu, Alenia menyandarkan kepalanya dengan wajah mengantuk sementara Sean kembali terlelap di pangkuannya setelah sebelumnya memberontak tidak mau tidur di baby stoddler. Sementara William menatap keluar jendela tanpa ekspresi. Pikirannya terasa berkecamuk akibat melihat Jaehwa yang mencium bibir Alenia di depannya saat berpamitan tadi terus bermunculan di benaknya, seolah menertawai William karena lelaki itu hanya menatap mereka dalam diam. Setelah menyadari bahwa sekitarnya terasa sangat hening, William menoleh ke sampingnya dan mendapati Alenia sudah tertidur dengan wajah lelah. Tangan William terulur untuk menyingkap rambut yang menutupi wajah gadis itu dan mengelus pipinya yang halus. Bibirnya sedikit mengerucut dan membuatnya tampak menggemaskan di mata William. Lelaki itu mengusap sudut bibir Alenia dengan ibu jarinya dan secara impulsif ia menempelkan bibirnya disana, menghilangkan bekas Jaehwa dan memperbaiki memorinya yang kacau sehingga setelah ini, setiap ia menatap Alenia, ia tau kalau ia telah menghapus jejak Jaehwa di bibirnya. Dan hanya akan ada jejaknya disana. Lelaki itu tersenyum setelah melepas pagutannya dan beralih mengecup dahi Sean yang terlelap di pangkuan Alenia. Bukankah melihat mereka seperti ini membuat William merasa bahwa ia memiliki keluarga kecil yang bahagia? -- "Oppa tidak takut?" Jaehwa mengernyit saat mendengar pertanyaan absurd adiknya. Karena sedang menyetir, ia hanya melirik Lena yang sedang menatapnya. "Takut apa?" "Takut kepada William oppa." "Untuk?" "Membiarkan Alenia eonni terus bekerja kepadanya." Lena memainkan sabuk pengamannya sambil menunduk. "William oppa, dia, , seorang duda. Karena istrinya sudah meninggal, bukan tak mungkin ia akan jatuh cinta pada Alenia eonni. Oppa tau sendiri bagaimana Alenia eonni. Susah untuk tidak menyukainya. Apalagi sikapnya lembut dan keibuan. Laki-laki seperti William oppa pastinya akan mengincar Alenia eonni, kan?" Tentu saja. "Lalu?" Lena berdecak kesal ketika Jaehwa bertingkah seolah tak mengkhawatirkan apapun. "Oppa seharusnya takut." Oppa takut, Lena, sangat takut. Pikiran oppa bahkan tidak hanya berdasar pada praduga sepertimu. Tapi oppa melihat sendiri bagaimana William memberikan tatapannya untuk Alenia. Tatapan serius seorang lelaki dewasa kepada wanita yang diinginkannya. "Oppa takut," gumam Jaehwa pelan. Lena meliriknya dengan alis sebelah terangkat naik. "Oppa tidak tampak takut." Jaehwa tersenyum kecut. Itu artinya oppa terlalu takut sampai bingung harus bersikap seperti apa. -- Sudah satu jam sejak mereka tiba tapi William masih tetap pada posisinya, duduk dengan menatap Alenia yang masih tertidur. Sean sudah ia gendong ke kamarnya sejak satu jam lalu sesaat setelah mereka sampai dan saat ia kembali ke mobil, Alenia masih berkelana di alam mimpinya. "Kau masih ingin tidur, hmm?" Ujar William pelan sekali. Ujung jarinya ia gerakkan untuk menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah gadis itu lantas mengelus pipinya dengan punggung jari telunjuk. Tingkahnya memang manis, sangat manis malah. Tapi wajahnya tetap tanpa ekspresi, datar dan dingin. "Kau benar-benar belum mau bangun untuk pindah?" Tentu saja tak akan ada sahutan. William akhirnya turun dari mobil, berjalan memutar dan membuka pintu di samping Alenia lalu dengan gerakan yang begitu lembut, membopong gadis yang masih terlelap itu menuju kamarnya di lantai dua. Saat membuka pintu kamar gadis itu dengan sikunya, aroma feminin yang lembut menyapa indra penciumannya. Tentu saja, Daisy dari Marc Jacobs. William jadi berpikir kalau selain mengaplikasikan parfum di tubuhnya, Alenia juga menggunakannya pada kamarnya. Ia lalu merebahkan Alenia perlahan dan membenarkan posisi bantalnya sampai dirasa nyaman dan sekali lagi, mencuri sebuah kecupan di bibirnya. Untuk sesaat ia menatap pergerakan gadis itu yang menggeliat dalam tidurnya sebelum pergi dengan langkah tanpa suara. -- []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN