Hal pertama yang terlintas di benak Alenia begitu ia membuka mata adalah, bukankah ia terakhir terlelap sewaktu di mobil?
Lalu kenapa ia ada disini, di kasur lateks dengan lapisan kain yang sangat lembut di kamarnya?
Gadis itu lalu menoleh ke arah jendela dan mendapati langit sudah gelap. Jam di meja nakas menunjukkan pukul 10 malam.
Matanya langsung membulat. Apakah ia tidur selama itu?
Gadis itu lantas mengecek ponselnya dan tak mendapati pesan penting selain notifikasi akun-akun yang ia tandai dan pesan tidak penting di grup jurusannya.
Setelah mengumpulkan nyawanya, ia segera beranjak ke kamar mandi untuk berendam dengan aroma bunga daisy.
Setengah jam kemudian, saat Alenia sudah selesai membersihkan seluruh tubuhnya dan menjadi segar seperti di pagi hari, ia keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putih yang sudah disediakan lalu mendapati Sean sedang bermain mobil-mobilan di kasurnya.
Bocah itu seperti sudah siap tidur karena mengenakan sepasang piyama putih bergaris biru muda. "Sayang, bagaimana kau bisa disini?" tanyanya.
Sean menoleh dan wajahnya senang bukan kepalang. Alenia bahkan melihat sisa air mata di sepanjang pipinya dan matanya yang sedikit sembab. "Na… noona…"
"Kau barusan bilang… noona?"
"Noona…" Sean tertawa polos.
Alenia mendekat dan menciumi wajah bocah itu bertubi-tubi. "Sean pintar sekali."
"Noona…ani…" Sean menjauhkan wajahnya karena geli. Bocah itu lalu menatapnya dengan wajah polos. "Noona… mam-mam…"
"Kau belum makan?" Alenia terkejut untuk sesaat lalu merutuk dalam hati.
Bodoh sekali, kau abai pada tugasmu karena tidur nyaris seharian dan malah sempat-sempatnya berendam.
Sean menggeleng.
"Baiklah, kau tunggu sebentar, noona ganti baju dulu."
--
William baru saja mengantar Sean ke kamar Alenia karena anaknya itu terus mencari keberadaan pengasuhnya. Jujur saja William kewalahan kalau harus menghadapi Sean yang seperti itu, menendang perutnya sambil menangis kalau tidak segera bertemu Alenia.
Awalnya ia merasa senang karena berpikir Sean mampu menerima orang lain. Tapi ia pikir, sampai pada titik ini, Sean menjadi terlalu obsesif pada Alenia sehingga menjadi posesif.
Sikap Sean yang seperti itu membuatnya merasa deja vu. Mengingatkan William pada dirinya sendiri.
Apakah William mewarisi sifatnya yang seperti itu kepada Sean?
Memikirkan itu membuat William menghela napas pelan dan ia memutuskan untuk beranjak ke dapur. Begitu menutup pintu kamarnya, ia menatap pintu kamar Alenia dan heran karena tak mendengar suara apapun dari sana. Ia baru saja mengantar Sean beberapa menit lalu dan biasanya bocah itu akan banyak tertawa bersama Alenia.
Tapi kamar itu hening.
Apa Sean sudah tertidur? Rasanya juga tidak mungkin. Sean baru terbangun setengah jam yang lalu.
William meneruskan langkahnya menuruni anak tangga lingkar menuju dapur dan mendapati suara tawa Sean terdengar dari sana.
Lelaki itu mengernyit. Sesaat setelah Sean tertawa, terdengar desisan 'ssst' yang sangat pelan dan suara tawa Sean langsung berhenti. William mempercepat langkahnya, melihat dari kejauhan Alenia sedang menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya seraya menatap Sean dengan jenaka. Sean melakukan hal yang sama, tapi desisan 'ssst'nya begitu berisik.
Tatapan lelaki itu lalu terpaku pada Alenia yang tertawa tanpa suara.
"Papa…" Suara Sean menariknya pada kesadaran dan ia mendapati manik cokelat keemasan Alenia balas menatapnya.
"Selamat malam, Tuan Oh." Gadis itu menunduk sopan. Alenia membereskan peralatan makan Sean, mengelap sekitar bibir mungil bocah itu dan hendak beranjak sampai Sean memanggilnya.
"Na- noona…"
Alenia tampak salah tingkah di tempatnya. Sean belakangan benar-benar tak bisa lepas darinya. Kalau William berada di luar kota atau luar negeri, ia tak masalah. Tapi ini, William ada disini untuk seminggu tanpa pekerjaan dan sudah dipastikan bahwa lelaki itu sedang meliburkan diri. Dan seharusnya, lelaki itu menghabiskan waktunya dengan Sean, anaknya. Sementara Sean sama sekali tak bisa jauh darinya. Situasi membuatnya bingung harus bagaimana.
Apalagi tangan mungil Sean sedang menggenggam jubah tidurnya, seolah tau bahwa Alenia hendak beranjak.
"Noona!"
"Kau mau kemana?" Suara William terdengar lebih dingin dari udara malam. Lelaki itu memang seperti itu.
"Ka-mar, Tuan."
"Tapi Sean tidak mau kau pergi." William melirik anaknya yang masih menggenggam jubah tidur gadis itu dan tersenyum miring, samar sekali. "Tetaplah disini."
Alenia tertegun sejenak. Gadis itu akhirnya mengiyakan dan duduk di hadapan William yang sedang menenggak minumannya. Ia selalu merasa canggung di depan William, apalagi pada malam sunyi seperti ini. Untungnya Sean kembali mengoceh dengan bahasa bayinya.
"Jadi," William menaruh gelasnya di meja pualam dan menatap Alenia lekat. "Calon suamimu adalah Jaehwa?"
"Benar, Tuan."
"Setelah tau hubunganmu dengan Jaehwa, aku merasa aneh dengan panggilan itu." William kembali menuang air lalu berkata, "Jadi panggil aku William."
"Itu akan membuat saya tampak tidak sopan."
"I beg you, Elizabeth."
Alenia mengernyit saat William memanggilnya dengan nama tengahnya. Tapi ia tak ambil pusing dan mengangguk. "Baik, William."
William menghela napas dengan pelan sekali. Gadis ini mudah menyesuaikan diri. "Tapi meski Jaehwa temanku, aku tetap tidak memberimu ijin cuti untukmu."
Alenia mengangguk. "Maafkan saya yang terlalu lancang, Tu--, William."
William mengangguk. "Apa kau sudah mengantuk?"
"Belum."
"Boleh aku minta tolong?"
"Tentu."
"Bantu aku menyelesaikan sesuatu. Di kamarku."
Eh? Alenia mengernyit saat mendapati kalimat itu terdengar sangat ambigu. "Sean?"
"Ajak saja."
--
Sudah hampir tengah malam saat Alenia membantu William untuk merapikan dokumen dan menyusunnya sesuai urutan tanggal sementara Sean sudah terlelap di kasur William yang berukuran besar dan terlihat cukup untuk menampung 6 orang dewasa di atasnya. Deretan mobil-mobilannya berserakan di sekitar bocah itu. Alenia bangkit untuk merapikan mainan-mainan itu karena tugas utamanya disini adalah menjadi pengasuh Sean. Itu artinya, ia harus membuat Sean nyaman. Dan juga tugasnya bertambah, yaitu membantu Sean agar saraf sensorik dan motoriknya berkembang.
Alenia mulai merasa mengantuk saat ia membenarkan posisi bantal dan guling di sekitar Sean. Untungnya, William memang sudah mengamati gerak-gerik gadis itu sehingga lebih dari tau untuk sadar bahwa Alenia sudah mengantuk.
"Terima kasih bantuannya." William menaruh berkas yang sudah disusun Alenia di meja lain dan menghampiri gadis itu. "Tidurlah. Aku memberimu kelonggaran karena mungkin kau akan bangun siang, Sean juga." Lalu secara impulsif -lagi-, William mengusap rambut Alenia dan hatinya langsung berdesir mendapati rambut itu begitu halus dan lembut, membuatnya ingin terus mengelus rambut itu.
"William?"
Lelaki itu tersentak seolah kesadarannya baru dikembalikan, tapi wajahnya masih datar dan dingin. "Ya?"
"Saya permisi."
Alenia berlalu dari hadapannya, tampak aneh karena William mengelus rambutnya dengan gerakan lembut dan tatapan yang begitu dalam serta intens, tapi tatapan William terus mengikuti kemana gadis itu pergi sampai menghilang di balik pintu.
William menghela napas dalam dan mendapati aroma Daisy yang tertinggal memenuhi penciumannya. Ia meresapi aroma itu sampai membuat ledakan serotonine dalam dirinya lantas meraih ponselnya.
Ia harus menghubungi seseorang, meskipun pada jam sedini ini.
--
[]