"Kau- kenapa disini?" Alenia bertanya lagi, dengan nada yang masih diliputi ketakutan dan bergetar. "Mau berapa kali kau menanyakan itu, Amour?" "Kau- William, kan? Suamiku?" Tanyanya lagi, sangat tidak nyambung. Sosok itu akhirnya menampakan deretan gigi rapinya dengan taring kecil mengintip malu-malu dari mulut kecilnya. Matanya membentuk bulan sabit dan tawanya terdengar hangat. "Memangnya aku terlihat seperti siapa?" "Hantu." Tawa William berderai makin kencang tapi tidak sampai mengalahkan bunyi hujan. Cukup membuat suasana dingin itu kalah oleh perasaan hangat yang menyusup. Alenia ikut tersenyum karena tawa itu menular, mempengaruhinya sampai sedetail itu. "Oppa." Suara yang tadinya bergetar oleh rasa takut langsung berubah menjadi rengenakan manja. "Aku pikir kau hantu sung

