Ada yang belajar cara menghilang, ada yang belajar menjadi muka rata. Ada juga yang belajar menggepengkan tubuhnya. Kerja kers banget si mereka cuman buat nakut-nakutin orang doang. Mendingan kaya Antonio dan Steffi sekarang. Melakukan kegiatan pendataan para arwah agar berkas administrasinya lengkap dan tidak ada yang tercecer. Bukan hanya itu juga, Steffi dan Antonio juga sedang berkeliling mencari beberapa arwah yang kemarin tidak menunjukkan batang hidungnya saat pertemuaan.
"Heh!"
Dari kejauhan ada suara cempreng yang sangat menggelegar layak ya petir yanh menghantam. Membuat Steffi dan Antonio menjerit kebisingan, "Siapa?"
"Ramanda lah! siapa lagi yang punya suara begitu."Jelas Steffi yang langaung dibalas dengan mulut yang membentuk huruf O oleh Antinio.
"Ngapain lo? Mau belajar cara nakutin orang juga?"
"Dah. Ngapain? Emang malaikat maut nakutin orang."
"Ya kali ajaa pas nanti tugas lu mau ngambil nyawa orang jadi sundel bolong dulu gitu. Kaya gua."
"Holly s**t!" Pekik Steffi dan Antonio secara bersamaan.
Ramanda menunjukkan punggung belakangnya yang bolong. Lubang besar itu sangat menjijikan. Bewarna merah darah yang dihiasi oleh belatung belatung indang yang menggantung.
Tubuh Steffi bergidik ngeri, "Lu gak geli badan lo begitu?" Tanyanya pada Ramanda yang kini terlihat sangat bahagia. Kenapa dia begitu sih. Ramanda terkesan sangat menyukai perubahannya yang sekarang.
Memakai baju tanpa pola yang mengepel lantai, mana warnanya cuman putih lagi. Belum lagi rambutnya dibiarkan yang tergerai berantakan begitu saja. Membuat Steffi gemas ingin segera menguncir demi kerapihan.
Namun... Lagi-lagi ini oranh semakin bahagia. Ramanda berputar membiarkan bajunya mengembabg layaknya putri kerajaan, "Lira lagi belajar jadi apa sekarang?" Tanya Antonio.
Ramanda menghentikan gerakannya dan menatap lemat Antonio yang membuat dirinya merindukan mantan kekasih bajingannya, "Dia mah gak usah belajar. Udah jago." Sahut Ramanda dengan kepala yang ditaruh di bahu Antonio. Membuat sang empu kewalahan dan mengangkap kepala Ramanda menggunakan jari-jarinya, "Yaudah deh lanjut deh kegiatan lu deh ya. Gua cabut dulu." Jelas Antonio. Memberi kode pada Steffi yang masih sibuk melihat bundaran di punggung belakang Ramanda.
"Bye, Ramanda!" Pekik Steffi yang ditarik paks oleh Antinio, "Aposka sih ih! Sakit tau gak si tangan guwe" Jelas Steffi dengan pelafalan khas anak gaul Jakarta.
Steffi sedikit memijat pergelangan tangannya sementara, Antonio malah sibuk dengan ipad miliknya. Membuat Steffo kesal karena, diacuhkan dan lebih baik ia juga menggunakan ponsel pintarnya yang baru dibelu kemarin.
Cekrek cekrek!
"Heh! Kegiatan kita gak boleh didokumentasiin tau." Larah Antonio.
Dih. Nih orang lama-lama kaya eomma banget! Cibir Steffi dalam hati. Bibirnya ia manyunkan di hadapan Antonio yang lagi-lagi masig sibuk.
Bosan. Membuat dirinya begini. Steffi juga tau kok kalo kegiatan ini tidak boleh didokumentasikan. Tapi, kan yang tidak boleh didokumentasikan untuk dipublikasikan. Sementara Steffi melakukan semuamya hanya untuk konsumsi pribadinya saja. Sekedar melihat paras cantiknya yang kini semakin mempunyai tone pucat yang sangat membuat dirinya keputihan.
Namun, anehnya Steffi menyukai itu semua.
Bug! Tiba-tiba ada bola yamg meghantam kepalanya. Membuat rasa bangganya langsung hilang dan tergantikan oleh sebuah kenangan.
"Aku capek! Capek banget! Kalo aku jadi aplikasi mungkin aku udah ngebug. Eomma tau gak si kalo akutuh gak bisa ngelakuin ini semua." Pekik Steffi. Memukul meja kerja di ruang direktur utama.
Ruangan ini banyak menyimpan kenangan. Mulai dari kenangan bahagia sampai kenangan menyedihkan teraimpan rapih di siji. Namun, seiring bertambahnya usia. Ruangan ini lebih banyak dipakai untuk menyimpan rasa amarah serta amukan dari dirinya atau orang tuanya yang meminta Steffi menggantikan posisinya.
Sementara Steffi yang tidak mempunyai basic skil memimpun usaha tidak mau dan tidak boleh memaksakan. Tapi, tetap saja dipaksakan. Sehingga otaknya tak mampu lagi menampung beban hingga akhirmya memuncakkan amarah layaknya larva.
"Aku tuh basicnya di seni, Eomma! Aku tuh seniman! Bukan pengusaha!" Ia membentak Eommanya yang sedang membuang wajah darinya.
Wanita paruh baya itu tidak mau melihat wajah anak semata wayangnya kini yang sedang berubah menjadi setan dengan amarah yang sangat meluap-luap. Dirinya tidak mau melihat itu ketimbang menyesal nantinya. Padahal, seharusnya ia melibat wajah Steffi kali ini
Dirimya sedang berada di titik palung bawah kehidupannya namun, masih memaksa untuk bangkit demi nama baik keluarga serta perusahaannya. Steffi sanga mengetahui jika, kelakuannya sekarag hanyalah terlihat seperti anak kecil yang sedang crangky tidak mau mengerjakan tugas. Steffi tau. Namun, bolehkah dia mengeluh dan merajuk seperti sekarang. Sebentar saja... Steffi sedang lelah. Namun, tidak ada yang mengerti rasa lelahnya. Steffi tidak bisa mengikuti arus agar merubahnya menjadi soerang pengusaha. Tidak bisa! Jiwa Steffi sangatlah seniman. Mendambakkan kebebasan ekspreai dalam aspek apa saja.
Tapi, semua itu telah direnggut darinya. Membuat Steffi shock dan terpaksa harus mengikuti arus. Hanya demi melihat kedua orang tuanya tersenyum karena, akhirnya perusahaan mereka jatuh pada anak semata wayangnya.
"Steff! Bangun! Lo gak mati kan?!"
"Yeu! Ngaco deh lo! Dia kan udah mati!"
"Oiya lupa!" Sentak Ramanda yang langsung dikeplak Lira.
Kapan sih tuh anak serius dikit. Temennya lagi pingsan bukannya diangkat malah disadarin di tempat dia pingsan juga. Aneh banget. Membuat Lira gemas ingin memukul Ramanda tapi, tangannya tak tega memukul abak di bawah umur ini.
"Lir pake ini aja!"
"Hah!" Lira mendelik pada Antonio yang sedang membawa seember air, "Gila aja lo mah ya. Pake minyak angin kek biar keliatan waras dikit. Malah lu bawa aer." Cetus Lira yang kini masih memeganggi kepala dan leher Steffi. Sementara yang lain sedang sibuk menertawai kebodohan mereka. Hingga terbahak serta terpingkal-pingkal, "Hey! Ada apa ini? Kenapa dia?"
"s**t! Nih petugas makam kenapa pake ptatroli ke bloc ini si." Gumam pelan Lira yang kini beranjak dari posisinya.
Meninghalkan Steffi terbari di tanah sendirian, "Eomma."
"Steffi! Eomma gak mau kami begini terus ya! Kamu tuh direktur utama. Ada ribuan orang yang menggantunggkan nasip pada perusahaan kita ini!"
"I KNOW! Makanya aku gak mau! Aku gak bisa kaya gitu! Aku mau bebas, Eomma!" Suara melengking Steffi terdengar hingga luar. Membuat sekretaris pribadi yang baru mau masuk memberika cemilan mengurungkan niatnta kembali.
"Eomma." Lirih Steffi dengan posisi berlutut.
"Steffi mohon bebaskan Steffi dari ini semua. Biarkan manajer proffesional yang mengambil alih semuanya."
"Tidak! Tidak akan pernah!" Sentak Eomma dan langsung pergi begitu saja.
Membuka pintu ruang direktur utama dengan lengkung senyum palsu yang harus terlihat agar dinilai baik-baik saja oleh semua orang.
Sementata Steffi masih dalam posisi berlutut dan bersimpah air mata, "Steff!" Pekik sekretaris yang langsung masum dan mendekap erat atasan sekaligus teman dekatnya itu.
Air mata Steffi langsung merebak layaknya banjir bandang. Membuat blazer sekretaris tersebut basah. Namun, peduli setan! Biar saja. Selama Steffi bisa lebih tenang semua itu tidak masalah.
Klek!
"Anakmu itu lho!"
"Kenapa?"
"Tidak mau mengambil alih perusahaan saya."
"Lho, memang bukan jiwanya dia."
"Thanks, Appa."
Steffi kembali menjelajah pada memory yanh membuat kepalanya semakin pusimh untuk memilah, "Biarkan saja jika, dia mau beba. Kita tidak bisa mengekangnya."
Rasany Steffi ingin pergi ke tempat orang tersebut dan menggantikan Ramanda untuk mencekik lehernya secara brutal. Ketimbang nunggu Ramanda yang kini sedang mengikuti sejumlah tes untuk menentukan misi ap yang akan ditempuh agar bisa, membalaskan dendamnya.
"Hey! Kau arwah baru."
"Heh? Iya ada apa?" Tanya Steffi yang kini menunjuk dirinya sendiri.
Pikirannya penuh bertanya-tanya ada apa para arwah senior ini memanggil dirinya dan meminta dirinya mensekat ke sana. Biasanya Stefii dibully. Kok sekarang engga. Anehhh.
Steffi melangkahkan kaki dengan oebub ke gusaran dan alam bawah sadar yanh kini memanggil nama Lira untuk melindunginya jika, para arwah senior ini melakukan hal hal yang tak terpuji.
"Kau jadi arwah penasaran atau malaikat maut?"
Shit! Kenapa pertanyaan ini lagi sih. Gak ada gitu, pertanyaan lain. Jangankan mereka yang mau tau jawabannya. Steffi sendiri aja mau tau dia jadi apa nantinya.
Tapi, semua itu belum bisa sijawab dan diberikan jawaban. Wong, dirinya aja gak tau penyebab kematiannya apa dan bagaimana. Kan rancu, mau bales dendam ke siapa dan nebus dosa ke siapa? Layaknya prinsip dari menjadi arwah penasaran serta malaikat maut.
Steffi menghela nafas berat yang diikuti dengan senyim kecut untuk balasan peetanyaan kedua arwah senior di depannya, "Aku belum tau mau jadi apa. Orang belum tau penyebab matinya gara-gara apa. Gimana mau milih." Kata Steffi dengab putus asa.
Kedua arwah itu dibuat tak percaya dan tercengang. Mereka kasihan pada Steffi. Rupanya dia adalah salah satu arwah yang tak bisa melihat masa lalu saat hari kematiannya. Kasian, masih muda harus direpotkan dwngan administrasi."Saya bantu kau mencari alasan kau mati, mau?" Tanaya salah satu arwah yang berperawakan tinggi besar. Namun, wajahnya kecil. Unik banget ya kan.
Steffi hampir tertawa. Tapi, tidak boleh bisa-bisa nanti dia gak jadi dibantuin cari alasannya mati. Ia terpaksa menganggum dengan kepala yang menunduk untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, "Tapi, ada bayarannya. Soalnya kita akan menyuap petugas gerbang depan."
"Tenang. Aku punya ini."
"Wui, orang kaya kau rupanya." Tegas arwah tadi saat melihat Steffi mengangkat kartu bewarna hitam yang bisa membeli segala hal yang ada di tempat ini.
Melihat hal itu, Steffi hanya terkikih. Merasa akhirnya dia sedikit dianggap oleh kedua arywah senior ini. Soalnya, tiba-tiba dirinya dirangkul layaknhabteman dekat. Namun, Steffi tidak menganggap kedua orang ini eman dekat. Untuk apa juga. Pasti mereka matre.
"Nah kita udah sampe." Kata arwah senior berwajah mungil, "Kau masih ingat alamat rumah mu?" Tanyanya pada Steffi.
Tentu saja Steffi masih ingat. Masa 20 tahu menempatkan rumah tidak hafal alamatnya. Keterlaluan jika, begitu.
"Yaudah, lo bilang ke die dah. Biar dia nyari tempatnya dulu. Jangan lupa kasih bayarannye." Kata arwah dengan auara nyablaknya itu.
Atas arahan mereka berdua, akhirnya Syeffi mendekati petugas gerbang dan menyebutkan alamatn rumahnya, "1 juta rupiah."
"Buset. Mahal amat—gimana dong nih?" Steffi menoleh ke belakang. Mencari saran yang terbaik. Soalnya, nominal yang harus dibauar sangat lumayan untuk ukuran cuman nyari alamat.
Steffi mengeluh sembaru menahan kartu pada sakunya, "Cepet bayar! Nominal segitu buat ngecover keberadaan lo! Biar gak dicurigaiin kalo lagi gak ada di tempat." Jelas arwah nyablak tersebut.
Steffi membulatkam mulutnya, lamgsung saja, ia memberikan kartu pada penjaga gerbang agat bisa keluar dan mencari alasan kematiannya, "Wow!"
Sesampainya di luar, Steffi dibuat teecengang. Benar-benar magic dan genre fantasi banget. Pikirnya.
Ia menoleh ke belakang untuk melihat gerbang pemakamannya. Jaga-jag umtuk kembali nanti saat dia sudah tau alasannya.
Akan tetapi kok hilang? Omg. Gimana caranya nanti dia balik ke pemakaman kalo gerbgany aja menghilang, "Wow!" Untuk kedua kalinya mulutnya melontarkan kalimat menakjubkan.
Tiba-tiba di lengannya tertaa waktu tiga jam sebelum Steffi kembali ke pemakaman.
Setelah melihat waktu itu, Steffi langsung bergegas menuju rumahnya di depan.
Ia tak perlu susah membuka pintu karena, sekatang dia bisa tembus.
"OmayG!." Steffi tercengang saat melihat semua anggota keluarganya sedang menaruh beberapa makanan favoritnya di depan figura photonya.
Untuk apa? Weh. Belum juga setagun kematiannya kok udah diperingati kaya begini.
Makanan khas korea selatan memenuhi meja, mulai dari banchan atai lauk pauk, kue beras, pir korea yang terkenal sangat besar, hingga lilin panjang yang membuay matanya terbelalak.
Hey! Aku belum setahun lho mati, masa udah begini. Mana masih nangis lagi. Kenapa aih sebenarnya. Ada apa semuanya. Kenapa mereka sangat terpukul dengan musibah ini. Perasaan, Steffi bukanlah anak kesayangan mereka. Lalu, juga mereka lebih mementingkan perusahaa ketimbang perasaan anaknya sendiri.
Lagi-lagi Steffi menhhela nafas beratnya dengan kaki melangkah untuk mendekat, "Bisa dimakan gak si ininya. Penasaran." Gumamnya dengab tangan menyomot kue beras di piring.
Wihhh! Ternyata bisa. Tangannya bisa meraih makanan ini. Namun, kenapa mereka tidak melihat makananya terbang ya? Jangan-jangan, mata mereka sama sekali tidak melihatnya. Pikiran Steffi mendadak penuh layalnya mulut yang kini sedang sibuk menguyah kue beras yang mempunyai cita rasa unik serta manis.
"Maafkan kami, Steffi. Di rumah ini menjadi sepi tanpa dirimu. Eomma yang salah."
"Eomma." Lirih Steffi.
Ia veranjak dari meja persembahan dan duduk di sebelah eommanya (ibu dalam bahasa Korea)
"Appa pun salah, Steff. Kamu pasti kesepian di rumah sebesar ini, hingga diam diam memilih kursus bahasa inggris. Padahal, kamu sudsh menguasai bahasa iti dengan sangat fasih. Steffi, maafkan Appa." Suara parau dari pria paruh baya kesayangannya itu membuat hari Steffi luruh seketika.
Rasamya ia ingi memeluk kedua orang tuanya tapi, tidak bisa. Tangannya tak bisa menjangkau mereka. Semenjak menjadi arwah, dirinya memiliki tubuh ya g transparan. Membuat tak bisa memegang atau merasakan wujud manusia atau yang lainnya.
"Stefi.Ini untuk mu. Makanan kesukaan mu. Eomma sengaja masak sejak pagi buta tadi."
"Eommaa, Steffi sayang eomma." Suaranya semakin bergetar hingga tubuhnya tak kuasa menahan beban.
Steffi jatuh ke lantai dengan butiran air mata yang membasahi wajah, "Jika di kehidupan nanti kita akan berasama, eoma janji tidak akan memaksa kamu untuk menjadi penerus perusahaan, nak. Tapi, tolonh reinkarnasi jadi anak eomma lagi, ya." Suara parau yanh aemakin parau menusuk gendang telibga Steffi. Membuat dirinya semakin yakin, jika, kematiannya sangat membuat kedua orang tuanya bmmerasa bersalah.
Mendadak, Steffi lupa akan mencari alasan dari kematiannya. Dirinya merasa jikalau, itu memang sudah takdir para dewa untuk mengirimnya ke akhirat.
Steffi bangkit dari posisinya dengan nafas penuh keyakinan, "Aku mau pulang."
Dirinya tersenyum ke arah kedua orang tuanya sambil menekan waktu agar membuat, dirinya kembali ke pemakaman.
Tssset!
Tidak butuh waktu lama. Hanya sekitar satu detik, Steffi sudah kembali berada di area pemakaman, "Lo dari mana?"
"Wehhh! Kok ada lo."
"Lah, gua mah dari tadi disini. Lo yang tiba-tiba muncul." Jelas Lira dengan wajah penasarannya.
Steffi menatao Lira, "Kenapa lo mata lo ampe begitu?"
"Gak kenapa-kenapa. Lo ngaco aja. Mana ada gua tiba-tiba muncul." Dalig Steffi.
"Yailah, Stef. Masih kaku aja deh lo! Gua tau kok, kalo lo pasti abis make jasa penjaga gerbang belakang kan"
"Wtf! Lo tai juga nasa itu?"
"Yailahhhhh!" Lira teebahak sambil menggebuk punggung Steffi, "Itu kan gua duluan yang tau." Jelasnya.
Membuat Steffi semakin teecengang. Ternyata, temennya sendiri yang menemukan trik curang tersebut. Kalo gitu adaya, ngapain dia pake alesan segala. Duh. Jadi, malu.
Steffu mencoba tertawa mengikuti irama Lira, "Lo tadu bayar berapa?"
Steffi berdehem, "Satu jeti."
"Buset!" Lira tersentak hingga berdiri, "Murah banget kan, Lir." Sahut Steffi dengan percaya diri.
Tapi, Lira malah mengeplak kepala Steffi, hingga dirinya menoleh kesal padanya, "Lo diboongin! Lo kesana bareng siapa? Kenapa gak bilang gua dulu si lo ah." Lira menghujani banyak pertanyaan pada Steffi.
Rasa pusing mendadak bersarang, Steffi tak tahu ingin membalas apa lagi. Ternyata, dirinya kena tipu setelah mendengar penjelasan dari Lira.
Mendadak, dirinya menjadi bahan ledekan oleh Lira atas sikapnya tadi, yaaa namanya juga arwah baru ya kan. Mana tau, kalo arwah senior di sini butuh duit juga.
Steffi memberi kalimat penenang untuk dirinya sendiri agar bisa menghibur aetelah mengeluarkan uang 1 juta rupiah, yang padahal, biaya penjaga gerbangnya hanya 200 ribu untuk 3 jam ke luat area pemakaman.
Sialan.
Hanya satu kata yang terbesit di kepala. Rasanya dia sangat ingin mencari kedua arwqh senior yang telah menipunya. Namun, dia sadar untuk mengurus administrasi sebelum kantor tersebut tutup dan buka lusa nanti.Huh—jamgan sampe deh. Semoga masih buka. Steffi berlari dengan tenaga penuh hingga akhirnya, ia sampai di depam gedung administrasi dan misi para arwah.
"Ini formulir yang untuk diisi. Dimohon untuk diselesaikan hari ini juga." Kata petugas yang memakai baju serba hitam.
"Baik." Jawab Steffi dengab langsung membawa formulir tersebut.
Ia duduk di sofa yang sudah disediakan dan membaca kalimat demi kalimat.
Ia mencentrang pilihannya sebagai malaikat maut sebagai ajang penebusan dosa karena, sudah membuat kedua orang tuanya sedih atas kematiannya.
Steffi tidak mau membalas dendam pada mereka atas alasan audah mengekang dirinya semasa hidup dulu. Steffi tidak mauenjadi seoranv anak durhaka pada orang tua yang sudah membesarkan nya penuh cinta. Toh, juga dia sudah mendengat doa eommanya yang sangat menginginkan dirinya ber-reinkarnasi sebagai putrinya kembali.
Oleh sebab itulah, Steffi memilih menjadi malaikat maut agar bisa mengabulkan doa dari eomma tercintanya.
"Sudah yakin atas pilihannya? Karena, tidak bisa dibatalkan atau mendadak berubah." Tanya petugas tersebut melalui pengeras suara agar Steffi bisa mendengat dengan jelas.
Steffi yanh audah mantap akan pilihamnya langsung memgacungkan i u jari serta kepala yang memgangguk, "Baik, kalau begitu besok anda akan dikirimkam sejumlah dokumen berisi misi agar menjadi malaikat maut." Jelas petugasnya lagi sembari memberikan salinan formulir pada Steffi.
Merasa sudah jelas dan terarah, Steffi langsung berterimakasih dan kembali keluar untuk mencari Antonio. Debgan niat bertanya dan belajar untuk menyelesaikan misi besok.
"Assaah! Akhirnya gua punya junior." Pekik Antonio dengan kegirangan.
Sementata Steffinhanya memutar bola mata denhan malas, karena, sudah terima nasip deh. Nanti dia pasti akan dijahili oleh seniornya ini.
"Tapi, Steff."
"Kenapa?"
"Kok lo mau jadi malaikat maut? Capek banget lho." Kata Antonio seolah memberikan peringatan pada Steffi.
Namun, bukannya takut atau apa... Steffi malah terkikih, "Jadi arwah penasaran juga capek, Nio! Trus, mereka gak dapwt seragam lagi. Mending jadi malaikat maut aja, dapet seragam ketceee." Jawab Steffi.