Ada suara yang sangat menggelegar, membuat seisi ruangan terkejut seketika.
Apa ada ritual baru untuk orang baru juga? Karena, pemakaman ini menampung semua kalangan dari berbagai macam agama.
Steffi menoleh pada Lira, untuk mencari jawaban. Namun, naas hasilnya.
Lira malah sedang sibuk menuntup kedua indera pendengarnya. Agar tidak pengang.
Raut wajah Lira penuh dengan kebencian, seolah sudah muak mendengar semua hal ini.
Langsung saja, Steffi menoleh pada Antonio. "Kenapa? Ada yang aneh dengan gua punya muka?" Tanyanya.
Karena, Steffi menatapnya dengan sangat intens layaknya seorang inspektur, "Ada apaan si di luar?" Steffi melontarkan pertanyaannya. Tanpa menunggu Antinio selesai bercermin ria.
"Semua arwah baru silahkan datang ke taman pusat blok Z!"
Suara lantang, intonasi sangat bulat, serta ada kharisma yang terdengar.
Membuat Steffi tercengang sebentar.
"Ikutin perintahnya aja dulu. Nanti lo tau kok ini ada apaan." Jelas Antonio, seraya melakukan pekerjaannya kembali. Yang kali ini mengharuskan fokusnya terjaga.
"Ayo, Steff! Nanti kalo telat diomelin lho." Ramanda menggandeng lengan Steffi, untuk menuntaskan perintah tadi.
Dan, itu semua sukses memindahkan pandangan tajamnya pada Ramanda.
"Dikira sekolah kali, kalo telat diomelin."
Mendengar cibiran dari Steffi, malah membuat Ramanda terkikih geli. Hingga air mata jatuh dari pupilnya.
Receh sekali humor si Ramanda, fikir Steffi.
Ia langsung berjalan keluar dengan lengan yang masih bertaut dengan Ramanda.
Dan, sesaat ia ingin keluar dari ruangan. Ramanda berbisik pada Steffi.
Membuatnya langsung menoleh, "Lira! Kok lu diem aja! Ayo keluar!" Seru Steffi, yang baru menyadari jika satu teman arwahnya yang masih terduduk dengan pala yang tergeletak di meja.
Diam saja, layaknya manekin di pasar raya atau mall di Jakarta.
Lira langsung menoleh, memincingkan mata pada arwah baru yang sudah berani berteriak pada arwah senior.
Astaga, di dunia arwah masih saja ada Senioritas.
"Gua udah masuk klasifikasi! Gosah ngajak-ngajak deh!" Lira yang tidak mau kalah, langsung berseru dengan suara tinggi nan cemprengnya.
Sesuai kepribadian Steffi yang menjengkelkan, serta ketambahan sifat dari Ramanda. Maka bisa ditarik kesimpulan.
Jika, seruan Lira tadi tidak akan mendapatkan balasan dari mereka berdua.
Alih-alih membalas 'oh begitu' atau 'okedeh' mereka berdua malah langsung keluar dan menuju taman pusat.
Membuat Antonio terkikih, karena melihat raut wajah heran dari Lira, yang sangat kebingungan.
Rasa menyesal yang begitu dalam, karena sudah membawa dan mengajari dua arwah baru yang kurang ajar.
"Sabar, bundd. Ujian jadi arwah emang begini." Goda Antonio, tanpa berani menoleh pada Lira di belakang.
***
Seketika fikiran kosong menghantam keduanya, sesaat sampai di taman pusat blok Z.
Keriuhan apa ini. Banyak arwah yang sudah memadati posisi depan.
Banyak arwah yang terlihat dengan penampilan terbaik mereka.
Ada yang memakai dress mewah, setelan jas, hingga memakai banyak perhiasan.
Sungguh sangat berbeda dengan penampilan Steffi dan juga Ramanda.
Yang memakai baju terakhir sebelum mereka meninggalkan dunia.
Mereka berdua bertemu tatap, dan langsung tertawa.
"Kaum miskin kaya kita di belakang aja ya, Steff." Ujar Ramanda dengan senyum kecutnya.
Dibalas anggukkan langsung oleh Steffi. Akhirnya, ia tidak merasa minder sendirian.
Setibanya di posisi belakang barisan, dan seketika pandangan Steffi terkunci saat ada orang di depannya yang sedang mengumpulkan uang di atas kepalanya.
Uang-uang tersebut, seolah muncul dengan sendirinya. Diikuti dengan asap yang menghilang.
"Biasanya itu orang Tionghoa, Steff. Kebudayaan mereka begitu." Tukas Ramanda.
"Iya bener! Makanya kebudayaan mereka kan suka bakar uang, buat orang yang meninggal. Buat kehidupannya di sini."
"Hehhhhhh.Siapa ya?" Tanya Steffi, kala orang di sebelahnya yang seolah menimbrung dengan perbincangan dengan Ramanda.
Sesaat menoleh ke samping, Steffi langsung dikejutkan oleh pemandangan arwah tersebut.
Rambut yang sangat berantakan, baju yang compang-camping, serta celana tidur yang sangat pendek mengalahkan celana dalam.
Apa yang sebenarnya terjadi pada arwah ini sebelumnya.
Jangan-jangan...
Ah sudahlah, Steffi tidak mau menerka yang tidak-tidak.
Tidak baik juga kan, menilai seseorang dari penampilannya.
"Kau tau dari mana?" Steffi mengalihkan perhatiannya, dan bertanya perihal ucapan yang dilontarkan tadi.
"Perhatian!"
Belum mendapatkan jawaban, Steffi langsung dibuyarkan dengan suara yang ia dengar tadi.
Ia langsung menoleh ke depan, untuk menyimak penjelasan yang akan diberikan oleh sosok berperawakan tinggi besar, jauh di depannya.
Sosok tersebut adalah ; pemimpin dari malaikat maut yang bisa disebut sosok paling tinggi di pemakaman ini.
Bertugas sebagai pemantau administrasi arwah baru, serta memegang kendali penuh dengan formulir jangka panjang dari semua arwah.
"Silahkan mengisi formulir yang telah diberikan, untuk mengetahui anda semua masuk dalam klasifikasi apa." Perintahnya lagi.
Steffi mengambil formulir dari malaikat maut yang berkeliling.
Lalu tercengang sesaat melihat formulir di tangannya.
Tertulis dengan jelas, jika ada banyak pertanyaan yang tidak mampu ia jawab.
Karena, dirinya sama sekali tidak tahu.
Contohnya, biaya perbulan yang dikeluarkan oleh mendiang untuk perawatan makam.
Sangat aneh, bukan?
Masa Steffi harus menampakkan dirinya dan bertanya pada sanak keluarga, hanya untuk mengisi formulir ini.
Bukannya terjawab, malah nantinya para keluarga akan memanggil 'orang pintar' untuk mengusir dirinya.
"Hmm" Steffi melepaskan nafas beratnya.
Dan hanya mampu mengisi nama, serta blok makamnya.
"Woah." Seketika, matanya terbelalak sempurna. Saat melihat, semua kolom di formulir tersebut terisi dengan sendirinya.
Mulai dari biaya perbulan, hingga fasilitas apa saja yang ia dapatkan.
Padahal, Steffi saja tidak tahu semua hal itu.
Mungkin karena malaikat maut disini pada hebat, yaa. Bisa langsung mengetahui semuanya, bermodalankan hanya dengan nama serta blok pemakaman.
Setelah beberapa menit tercengang, akhirnya semua itu disudahkan oleh salah satu malaikat mau yang berdiri di depannya.
Satu-satunya malaikat maut wanita, yang baru ia lihat.
"Kau akan menjadi arwah eksklusif. Selamat, karena akan mendapatkan black card." Bisiknya.
Membuat Steffi kembali tercengang. Menelaah maksut semuanya.
Sampai akhirnya, Ramanda mengguncang tubuhnya.
"Asik! Gua punya temen arwah kaya! Mantap! Traktir gua makan yaa, sama beli baju boleh."
Apa-apaan dia.
Sudah mintra traktir. Dari mana Steffi mendapatkan uang, hingga Ramanda bisa menyebut dirinya adalah arwah kaya.
Malaikat maut di depan kembali melontarkan perintah. Dan meregangkan tangannta ke samping.
Voilaaa...
Seluruh arwah terbagi menjadi dua. Ajaib sekali.
Steffi langsung menoleh pada Ramanda, agar tidak norak sendirian.
Namun, sosok Ramanda sudah tidak ada di sebelahnya.
Mendadak hilang begitu saja.
Apa jangan-jangan, dirinya tidak masuk dalam klasifikasi yang sama dengan Steffi.
Seketika, hati Steffi mendadak khawatir. Takut jika Ramanda akan kesepian, karena dirinya adalah arwah yang tidak berbaur dengan arwah lain, akibat sifat manusianya yang dulu katanya seorang penyendiri atau introvert.