#Pmkn-Takdir

1107 Kata
Decitan antara roda koper dan jalanan begitubtedengar. Sangat jelas. Membuat telinganya bergetar serta emosinya mendidih seketika. Namun, orang itu tidak bisa meluapkannya. Entah kenapa... Membuat otaknta frustasi hingga melempar kopernya ke jalan. Begitu saja. Layaknya orang yang membuang sampah sembarang. Tapi, memang betul. Koper itu juga berisikan sampah. Sudah tidak berguna, ingin Lira buang ke tempat penampungan. Namun, hatihya masih belum tega. Akhirmya ia bawa saja muter-muter keliling komplek sembari menunggi hatinya siap. Namun... Kalau tidak dibuang sekarang, mau kapan? Sementara orang yang ngasihnya aja udah tau kemana. Tapi, bodohnya lagi Lira masih saja mencoba menghubunginya. Entah karena, apa. Dan mau apa? Aneh! Menjijikan sekali sikapnya itu. Lira tau akan hal itu kok... asli! Tapi, ya memang lagi dibutakan oleh cinta aja jadinya, begini... Lira masih menggenggam ponselnya. Menaruhnya di telinga kanan sambil meninggu si pemilik mengangkat panggilannya. "Lir..." Deg! Kan... Pasti diangkat. Dia masih punya rasa sayang seperti Lira. Membuat senyum simpulnya terlihat sekilas. Membuat Lira semakin bahagia kala dia mengajak Lura bertemu di tempat makan biasa. Mall kelapa gading 3. Food court di kursi depan fast food american food. Lira menatap pria tampan di depannya, "Baju aku gimana? Bagus gak? Kamu suka gak?" Lira menghujani pertsnyaan pada Dave yang masih sibuk memainkan ponselnya. "Dave..." "Sayang..." "Apasih, Lir?" "Kamu nyesel kan udang selingkuh daru aku pas di Bali kemarin?" "Engga!" "Kok engga!" Lira kesal hingga berdiri seketika, "Kamu gak suka? Makanya punya gaya yang agak cantikkan dong—biar aku nyesel selingkuh." "Anjing!" Sentak Lira yang kali ini langsung membuat mata Dave terbelalak. "Kamu ngomong apa? Udah berani sama aku?!" Ketus Dave yang kini berdiri di dekat Lira. Merangkulnya aekuat tenaga hingga membuat Lira mengaduh kesakitan. Tapi, tidak dibicarakan. Hanya dipendam oleh Lira sampai akhirmya dia menatap tajam Dave. "Aku mau putus!" "Gak bisa!" "Kenapa?!" Teriak Lira hingga orang di dekatmya menoleh dan menatao mereka berdua. "Hehhhhhh, maaf ya, kak. Ini pacar saya lagi ngambek." Jelas Dave sambil semakin mengencangkan rangkulannya. Seusai orang lain tidak menatap mereka lagi, Dave semakin menjadi. Dia menarik Lira... Memaksa mengikuti langkah besar kaki jenjangnya yang kini sudah sampai di ujung lorong sepi dekat toilet. Matanya menatao Lira sangatbyajam. Layaknya pisau yang siap menusuk kapan saja, "Lo gak boleh putus dari gue. Lo cuman milik gue seorang. Gak boleh ada yang ngambil lo lagi." Katanya dengan berapi-api. Lira hanya membalas dengan tatapan kosong. Tidak kaget atau tidak takut. Biasa saja. Sudah biasa ia diperlakukan seperti ini. Namun, entah kenapa hari ini dia begitu lelah untuk terua melakukan ini. Lelah untuk berpura-lura bahagia kala dikeraskan dan diselingkuhi seperti kemarin. Otak syarag bagian rasional sedang bekerja sangan sempurna. Hingga membuat dirinya berani mengambil langkah untuk lepas dari belenggu pria tampan dengan hati setan. Lira masih menatap matanya Dave. Mencari secercah ketulusan agar membuatnya berbaik hati. Namun, semya itu tidak ada sama sekali. Akhirnya, memvuat Lira jengah dan keluar dari rangkulannya. "Lo diem di situ!" Keras Lira. Tapi, Dave masih berani melangkahkan kakinya. Kali ini terpaksa ia mengambil ancang-ancang teriak meminta tolong untuk menjalankan rencana pertama. Namun, lagi-lagi langkahnya kalah cepat dengan Dave yang kini sidsh membelenggu lehernya. Memaksanya untuk diam dan tak bersuara. Lira hanya bisa menyuarakan batuknya yang semakin bervolume kecil hingga semakin tak terdengar. "Dave..." Lirihnya dengan mata yang terpejam. Tapi, itu tidak membuat Dave mengendurkan belenggunya. Malah semakin kencang hingga akhirmya Lira lepas dari dekapannya. "Lir..." Pekiknya dengan tangab cepat mengambil tubuh Lira. Dave nenatap mata Lira yang sudah terpenam dengan sangat ketakutan. Pikirannya sudah tercampur aduk menjadi satu himgga akhirnya dia berani untuk memutuskan menggendong Lira dengan gaya bridal. Niatnya dia mau membawa Lira ke runmmah sakit. Tapi, setelah dipikir lagi, tidak aman. Lebih baik ia bawa ke rumahnya dan menaruhnya di kamar. Nanti juga bangun... Pasti. Pikirnya pendek. Mendengar semua itu semakin membuat dirinya geram. Ia langsung mengajak Lira untuk oergi ke gerbang belakang. "Gua yang bakal nyabut nyawa dia! Liat aja tuh orang! Kelakuannya sampek bikin setan minder!" Tegas Steffi yang kini tak bisa menahan rasa amarahnya. Gimana mau menahan semuanya di kala dia mendengar cerita pembubuhan paling keji yang terjadi pada temannya sendiri. Dirinya tidak terima, sebagai teman sekaligus perempuan sama seperto Lira. Steffo tidak sanggup. Dirinya mau melihat rupa orang yang berani melakukan semua hal keji itu pada temannya. Se-ganteng apa sih... sampe bisa enak banget selingkuh sana-sini tapi, gak mau ngelepasin Lira. Sok iye! Se kaya apa sih dia, bisa sampe-sampe bayar orang suruh pura-pura nabrak Lira untuk menyembunyikan pembunuhannya sendiri. Steffi sangat muak hingga wajahnya memerah. Tapi, Lira biasa saja. Membuat Steffi hilang akal dan menatap tajam Lira. "Lo begini juga udah gak guna, Steff! Calm down!" Tegas Lira. Namun, Steffi tetap tidak bisa tenag. Rasanya dia mau menghampiri Dave sekara g juga dan mengajaknya umtuk minum teh yang akan membawanya langsung ke alam arwah. Biar tau rasa dia... Gimana peliknya jadi setan yang bangun-bangun udah liat gundukan tanah dengan bunga tujuh rupa yang digilir untuk ditebarkan. "Stefff—please! Biar jadi urusan gue aja. Gua cuman cerita ke lo doang. Biar perasaan gue tenang dan gak ketakutan masa lalu gue keungkap gak sengaja kala aa di pikiran." Jelas Lira yang membuat Steffi kembali dalam posisi duduknya. "Biar gue aja yang balas dendam ke dia. Lo jangan! Gue gak mau catatan lo sebagai calon malaikat maut jelek gara-gara ngebunuh manusia." Tambah Lira. Kalau bisa dia menghembuska nafas panjang untuk memperlihatkan betapa putus asanya itu, maka akan Lira lakukan. Sayangnya, tidak. Lira sudah tidak bisa bernafas. Akhirnya, dia hanya bisa menatap lurua menembus pikiran Steffi. "Lir... Gua turut berduka atas kematian lo dulu. Gua tau itu pasti berat." "Berat?" Lira terkikih dan menyakinkan kembali ucapan tadi. Steffi mengangguk, membuat Lira semakin tertawa. "Gua malah seneng bisa mati, Steff." "Hah? " Steffi tercengang dan meminta penjelasan. "Dengan cara gue mati, gua bisa lepas dari Dave. Coba kalo gue gak mati. Gua mana bisa lepas dari dia—pasti gue akan terus dibodoh-bodohin ama dia." Jelas Lira panjang lebar. Tentu saja dengan tawa renyah ciri khas Lira. Tapi, bagi Steffi itu bukan tawa khasnya. Melainkan hanya tawa untuk menenangkan Steffi agar tidak merasa sedih. Padahal, jauh di lubuh hati Lira paling dalam, dia tersakiti. Siapa sih yang mau mati muda... Kan gak ada... Begitu juga dengan Lira. Dengan begitu, Steffi tak mampu membalas apa-apa lagi. Dirinya hanya mampu pindah tempat duduk. Berada di sebelah Lira debgan tatapan mata lekatnya. "Lo pasti pas jadi manusia kuat banget ya, Lir! so proud of you!" Tegas Steffi sembari mendekap Lira erat-erat. Namun, tentu saja Lira menyangkal semuanya dan berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Steffi. Tapi, sayangmya tidak bisa. Steffi menahan dekapannya begitu apik dan ciamik sehingga membuat Lira tanoa. sadar pasrah begitu saja dan malah menitihkan airmatanya. Sial...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN