"Saya terima nikah dan kawinnya Nailis Saira binti Suwarto, dengan maskawin tersebut. Tunai." Aku tidak bisa menyembunyikan ketegangan diwajahku, tanganku bahkan berkeringat dingin dan debaran jantungku terasa tak terkendali. Dan ketika kata "sah" itu membahana memenuhi ruangan. Akhirnya kuhembuskan nafas kelegaan namun tetap saja belum bisa membunuh kegelisahan dihati ini. Nailis? Pandanganku beralih pada perempuan yang kini telah berstatus istriku itu. Aku terus bertanya-tanya tentang apa yang ia pikirkan tentang pernikahan yang sebelumnya ia tentang ini? Sayangnya, Nailis seperti biasa selalu bisa menjaga ekspresi wajahnya dengan menampakkan ketenangan diluar. Sehingga sulit bagiku untuk menembus kedalam hatinya demi mengetahui bagaimana perasaannya saat ini. Kurasakan hangat tangann

