Pov Nailis ( Pesan Singkat )

1280 Kata
Pov Mandala Selepas kepergian mantan suaminya. Buliran bening menderas dari kelopak mata sayu itu. Tak terdengar isakannya sama sekali. Gadis itu menangis dalam diam. Sebelum akhirnya meninggalkanku dan mengunci diri di kamarnya. Tanganku ingin menggapainya, merengkuhnya dalam dekapan, memintanya berbagi kesedihan. Namun sekali lagi, aku hanya bisa tersenyum miris. Memangnya siapa diri ini? Aku adalah laki-laki pecundang yang sudah menghancurkan mimpi-mimpi dan masa depannya. Ponselku berdering, nama Amaya tertera dilayarnya. Ku tatap panggilan masuk itu cukup lama. Aku terlupa, aku memiliki Amaya disana. Sulit menggambarkan perasaanku pada wanita yang dua tahun lebih ini mengisi hariku. Hanya ada kepuasan yang kudapat, kala melihat wajah Randy yang nelangsa. Rupanya pria itu memang cinta mati pada kekasihku. Hal yang membuat sakit hati yang kusimpan selama ini padanya rasanya terbalaskan. Namun aku baru tersadarkan sesuatu setelah perjumpaanku dengan Nailis. Perasaan asing yang tak kurasakan sebelumnya saat sedang bersama Amaya. Justru kudapatkan dari gadis yang dua tahun ini kuhancurkan masa depannya. Perasaan ingin selalu memandang wajahnya, perasaan ingin selalu didekatnya. Bahkan rindu yang aneh, padahal kami dalam satu atap yang sama. "Halo." Akhirnya kuputuskan menjawab panggilan yang terus berdering intens itu. "Kamu kemana, sih, Mas?" Seperti biasa, Amaya akan kesal kalau aku lama mengangkat panggilannya. "Iya, maaf ... habis dari toilet tadi," jawabku terpaksa berbohong. "Aku tuh heran sama kamu ... kalau aku nggak kasih kabar duluan. Kamu tuh masa nggak ada inisiatif gitu hubungin aku duluan. Sebenarnya kamu tuh cinta nggak sih sama aku, Mas?" cercanya. "Aku juga tidak tahu, May," batinku menjawab. Ini sudah protes kesekian puluh kalinya yang dilontarkan Amaya. Dan aku sendiripun tak tahu kenapa dan tak tahu harus mengirim pesan apa padanya, yang aku tahu, Amaya pasti juga akan menghubungi kalau butuh sesuatu atau meminta bertemu dan sudah pasti aku akan membalas pesannya jika tidak sedang sibuk. Lalu apalagi yang harus dipermasalahkan? "Bisa nggak, May ... nggak usah bahas itu lagi?" Untuk saat ini aku ingin menghindari perdebatan. Ada yang sedang mengganggu pikiranku dan aku butuh ketenangan untuk memikirkannya. "Abisnya kamu itu aneh, Mas. Selama ini kamu terlalu cuek. Aku tuh jadi bingung ... sebenarnya selama ini kamu tuh cinta nggak sih sama aku." Lagi dan lagi, Amaya akan menangis jika membahas tentang hal ini. Biasanya aku akan menenangkan dan merayunya. Namun kali ini entah kenapa aku tidak ingin melakukannya. "Sudah ya, May ... kita bahas nanti kalau aku sudah pulang." Segera kuakhiri panggilan sekaligus daya. Kebiasaan Amaya jika kami bertengkar, dia akan terus menerus menghubungiku, lalu kemudian mengirimkan banyak pesan tentang perasaannya. Pernah suatu hari, aku memutuskannya karena terlalu jengah dengan sikapnya yang terus menuntut perhatian juga cemburu berlebihan. Hingga akhirnya ia datang tengah malam ke rumah dan menangis meraung memintaku untuk tidak memutuskannya. Bahkan orang tuanya sampai ikut datang ke rumah untuk membujukku. Waktu itu memang ku akui, aku lebih dingin dan cuek dari biasanya. Itu terjadi setelah kejadian malam aku menodai kesucian Nailis. Aku dilanda perasaan takut dan bersalah. Sempat terfikir untuk jujur dan mempertanggungjawabkan kesalahanku. Namun diwaktu bersamaan, aku tidak tahu bagaimana lepas dari Amaya. Bersamaan itu, kudengar kabar bahwa Nailis sudah menikah dengan kekasihnya. Lega? Memang ada perasaan itu. Namun hati masih terus dikejar perasaan bersalah dan penyesalan. Karena waktu itu, aku belum sempat meminta maaf padanya. *** Pov Nailis Jika ada yang bertanya ... apa yang membuatku kuat? Jawabannya adalah putraku, Leonku tersayang. Aku yakin, anak adalah sumber kekuatan seorang ibu. Selepas menyiapkan dagangan es lilin, aku memilih langsung ke kamar. Alasan sebenarnya, adalah menghindari pria kota yang terus saja mencari kesempatan bicara denganku. Kubaringkan tubuhku yang lelah disamping putraku yang sudah tertidur pulas. Ku kecup berulang pipinya, hingga tanpa sadar air mataku meleleh, menumpahkan tangisku mengingat kejadian sore tadi sembari memeluk tubuh mungilnya. "I love you, Boy," bisikku pada malaikat kecilku. Biarpun ia terlahir karena kesalahan. Aku tidak pernah menyesali kehadirannya. Aku mencintainya dengan seluruh nyawaku. Akan kulakukan apapun untuk kebahagiannya. Setelah puas memandangi wajah tampannya. Kuusap air mata yang menggenang dikedua sisi wajah. Melangkah menuju lemari kayu dikamar, kuambil buku tabunganku. Alhamdulilah ... hasil dari kerja kerasku, nominalnya sudah lebih dari cukup untuk mengganti uang Mas Dimas yang dulu aku gunakan untuk keperluanku juga Leon. Aku berhutang banyak padanya, mulai dari biaya caesar, biaya rawat inap Leon saat aku belum memiliki kartu kesehatan, belum printilannya yang lain dan nafkah bulanan yang ia berikan selama dia menjadi suamiku. Aku memang berniat mengembalikannya suatu saat nanti. Karena aku merasa wanita tak sempurna sepertiku tak memiliki hak untuk menerima semua kebaikannya. Kini tabunganku sudah cukup untuk mengembalikan apa yang sudah ia keluarkan untukku dulu dan masih ada sisa untukku berjaga-jaga kalau-kalau tiba-tiba ada kebutuhan mendadak. Sebelum Mas Dimas kembali ke kota, aku berniat memberikannya. Andai tadi aku tidak terlalu terkejut dengan pengakuannya. Mungkin sudah kuberikan ini kepadanya. Tapi ya sudahlah ... masih ada hari esok. Aku tak ingin berhutang apapun padanya. Meski pengakuannya sangat menyakitiku, namun sama sekali tak merubah tekadku untuk mengembalikan yang memang tak seharusnya tak kuterima. Bunyi pesan masuk diponsel, membuyarkan lamunanku. Kuambil benda pipih dengan goresan memanjang ditengahnya. Ya, kacanya pecah karena ulah putra kecilku. Tapi tak apa, masih bisa dipakai. Aku tak berniat menggantinya sekarang, masih banyak kebutuhan lain yang harus aku dahulukan. Pesan dari nomor baru : ( Ini aku Nadia. Aku tak ingin berbasa basi. Aku wanita dan kamu juga. Tentu merasa cemburu jika seorang suami menaruh perhatian pada wanita lain. Terlebih kamu mantan istrinya. ) ( Aku minta kamu tahu diri posisi kamu saat ini. Tolong jangan meminta perhatian lebih dari suamiku. Apalagi masih mengharapkan nafkah darinya. Aku masih maklum kalau itu buat anaknya, tapi anak itu bahkan bukan darah dagingnya.) Sesak d**a ini membaca pesan panjang dari wanita itu. Namun tetap kulanjutkan membaca pesan darinya yang beruntun masuk ke ponselku. ( Jujur, aku tidak ridho uang suamiku kamu pakai. Aku harap setelah ini kamu sadar diri. Tolong jauhi Mas Dimas apalagi mengemis duit pada suamiku lagi. ) Apalagi ini? Andai tak ingat aku masih butuh benda butut ini. Sudah kubanting handphone digenggamanku ini. Air mata yang sebelumnya telah mengering, sialnya kembali menghambur lagi. Mas Dimas memang beberapa kali mengirimkan uang padaku, untuk jajan Leon katanya. Tapi tak pernah sekalipun aku meminta, bahkan seringkali aku menolaknya. Namun pria itu mengancam akan membenci dan memutus tali silaturahmi denganku jika aku tak menerimanya. Aku bisa apa? Dulu bagiku dia alalah malaikat penolong. Meski tak bisa bersama, tapi aku tetap ingin menjalin silaturahmi yang baik dengannya. Bangkit, mengambil jaket yang tergantung dipintu. Kuseka air mata dan gegas keluar kamar. Sepertinya aku tak bisa menunggu esok hari. Akan ku kembalikan semuanya didepan istrinya, supaya aku tak lagi terlihat seperti benalu dikehidupan pernikahan mereka. "Bu, titip Leon sebentar," bisikku pada Ibu yang sedang mengobrol bersama yang lain. Karena semua memang belum tidur, masih asyik berbincang sembari menonton acara televisi. "Mau kemana, Nduk?" Ibu terlihat bingung. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. "Beli gorengan," jawabku beralasan sembari membuka pintu untuk mengeluarkan motor. Terdengar aneh bagi kedua orang tuaku. Karena aku bukan tipe orang yang suka jajan terlebih hari sudah malam. "Udah malam ini, Nai." Bapak terlihat khawatir. Karena jalanan kampung sangatlah sepi. Terlebih untuk sampai ke kecamatan harus melewati jalanan angker. "Sudah biasa, Pak. Aku biasa pulang lembur sendiri," keukehku. "Tapi ,kan kalau lembur ada barengannya, Nai. Bapak nggak ijinkan ...." Aku tahu akan sulit. Tapi aku tidak bisa menunggu besok pagi. Bisa-bisa aku tidak bisa tidur samalaman, karena hatiku rasa mendidih jika mengingat pesan dari Nadia. "Kalau begitu ... biar Mas Mandala yang mengantarku? Bisa, kan?" Lidahku tercekat menyebutnya "Mas" ... tak apa yang penting masalah selesai malam ini. "Bi-bisa," jawabnya cepat setelah sempat kulihat keterkejutan diwajahnya. Aku melempar senyum palsu kepadanya. Tak mengapa? Sekalian ku bawa dia untuk membungkam mulut pedas wanita itu bahwa aku sudah memutuskan move on dari suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN