Pov Nailis ( Fakta Menyakitkan )

1354 Kata
"Tidak, terima kasih." Ku tolak tawarannya mentah-mentah. Omong kosong apa yang sedang diucapkannya. Mengajak menikah setelah dua tahun bersikap seperti pecundang. Sekarang, setelah aku bisa bangkit kembali. Baru dia datang dan mengusik ketenangan yang kuperjuangkan susah payah. Karena kedatangannya, tetangga kembali menggunjingku. Saat aku mengantar pesanan jamur tiram tadi. Dapat kurasakan tatapan berbeda dari mereka. Seperti biasa, gosip menyebar cepat dari mulut ke mulut. Selama ini mereka tahunya, Leon anakku dengan Mas Dimas. Namun kemiripin putraku dan pria itu memang tak terelakkan. Sudah pasti kasak-kusuk tentang ayah kandung Leon akan menjadi buah bibir hangat di kampung ini. Atau bahkan mungkin juga menyebar ke kampung sebelah. Perasaan takut kembali menghantui. Rasa yang dulu berhasil kulawan dengan penuh perjuangan. Hingga aku memiliki kepercayaan diri lagi bersosialisasi dengan tetangga. Kini rasa takut itu hadir mengusik lagi, mengurai ketenangan yang sebelumnya berhasil kudapatkan susah payah. Kenapa rasanya cobaan demi cobaan terus saja datang menghampiri hidup ini? "Kenapa kamu harus datang ke sini?" Kuayunkan cangkul dengan beragam emosi. "Kalau memang mau sembunyi? Kenapa tidak selamanya saja? Kenapa harus datang dan mengusik hidupku ... disaat aku sudah mulai tenang dan bisa bangkit kembali ...." Ah, sial! Kenapa air mata bodoh ini tak bisa kutahan. Padahal aku sudah memutuskan untuk tak lagi menangisi nasib dan menjadi wanita lemah yang cengeng. "Aku benar-benar minta maaf, Nai. Aku benar-benar tidak bermaksud mengacaukan semuanya," ucapnya penuh penyesalan. Penyesalam yang sudah sangat terlambat dan tak penting lagi bagiku. "Aku akui aku memang pengecut. Tapi jujur ... selama dua tahun ini aku terus dihantui perasaan bersalah ... hingga aku memutuskan untuk ikut datang ke sini ...." "Lalu setelah datang ... kamu mau apa?" balasku sinis. "Untuk memastikankah? Kalau gadis kampung yang sudah kamu nodai ini masih hidup dan baik-baik saja. Tidak sampai depresi apalagi bunuh diri ...," ketusku, dan sepertinya ucapanku tepat sasaran melihat ekspresinya yang membeku. Yang ku ucapkan bukanlah omong kosong. Setiap orang memiliki mental yang berbeda-beda. Ada yang kuat dan bangkit dengan mudah. Tapi tidak dengan aku yang sebelumnya menjalani hidup yang lurus-lurus saja dan sangat menghindari masalah dengan lingkungan sekitar. Terutama adalah, menghadapi omongan tetangga yang tajamnya melebihi belati. Tak sekalipun aku membayangkan, akan melewati fase hidup yang seperti ini. "Ya kamu benar, Nai ... aku memang sebrengsek itu," akunya menyumpahi diri sendiri. Tapi sekali lagi, itu tidak akan merubah segala yang telah terjadi. "Cepatlah pergi dari rumahku," usirku tanpa basa-basi. Aku sungguh tak nyaman melihatnya lebih lama di rumahku. Tempat ternyamanku untuk kembali, tempatku bersembunyi dan menumpahkan tangis dan kesedihanku. "Berikan aku kesempatan sekali saja, Nai ...," pintanya. Kulirik sosoknya yang terus mengumpulkan kunyit lalu memasukkannya ke dalam ember setelah membersihkannya dari tanah yang menempel. Bayangan malam itu tiba-tiba berkelebat tanpa ijin. Segera kutepis bayang menyakitkan itu. Andai saja, dia bukan pemerkosa, mungkin aku akan mengagumi parasnya. Sayangnya, karena dialah awal mula kehancuran masa depanku. Suara deru motor menginterupsi keheningan diantara kami. Kuusap peluh yang mulai membanjir diwajahku. Mendadak hati berdesir, mengetahui siapa yang datang. Mas Dimas, mantan suamiku. Pria keturunan chinese, bermata sipit dengan kulit sawo matang yang bersih dan terawat. Kawan-kawannya sering memanggilnya hitaci alias hitam tapi cina karena kulitnya yang lebih gelap dibandingkan keturunan chinese pada umumnya. Tapi hal itu tak lantas mengurangi pesonanya. Mas Dimas, pria pertama yang membuatku jatuh cinta. Pria yang tujuh tahun lebih tua dariku, dan dia adalah pria yang harus kurelakan. Karena aku sadar, bahwa aku merasa bukanlah wanita sempurna yang layak bersanding dengannya. "Assalamualaikum!" Suara lantang yang selalu kurindukan. Gegas kutinggalkan kebun dan menuju rumah untuk menemui tamuku. "Waalaikumsalam," jawabku sembari membalas senyumnya dan menerima uluran tangannya, juga wanita yang datang bersamanya. Kupaksakan senyumku, meski sudut hatiku tiba-tiba nyeri dengan prasangka mengenai tentang apa hubungan mereka. "Gimana kabar, Nai?" tanya Mas Dimas, sembari mengikuti langkahku menuju teras rumah. "Baik. Silahkan masuk ...," ajakku. "Kapan pulang?" Aku mencoba berbasa-basi supaya tidak terlihat semakin canggung. Menyembunyikan perasaanku yang mulai tak karuan. "Sudah tiga hari ini ... Leon mana, Nai?" tanyanya sembari mengedar pandang ke setiap sudut rumah. "Leon lagi main ke tetangga sama Mbahnya," terangku seraya beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman. "Nggak usah repot-repot, Nay." "Nggak papa, cuma minuman ...," jawabku sambil terus melangkah ke dapur. Tepat ketika pria kota itu membuka pintu dapur dengan membawa cangkul dan seember kunyit di ditangannya. "Biar aku yang buatkan minuman," tawarnya seraya mengelap wajahnya yang licin oleh keringat dengan kaosnya yang sudah terlepas dari tubuhnya yang atletis. Sial! Lagi-lagi bayang malam itu kembali hadir tanpa permisi. Tak ingin berdebat, kuiyakan saja dan kutinggalkan dia kembali menemui tamuku. "Nai ...." Mas Dimas mengurai kecanggungan diantara kami. Sepertinya ia sadar, aku menaruh penasaran pada wanita yang datang bersamanya. "Iya ...." Jariku saling meremas sementara hatiku mengantisipasi mental untuk mendengar kejujurannya. Kalau boleh jujur, aku masih mencintainya, aku masih sering merindukannya dan berangan dia akan kembali padaku. "Kenalkan ... ini Nadia, istriku," ucapnya hati-hati. Benar saja. Hatiku patah mendengar pengakuannya. Namun tetap kupaksakan senyumku, tak peduli mungkin terlihat aneh dan tidak tulus. Tapi aku bisa apa, aku tak bisa sepenuhnya membohongi perasaanku sendiri. Namun tetap kuusahakan air mata ini tidak luruh. Aku bukanlah siapa-siapanya lagi. Aku hanya wanita yang berstatus mantan istri yang diam-diam masih menyimpan rasa untuknya. Pria yang tak pantas dimiliki wanita ternoda seperti diriku ini. "Oh ... kapan? Kok tidak ada kabarnya ...."Suaraku bergetar. Ya Tuhan, selemah itulah aku. Dulu, saat Mas Dimas tak pernah menyentuhku. Aku seringkali menangis dimalam-malam sepi. Namun aku sadar diri, hanyalah wanita kotor yang sudah sangat bersyukur dibantu menutup aib olehnya. Lalu saat Mas Dimas menceraikanku, seminggu penuh aku menangisi kepergiannya. Kini, dia datang lagi memperkenalkan istri barunya kepadaku. Tak tahukah ia? Betapa hatiku masih miliknya sampai detik ini. "Kami sudah menikah dua tahun lalu." Kali ini wanita itu yang menjawab. Mas Dimas nampak melempar protes melalui matanya tapi wanita itu acuh dan kini menunjukkan wajah ketusnya. Kucoba mencerna jawabannya dalam diamku. Apa maksudnya mereka menikah dua tahun lalu? "Mas Dimas menikahiku sebulan kemudian setelah menikah denganmu. Aku yang mengandung anaknya hanya dinikahi siri. Sementara kamu yang mengandung benih orang lain dinikahi secara resmi." Wanita itu menatap tajam tak peduli Mas Dimas yang memprotesnya. Kutatap wajah tampan yang selama ini kurindukan dimalam-malamku. Ia nampak salah tingkah dan menunjukkan penyesalannya. Lalu aku? Apakah aku berhak marah padanya? "Maaf, Nai ... aku ... sudah tidak setia pada hubungan kita." Pria itu menunduk dalam. "Buat apa kamu minta maaf, Mas. Toh dia juga hamil dengan laki-laki lain ... masih untung kamu mau membantunya menutupi aib." Sepertinya Nadia menyimpan rasa benci yang begitu dalam kepadaku. Lagi-lagi ... aku bertanya dalam hati. Apakah aku berhak marah atas semua ini? "Nad ... kita sudah sepakat bicara baik-baik tadi." Mas Dimas terlihat jengah melihat sikap istrinya. Aku masih diam dengan mata yang mendadak berkabut. Namun kutahan sekuat tenaga, aku tidak ingin menangis didepan mereka. "Maaf, Nai ... aku hanya ingin kamu tidak mendengarnya dari orang lain. Untuk itu aku datang untuk mengakui dosa-dosaku padamu ... bahwa aku bukan malaikat penolong seperti yang selama ini kamu pikirkan." "Aku hanya pria b******k yang sudah mengkhianati hubungan kita. Aku melakukan itu untuk menebus kesalahanku padamu ...," ucapnya sendu yang ditanggapi jengah wanita berstatus istrinya. Aku harus bicara apa? Aku kehilangan semua kata-kataku detik itu juga ... hanya satu buliran bening yang akhirnya lolos tanpa ijin dan membuat diri ini semakin terlihat bodoh. "Aku juga berharap ... kamu tidak lagi merasa bersalah padaku dan ... berbahagialah, Nai ... aku benar-benar minta maaf ...," lanjutnya bersungguh-sungguh. Sementara bibirku masih kelu untuk berucap. Lagipula aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya, laki-laki kedua yang menorehkan goresan luka dihatiku. Kehadiran Mandala yang menyuguhkan minuman menginterupsi keheningan diantara kami. Aku bisa melihat Dimas mengamati sosok yang baru dilihatnya itu. Aku tahu apa yang dipikirkannya, seperti apa yang orang lain akan pikirkan begitu melihat parasnya yang serupa dengan putraku. "Nai ...?" Dimas menatapku, melempar tanya melalui netranya. Aku mengangguk begitu saja tanpa ekspresi yang berarti. "Kenalkan ... dia ... ayah dari anakku ... sekaligus calon suamiku ...." Entah setan mana yang membisikiku untuk berkata demikian dan aku tak peduli ekspresi keterkejutan yang mereka tunjukkan. Aku hanya ... manusia biasa yang punya rasa sakit hati. Meski entah ... apakah wanita ternoda ini berhak untuk itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN